Ubisoft PHK 380 Karyawan dan Tutup Dua Studio, Industri Game Global Masuki Fase Konsolidasi Baru

Ubisoft

Headlineid.com – Kabar duka kembali menyelimuti industri game global. Publisher game raksasa asal Prancis, Ubisoft, dilaporkan kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang berdampak pada ratusan pegawai di berbagai negara.

Gelombang restrukturisasi terbaru ini menyebabkan sekitar 380 karyawan kehilangan pekerjaan dan berujung pada penutupan permanen dua studio pengembangan game milik perusahaan. Langkah tersebut menambah daftar panjang efisiensi yang dilakukan Ubisoft dalam beberapa tahun terakhir.

Informasi ini mencuat setelah memo internal perusahaan bocor dan dipublikasikan oleh Insider Gaming. Restrukturisasi disebut menyasar studio Ubisoft di Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, dan Serbia.

Fakta Utama

  • Ubisoft melakukan PHK terhadap sekitar 380 karyawan global.
  • Dua studio ditutup permanen, yakni Ubisoft Belgrade dan Ubisoft Winnipeg.
  • Lebih dari 150 pegawai Ubisoft Montreal dipindahkan ke proyek lain.
  • Ubisoft telah memangkas lebih dari 5.000 posisi dalam beberapa tahun terakhir.
  • Jumlah karyawan global Ubisoft kini diperkirakan tersisa sekitar 15.000 orang.

Mengapa Ubisoft Kembali Melakukan PHK?

Keputusan PHK ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, Ubisoft menghadapi tekanan besar akibat perubahan tren industri game, meningkatnya biaya produksi, serta persaingan ketat antar publisher global.

Perusahaan beralasan bahwa langkah efisiensi dilakukan untuk menyederhanakan operasional, mengurangi biaya overhead, dan memperkuat fondasi bisnis jangka panjang.

Strategi tersebut sebenarnya bukan hal baru di industri game. Banyak perusahaan besar tengah memasuki fase konsolidasi setelah lonjakan pertumbuhan selama pandemi COVID-19 mereda.

Data industri menunjukkan bahwa sejak 2023 hingga 2026, puluhan ribu pekerja industri game di seluruh dunia telah terdampak PHK. Kondisi ini mencerminkan perubahan besar dalam model bisnis pengembangan game modern yang semakin mahal dan berisiko tinggi.

Baca Juga  Xbox Dikabarkan PHK Besar-Besaran, Microsoft Evaluasi Total Bisnis Gaming di Tengah Krisis Profitabilitas

Dua Studio Ubisoft Resmi Ditutup

Gelombang restrukturisasi terbaru berdampak langsung pada empat lokasi penting Ubisoft.

Ubisoft Belgrade Ditutup Total

Studio Ubisoft Belgrade di Serbia resmi ditutup sepenuhnya. Penutupan ini menyebabkan sekitar 100 pekerja kehilangan pekerjaan.

Didirikan pada 2016, studio ini dikenal berkontribusi dalam pengembangan sejumlah judul populer seperti The Crew 2, Rainbow Six, Riders Republic, dan Skull & Bones.

Penutupan studio tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai arah pengembangan proyek Ubisoft ke depan, terutama untuk game layanan langsung atau live service.

Ubisoft Winnipeg Juga Tutup Permanen

Nasib serupa dialami Ubisoft Winnipeg di Kanada. Studio yang berdiri pada 2018 ini berfokus pada pengembangan teknologi game engine internal Ubisoft, termasuk Anvil dan Snowdrop.

Sebanyak 65 pegawai terdampak langsung oleh keputusan tersebut.

Padahal, keberadaan studio teknologi seperti Winnipeg sangat penting karena menjadi tulang punggung pengembangan berbagai game besar Ubisoft.

Barcelona dan San Francisco Kena Imbas

Selain penutupan studio, Ubisoft juga melakukan pengurangan pegawai di sejumlah lokasi lainnya.

Ubisoft Barcelona di Spanyol mengalami pemangkasan 51 posisi. Sementara kantor pusat regional di San Francisco, Amerika Serikat, juga terdampak, meski jumlah pasti pegawai yang terkena PHK belum diumumkan ke publik.

Ubisoft Montreal Rombak Struktur Tim

Restrukturisasi tidak hanya menyasar pemutusan hubungan kerja. Ubisoft juga melakukan reposisi besar-besaran terhadap sumber daya manusianya.

Lebih dari 150 karyawan di Ubisoft Montreal dipindahkan dari proyek sebelumnya ke proyek lain yang dinilai lebih strategis.

Baca Juga  EVOS is Back! Strategi Ala Filipina Bikin Macan Putih Menggila, Siap Kudeta DEWA United di MPL ID S17

Para pegawai tersebut sebelumnya menangani pengembangan Rainbow Six Siege, Rainbow Six Siege Mobile, dan beberapa proyek rahasia yang belum diumumkan.

Langkah ini menunjukkan bahwa Ubisoft tengah mengalihkan fokus investasi ke proyek yang dianggap memiliki potensi komersial lebih tinggi.

Dalam industri game modern, reposisi semacam ini sering dilakukan untuk menjaga efisiensi dan mempercepat pengembangan produk prioritas.

Masa Sulit Kreator Assassin’s Creed

Ubisoft selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu publisher terbesar di dunia berkat franchise legendaris seperti Assassin’s Creed, Prince of Persia, dan seri Tom Clancy’s.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Sejumlah proyek ambisius terpaksa dibatalkan demi efisiensi biaya. Beberapa judul yang sebelumnya diumumkan ke publik bahkan tidak pernah mencapai tahap peluncuran.

Di antaranya adalah Tom Clancy’s The Division Heartland, Immortals Fenyx Rising 2, serta sejumlah proyek rahasia lainnya.

Fenomena ini menunjukkan perubahan strategi Ubisoft yang kini lebih selektif dalam mengembangkan game baru.

Alih-alih mengejar kuantitas, perusahaan tampaknya mulai memprioritaskan proyek dengan peluang keuntungan yang lebih tinggi.

Apa Dampaknya bagi Industri Game Global?

PHK massal di Ubisoft bukan sekadar persoalan internal perusahaan. Peristiwa ini menjadi sinyal penting bagi industri game global.

Biaya pengembangan game AAA saat ini terus meningkat. Beberapa proyek bahkan membutuhkan investasi ratusan juta dolar dengan waktu produksi mencapai lima hingga tujuh tahun.

Di sisi lain, perilaku pemain juga berubah. Gamer kini lebih selektif dan cenderung bertahan pada game layanan langsung yang sudah mapan.

Baca Juga  Xbox Dikabarkan PHK Besar-Besaran, Microsoft Evaluasi Total Bisnis Gaming di Tengah Krisis Profitabilitas

Akibatnya, publisher menghadapi tekanan besar untuk menghasilkan produk sukses dalam waktu singkat.

Analis industri menilai fase konsolidasi ini kemungkinan masih akan berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. Studio yang tidak mampu beradaptasi berisiko mengalami restrukturisasi serupa.

Bagi para pengembang game, kondisi ini menjadi pengingat bahwa kreativitas saja tidak cukup. Model bisnis yang berkelanjutan kini menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan industri.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Berdasarkan berbagai laporan industri, Ubisoft kini diperkirakan memiliki sekitar 15.000 pegawai secara global. Angka tersebut turun drastis dibanding masa kejayaannya yang pernah melampaui 20.000 karyawan.

Artinya, lebih dari 5.000 posisi telah dipangkas dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi para pengamat industri, langkah ini bisa menjadi titik balik bagi Ubisoft. Restrukturisasi memang berpotensi memperkuat kesehatan finansial perusahaan, tetapi di sisi lain juga membawa risiko hilangnya talenta dan inovasi.

Ke depan, keberhasilan Ubisoft akan sangat ditentukan oleh kemampuan mereka menghadirkan game berkualitas tinggi sekaligus menjaga efisiensi operasional.

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, masa depan publisher asal Prancis tersebut kini menjadi sorotan dunia. Bagi pelaku industri dan gamer, perkembangan ini menjadi indikator penting arah baru bisnis game global yang tengah berubah cepat.

Sebagai media yang konsisten memantau perkembangan teknologi dan industri kreatif digital, Headline Indonesia menilai gelombang PHK di Ubisoft merupakan cerminan perubahan fundamental industri game modern, di mana keberlanjutan bisnis kini menjadi faktor yang sama pentingnya dengan inovasi. (frend/masson)

tingkat bounce rata-rata situs web