Seteguk Asa dari Gendongan Surati: Ketika Jamu Menjadi Ikhtiar Merawat Kehidupan dan Menjaga Ingatan Bangsa

Pagi di Pacitan selalu datang dengan cara yang tenang. Matahari tidak serta-merta menaklukkan langit, melainkan perlahan menyibakkan gelap yang tersisa di antara pepohonan dan atap-atap rumah warga. Udara masih menyimpan sisa dingin malam, sementara embun menggantung di ujung daun seperti butiran waktu yang belum ingin jatuh.

Di saat sebagian orang masih mempersiapkan diri memulai hari, seorang perempuan telah lebih dulu menapaki jalan-jalan kecil kota. Langkahnya tidak tergesa. Di pundaknya tergantung gendongan berisi botol-botol jamu yang sesekali beradu pelan, menghasilkan bunyi nyaris seperti irama kehidupan yang sederhana.

Perempuan itu bernama Surati.

Bagi sebagian warga Pacitan, ia hanyalah penjual jamu gendong yang saban pagi berkeliling menawarkan ramuan tradisional. Namun bagi mereka yang mau berhenti sejenak dan mendengarkan kisahnya, Surati adalah wajah lain dari keteguhan manusia dalam mempertahankan harapan di tengah perubahan zaman.

Di balik botol-botol berisi kunyit asam, beras kencur, temulawak, dan berbagai ramuan tradisional lainnya, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, warisan budaya, serta filosofi hidup yang semakin jarang ditemukan di era serba instan.

Merantau untuk Bertahan

Surati lahir pada tahun 1983 di Karanganyar, Jawa Tengah. Seperti banyak orang yang lahir dari keluarga sederhana, hidup mengajarinya sejak dini bahwa rezeki bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia harus dicari, diperjuangkan, dan sering kali dikejar dengan pengorbanan.

“Awalnya saya jualan di Bogor, keliling jalan kaki,” tuturnya saat ditemui di Posko Media Timur Pendopo.

Kalimat itu terdengar biasa. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih bertahan ketika keadaan tidak berpihak.

Ketika penghasilan keluarga tidak menentu dan suami bekerja serabutan, Surati menemukan jalan hidupnya melalui jamu. Ia tidak memiliki modal besar, tidak memiliki toko, apalagi jaringan pemasaran modern. Yang ia miliki hanyalah kemampuan meracik ramuan warisan keluarga dan keyakinan bahwa selama tubuh masih sehat, kehidupan harus terus diperjuangkan.

Baca Juga  Netanyahu Dukung Trump Tekan Iran, Israel Desak Penghapusan Material Nuklir Teheran

Dalam filsafat Jawa dikenal sebuah ajaran sederhana: urip iku urup—hidup adalah memberi nyala.

Nyala itu mungkin tidak besar. Tidak harus menjadi cahaya yang menerangi dunia. Cukup menjadi api kecil yang membuat kehidupan tetap hangat.

Dan bagi Surati, nyala itu hadir dalam setiap botol jamu yang ia racik dengan tangannya sendiri.

Jamu dan Ingatan Kolektif Bangsa

Pada tahun 2023, Surati memutuskan hijrah ke Pacitan. Kota pesisir di selatan Jawa itu menjadi halaman baru dalam perjalanan hidupnya.

Di tempat yang baru, ia kembali memulai dari awal.

Setiap pagi, ia menyusuri gang-gang dan jalanan kota dengan membawa jamu gendong. Beras kencur yang hangat, kunyit asam yang menyegarkan, temulawak yang pahit namun menyehatkan, hingga ramuan khusus untuk membantu mengurangi keluhan asam urat.

“Semua keluarga besar saya memang jualan jamu seperti ini,” ujarnya.

Pernyataan itu menyiratkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar profesi.

Jamu sesungguhnya bukan hanya minuman tradisional. Ia adalah bentuk pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebelum hadirnya laboratorium modern, masyarakat Nusantara telah mengenal berbagai tanaman obat dan memahami manfaatnya melalui pengalaman panjang selama berabad-abad.

Setiap racikan adalah hasil dialog antara manusia dan alam.

Kunyit, temulawak, jahe, kencur, dan berbagai rempah lain tidak hanya tumbuh di tanah Nusantara, tetapi juga tumbuh dalam kebudayaan masyarakatnya. Mereka menjadi bagian dari cara hidup, cara menjaga kesehatan, bahkan cara memahami hubungan manusia dengan alam semesta.

Baca Juga  Kabupaten Pacitan Terima 2.737 Unit Program BSPS 2026, Ribuan Rumah Warga Akan Direhab

Dalam perspektif filsafat lingkungan, manusia tidak hidup terpisah dari alam. Kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit, melainkan terciptanya keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan lingkungan tempat manusia berpijak.

Jamu lahir dari kesadaran itu.

Ia mengajarkan bahwa tubuh tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit untuk tetap sehat. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kembali mendengarkan kebijaksanaan alam.

Melawan Lupa di Tengah Zaman yang Berlari

Dunia modern bergerak sangat cepat.

Minuman kemasan hadir dengan berbagai rasa dan strategi pemasaran. Teknologi membuat segala sesuatu dapat diperoleh hanya melalui sentuhan layar. Generasi muda tumbuh dalam budaya yang serba instan dan praktis.

Di tengah arus besar itu, profesi seperti yang dijalani Surati perlahan menjadi langka.

Namun justru karena kelangkaannya, kehadiran Surati menjadi penting.

Ia bukan sekadar menjual jamu. Ia sedang melawan lupa.

Lupa terhadap pengetahuan leluhur.

Lupa terhadap akar budaya.

Lupa terhadap cara hidup yang lebih dekat dengan alam.

Setiap langkah yang ia tempuh dari satu gang ke gang lainnya sesungguhnya adalah perjalanan menjaga memori kolektif bangsa agar tidak hilang ditelan zaman.

Mungkin itulah sebabnya banyak pelanggan tetap memilih membeli jamunya. Bukan semata-mata karena khasiat yang dipercaya terkandung di dalamnya, tetapi karena ada rasa kedekatan dengan sesuatu yang autentik dan manusiawi.

Sesuatu yang tidak bisa diproduksi massal oleh mesin.

Filosofi Ketahanan dalam Gendongan Sederhana

Untuk mempertahankan usahanya, Surati masih mendatangkan sebagian bahan baku dari Karanganyar. Ketika stok menipis, ia membeli rempah-rempah di pasar-pasar Pacitan meski harus mengeluarkan biaya lebih besar.

“Yang penting tetap bisa jualan. Alhamdulillah buat tambal sulam kebutuhan,” katanya lirih.

Ucapan itu mengandung pelajaran yang mendalam.

Di era ketika kesuksesan sering diukur dengan angka besar, Surati mengajarkan definisi lain tentang keberhasilan. Bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi kaya atau terkenal. Terkadang, keberhasilan adalah kemampuan untuk tetap berdiri ketika keadaan sulit.

Baca Juga  Setda Kabupaten Magelang Kunjungi Pacitan untuk Bertukar Pengalaman dan Praktik Baik

Kemampuan untuk tetap bersyukur meski hasil yang diperoleh tidak seberapa.

Kemampuan untuk tetap melangkah meski jalan terasa panjang.

Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche pernah menulis bahwa mereka yang memiliki alasan kuat untuk hidup akan mampu menghadapi hampir segala keadaan.

Surati tampaknya memahami makna itu tanpa harus membacanya dari buku-buku filsafat.

Alasan hidupnya sederhana: keluarga, keberlangsungan hidup, dan keyakinan bahwa pekerjaan yang dijalani dengan jujur akan selalu memiliki nilai.

Seteguk Harapan dari Lorong-Lorong Pacitan

Ketika pagi terus beranjak siang dan jalanan kota semakin ramai, Surati masih berjalan dengan gendongan di pundaknya. Botol-botol jamu itu sesekali berbunyi pelan mengikuti langkahnya.

Bunyi sederhana yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.

Namun sesungguhnya, di sanalah cerita tentang ketahanan manusia sedang ditulis.

Bukan melalui pidato besar.

Bukan melalui panggung megah.

Melainkan melalui langkah kaki seorang perempuan yang memilih terus berjalan, membawa warisan leluhur, dan merawat harapan seteguk demi seteguk.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh modernitas, Surati mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Sebaliknya, masa depan yang kokoh justru dibangun oleh mereka yang mampu menjaga akar tradisinya.

Dan selama masih ada orang-orang seperti Surati yang setia meracik jamu dari tangan-tangan sederhana, selama itu pula cerita tentang kearifan Nusantara akan terus hidup, mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti ramuan hangat yang menguatkan tubuh dan menenangkan jiwa. (frend/yun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

tingkat bounce rata-rata situs web