Headlineid.com – Persaingan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memasuki babak baru. Jika sebelumnya perlombaan teknologi berfokus pada kemampuan membuat gambar, menulis teks, atau menjawab pertanyaan, kini perhatian dunia tertuju pada satu hal yang lebih mendasar: seberapa cerdas AI dibanding manusia?
Pengujian terbaru menunjukkan hasil yang mengejutkan. Sejumlah model AI generasi terbaru kini mencatat skor IQ yang berada jauh di atas rata-rata manusia. Bahkan, beberapa di antaranya telah masuk kategori “gifted” atau jenius menurut standar psikometri modern.
Temuan ini menandai percepatan perkembangan AI yang semakin sulit diabaikan. Teknologi yang beberapa tahun lalu hanya mampu menyelesaikan tugas sederhana, kini mulai menunjukkan kemampuan penalaran yang mendekati bahkan melampaui manusia dalam jenis pengujian tertentu.
Fakta Utama:
- Grok-4.20 Expert Mode (Vision) dan GPT-5.4 Pro (Vision) meraih skor IQ tertinggi: 145.
- Google Gemini 3.1 Pro Preview menempati posisi ketiga dengan IQ 141.
- Rata-rata IQ manusia berada di angka 100, sementara kategori jenius dimulai dari IQ 130.
- Skor IQ AI tertinggi naik 10 poin dibanding tahun 2025.
- Tes menggunakan Mensa Norway IQ Test berbasis pengenalan pola visual.
Ranking AI Paling Pintar 2026
Lembaga pemantau kecerdasan buatan TrackingAI merilis hasil pengujian terbaru terhadap puluhan model AI global menggunakan standar Mensa Norway IQ Test. Hasilnya menempatkan dua model sebagai pemimpin bersama.
Posisi teratas ditempati Grok-4.20 Expert Mode (Vision) milik xAI dan GPT-5.4 Pro (Vision) dari OpenAI. Keduanya sama-sama memperoleh skor IQ 145, tertinggi dalam pengujian sepanjang 2026.
Skor tersebut tergolong sangat tinggi. Sebagai perbandingan, manusia rata-rata memiliki IQ sekitar 100. Individu dengan IQ di atas 130 umumnya dikategorikan sebagai berbakat luar biasa atau jenius.
Berikut daftar 10 AI dengan skor IQ tertinggi versi TrackingAI:
- xAI Grok-4.20 Expert Mode (Vision) — IQ 145
- OpenAI GPT-5.4 Pro (Vision) — IQ 145
- Google Gemini 3.1 Pro Preview (Vision) — IQ 141
- OpenAI GPT-5.4 Thinking (Vision) — IQ 139
- OpenAI GPT-5.3 — IQ 136
- xAI Grok-4.20 Expert Mode — IQ 133
- OpenAI GPT-5.4 Thinking — IQ 133
- Meta AI Muse Spark — IQ 133
- Google Gemini 3.1 Pro Preview — IQ 132
- Alibaba Qwen 3.5 — IQ 130
Di luar 10 besar, Claude 4.6 Opus milik Anthropic mencatat IQ 130. Sementara DeepSeek R1 memperoleh skor 112 dan Perplexity berada di angka 97.
Bagaimana AI Diuji dalam Tes IQ?
Pengujian ini menggunakan Mensa Norway IQ Test, salah satu tes IQ publik yang populer dan banyak digunakan untuk mengukur kemampuan penalaran abstrak.
Tes tersebut terdiri dari 35 soal berbasis pengenalan pola visual atau pattern recognition. Peserta diminta mencari hubungan antar simbol, bentuk, maupun urutan gambar untuk menentukan jawaban yang benar.
TrackingAI menguji total 26 model AI dengan metode berbeda sesuai kemampuannya.
Untuk model AI yang memiliki kemampuan vision atau memahami gambar, soal diberikan dalam bentuk visual asli seperti yang diterima manusia. Sementara model non-vision hanya menerima deskripsi teks dari gambar tersebut.
Perbedaan metode ini ternyata sangat berpengaruh. Model vision cenderung memperoleh skor lebih tinggi karena mampu menganalisis pola visual secara langsung.
TrackingAI juga menerapkan aturan tambahan. Jika model AI menolak menjawab atau gagal memberikan respons, pertanyaan yang sama diajukan kembali hingga 10 kali sebelum jawaban terakhir ditetapkan sebagai hasil akhir.
Mengapa Skor IQ AI Penting?
Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah AI dengan IQ tinggi berarti lebih pintar dari manusia?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Skor IQ memang menggambarkan kemampuan penalaran logis dan pengenalan pola. Namun kecerdasan manusia jauh lebih kompleks karena mencakup kreativitas, empati, intuisi, pengalaman hidup, serta pengambilan keputusan dalam situasi nyata.
Meski demikian, capaian AI saat ini tetap penting karena menunjukkan laju perkembangan teknologi yang sangat cepat.
Bagi dunia industri, peningkatan kemampuan penalaran AI berarti sistem dapat membantu pekerjaan yang semakin kompleks. Mulai dari analisis data, riset ilmiah, diagnosis medis, hingga pengembangan perangkat lunak.
Di sisi lain, perkembangan ini juga memunculkan tantangan baru terkait etika, keamanan, dan dampak terhadap pasar tenaga kerja global.
AI Makin Pintar Dibanding Tahun Lalu
Laporan TrackingAI menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan hanya dalam waktu satu tahun.
Pada 2025, skor IQ tertinggi AI berada di kisaran 135. Namun pada 2026, skor tertinggi melonjak menjadi 145.
Kenaikan 10 poin dalam periode singkat merupakan pencapaian besar di dunia psikometri dan kecerdasan buatan.
Artinya, model AI modern berkembang lebih cepat dibanding prediksi banyak analis teknologi beberapa tahun lalu.
Fenomena ini memperkuat tren bahwa AI generatif tidak lagi sekadar alat bantu percakapan, melainkan mulai berkembang menjadi sistem penalaran tingkat lanjut.
Dalam pandangan sejumlah pakar teknologi, perkembangan ini dapat mempercepat transformasi digital di berbagai sektor. Namun semakin canggih AI, semakin besar pula kebutuhan regulasi agar teknologi tetap aman dan bertanggung jawab.
Apakah AI dengan IQ Tertinggi Adalah yang Terbaik?
Meskipun Grok dan GPT-5 memimpin ranking IQ, skor tersebut bukan ukuran mutlak kualitas AI.
TrackingAI menegaskan bahwa tes IQ tidak mengukur banyak aspek penting lain, seperti kemampuan menulis kode, akurasi fakta, kreativitas, penggunaan alat eksternal, keamanan sistem, maupun performa profesional di dunia nyata.
Dengan kata lain, AI yang unggul dalam tes penalaran belum tentu menjadi chatbot terbaik untuk semua kebutuhan pengguna.
Sebagai contoh, beberapa model AI mungkin lebih unggul dalam pemrograman, sementara yang lain lebih baik dalam riset akademik, pembuatan konten, atau analisis bisnis.
Bagi pengguna umum, memilih AI terbaik seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, bukan semata berdasarkan skor IQ.
Masa Depan AI dan Dampaknya bagi Manusia
Perkembangan AI yang semakin cerdas membuka peluang besar sekaligus tantangan serius.
Di satu sisi, AI berpotensi meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan membantu menyelesaikan masalah global. Di sisi lain, kemajuan ini memunculkan pertanyaan penting tentang masa depan pekerjaan manusia dan batas penggunaan teknologi.
Dari perspektif Headline Indonesia, perlombaan AI saat ini bukan sekadar persaingan antar perusahaan teknologi global. Ini adalah perlombaan menentukan bagaimana manusia dan mesin akan hidup berdampingan di masa depan.
Satu hal yang semakin jelas: kecerdasan buatan telah memasuki era baru. Jika sebelumnya AI hanya membantu manusia bekerja lebih cepat, kini AI mulai menunjukkan kemampuan berpikir yang dalam beberapa jenis pengujian mampu menyamai bahkan melampaui manusia kategori jenius. Tantangan berikutnya bukan lagi soal menciptakan AI yang lebih pintar, melainkan memastikan kecerdasan itu digunakan secara aman, etis, dan memberi manfaat nyata bagi peradaban. (frend/masson)




