PACITAN, HEADLINE INDONESIA – Konflik antara manusia dan satwa liar di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, semakin mengkhawatirkan. Berbagai cara yang dilakukan warga bersama pemerintah untuk menghalau kawanan monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis belum membuahkan hasil.
Setelah pemasangan pita reflektor tidak efektif, percobaan menggunakan replika ular karet yang diharapkan dapat menakuti monyet juga gagal. Kawanan satwa tersebut tetap datang bergerombol dan merusak tanaman milik warga hampir setiap hari.
Fakta Utama
- Sedikitnya tujuh desa di Kecamatan Donorojo terdampak serangan monyet ekor panjang.
- Upaya menggunakan pita reflektor dan ular karet tidak berhasil mengusir monyet.
- Ratusan monyet terlihat berkeliaran di area pertanian sejak pagi hingga siang hari.
- Petani mulai membiarkan lahan kosong karena sering gagal panen.
- Belum ada langkah penanganan jangka panjang yang pasti dari pihak terkait.
Upaya Pengusiran Berulang Kali Berakhir Gagal
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama warga sempat memasang replika ular karet di sejumlah lahan pertanian pada awal Mei 2026.
Metode tersebut diharapkan dapat menciptakan efek takut sehingga monyet tidak lagi memasuki area pertanian. Namun kenyataan di lapangan jauh dari harapan.
Kawanan monyet tetap berdatangan dalam jumlah besar. Mereka dengan leluasa mencari makan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya.
Sebelumnya, pemasangan pita reflektor di Desa Belah juga tidak memberikan hasil berarti. Satwa liar tersebut tampak sudah terbiasa dengan berbagai upaya pengusiran.
Warga Desa Belah, Mulyati, mengaku monyet kini menjadi pemandangan sehari-hari.
“Sudah tidak takut lagi dengan manusia. Tapi tidak berani mengganggu warung saya,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, sebagian warga mulai menyerah menghadapi kondisi tersebut.
“Akhirnya pada tidak menanam apa-apa, kecuali ada yang mau menunggu ladang tiap hari,” katanya.
Ratusan Monyet Menguasai Area Pertanian
Pantauan di lapangan menunjukkan ratusan monyet berkumpul di kawasan pertanian warga sejak pagi hingga menjelang siang.
Mereka bergerak berkelompok dan berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya. Kondisi ini membuat peluang petani memperoleh hasil panen semakin kecil.
Tidak sedikit warga yang akhirnya memilih menghentikan aktivitas bercocok tanam karena biaya produksi tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Fenomena ini menjadi sinyal serius bahwa konflik manusia dan satwa liar di Pacitan sudah memasuki fase yang membutuhkan penanganan lebih komprehensif.
Tujuh Desa di Donorojo Terdampak
Pemerintah Kecamatan Donorojo mencatat sedikitnya tujuh dari 12 desa telah terdampak serangan monyet ekor panjang.
Komoditas yang menjadi sasaran sangat beragam. Mulai dari padi, jagung, kedelai, kacang tanah, singkong, pisang, hingga kelapa.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada tanaman. Nira kelapa yang sudah ditampung warga pun diminum oleh monyet. Bahkan sejumlah alat penderes mengalami kerusakan.
Di Desa Kalak, kerusakan lahan terjadi di beberapa dusun sekaligus.
Dusun Klepu mengalami kerusakan sekitar 25 hektare, Krajan Kulon sekitar 20 hektare, dan Dusun Bolo mencapai 17 hektare.
Sementara di Desa Sawahan, terutama Dusun Puluhan dan Pindul, populasi monyet diperkirakan mencapai 200 hingga 300 ekor.
Akibatnya, hampir tidak ada tanaman yang tersisa.
Kerusakan serupa juga dilaporkan terjadi di Desa Gendaran, Donorojo, Sendang, dan Cemeng dengan luas lahan terdampak antara empat hingga sepuluh hektare.
Tidak Hanya Merugikan Petani
Camat Donorojo Bagus Nurcahyadi Saputro mengatakan konflik dengan monyet ekor panjang kini tidak lagi terbatas pada sektor pertanian.
Menurutnya, aktivitas masyarakat juga mulai terganggu dan terdapat potensi ancaman keselamatan bagi warga.
“Keberadaan monyet jenis Macaca fascicularis telah menimbulkan dampak kerusakan lahan pertanian warga, gangguan terhadap aktivitas masyarakat serta potensi ancaman keselamatan warga, khususnya anak-anak dan petani,” katanya.
Bagus mengakui kerugian ekonomi belum dihitung secara rinci.
Namun dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kerugian secara nominal memang belum dihitung rinci. Tapi dampaknya siklus tanam terganggu sehingga potensi panen hilang,” jelasnya.

Mengapa Populasi Monyet Meningkat?
Hasil kajian sementara menunjukkan perubahan bentang alam menjadi salah satu penyebab meningkatnya konflik manusia dengan satwa liar.
Pembangunan infrastruktur, alih fungsi lahan, berkurangnya sumber pakan alami, serta minimnya predator diduga membuat populasi monyet terkonsentrasi dan keluar dari habitatnya.
Secara ekologis, kondisi tersebut memang lazim terjadi.
Ketika ruang hidup satwa menyempit, mereka akan mencari sumber makanan baru yang paling mudah dijangkau. Dalam kasus Donorojo, lahan pertanian warga menjadi pilihan utama.
Pengamat konservasi menyebut konflik semacam ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan metode pengusiran sederhana.
Pendekatan jangka panjang yang berbasis ekosistem justru menjadi kunci.
Status Tidak Dilindungi, Tetapi Solusi Masih Mengambang
Kepala Resort Konservasi Wilayah 06 BBKSDA Jawa Timur, Ganes Pramundito, sebelumnya menjelaskan bahwa monyet ekor panjang bukan termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018.
Menurutnya, salah satu solusi jangka panjang yang memungkinkan adalah menyediakan sumber pakan alami melalui penanaman pohon tertentu.
“Penanganan jangka panjang bisa dilakukan dengan penanaman tanaman sumber pakan monyet,” katanya.
Namun hingga kini belum ada kepastian mengenai langkah cepat untuk mengurangi serangan yang terus terjadi.
“Nanti dilihat dulu perkembangannya,” ujarnya.
Padahal Pemerintah Kecamatan Donorojo telah mengirim surat permohonan penanganan kepada BBKSDA Jawa Timur sejak 9 April 2026.
Survei lapangan dilakukan lima hari kemudian di Desa Belah. Namun hingga lebih dari dua bulan berlalu, tindak lanjut yang signifikan belum terlihat.
“Pihak BKSDA masih menunggu arahan dari pimpinan,” kata Bagus.
Solusi Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Pengusiran
Jika kondisi ini terus dibiarkan, ancaman kehilangan produktivitas pertanian di Donorojo semakin besar.
Selain kerugian ekonomi, fenomena tersebut dapat memicu perubahan sosial karena warga kehilangan semangat untuk mengelola lahannya.
Menurut penilaian penulis, persoalan ini membutuhkan langkah lintas sektor.
Pemerintah daerah, BBKSDA, akademisi, serta kelompok masyarakat perlu menyusun peta konflik satwa liar secara menyeluruh.
Inventarisasi populasi monyet, rehabilitasi habitat, penanaman pohon pakan, hingga kemungkinan relokasi pada area tertentu perlu dipertimbangkan berdasarkan kajian ilmiah.
Sebab masalah ini bukan lagi sekadar gangguan musiman, melainkan telah berkembang menjadi ancaman terhadap ketahanan pangan masyarakat pedesaan.
Apa yang terjadi di Donorojo menunjukkan bahwa konflik manusia dan satwa liar semakin nyata. Berbagai cara sederhana seperti pita reflektor dan ular karet terbukti tidak mampu menghentikan serangan monyet ekor panjang.
Mengapa persoalan ini penting? Karena dampaknya tidak hanya berupa kerusakan tanaman, tetapi juga mengancam mata pencaharian petani dan keberlanjutan sektor pertanian di Pacitan.
Tanpa langkah penanganan yang terukur dan berbasis ekologi, bukan tidak mungkin semakin banyak lahan yang ditinggalkan warga, sementara kawanan monyet terus memperluas wilayah jelajahnya dari hari ke hari. (frend/byan)




