Headlineid.com – Harga rumah terus melonjak. Biaya hidup juga naik hampir setiap tahun. Pada saat yang sama, banyak anak muda merasa pendapatan mereka tidak mampu mengejar kebutuhan tersebut. Kondisi itu memunculkan fenomena baru bernama Doom Spending, yaitu kebiasaan membelanjakan uang untuk memperoleh kebahagiaan sesaat karena masa depan terasa semakin sulit dicapai.
Fenomena ini semakin terlihat di kota-kota besar Indonesia. Banyak pekerja muda lebih memilih membeli pengalaman, menikmati hiburan, atau berbelanja secara impulsif daripada mengejar target finansial jangka panjang. Bukan karena mereka tidak ingin menabung, melainkan karena tujuan tersebut dianggap semakin jauh dari kenyataan.
Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, perubahan perilaku ini bukan sekadar persoalan gaya hidup konsumtif. Di balik setiap transaksi terdapat tekanan psikologis, kecemasan ekonomi, dan rasa lelah yang terus menumpuk akibat ketidakpastian masa depan.
Membeli Pengalaman demi Kebahagiaan Sesaat
Generasi muda kini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Harga properti meningkat jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan. Sementara itu, biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.
Akibatnya, banyak orang mulai mengubah definisi keberhasilan hidup. Jika dahulu membeli rumah menjadi target utama, kini sebagian besar hanya berharap mampu memenuhi kebutuhan dasar tanpa terlilit utang. Kondisi tersebut perlahan mengubah cara mereka menggunakan penghasilan setiap bulan.
Nadya, seorang pekerja kreatif berusia 23 tahun yang tinggal di Jakarta Selatan, mengaku sudah tidak lagi menjadikan rumah sebagai target utama. Menurutnya, impian tersebut terasa terlalu jauh untuk dicapai. Ia bahkan mengatakan target hidupnya kini jauh lebih sederhana. Baginya, menjaga kesehatan lebih penting daripada memaksakan diri mengejar aset yang belum tentu mampu dibeli dalam waktu dekat.
Alasan Pekerja Muda Mengubah Target Hidup
Pandangan seperti ini semakin sering muncul di kalangan pekerja muda perkotaan. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa kehidupan yang lebih mapan. Namun kenyataan ekonomi justru memberikan pengalaman berbeda. Karena itu, sebagian memilih menikmati hasil kerja mereka sekarang daripada terus mengejar target yang terasa tidak realistis.
Alih-alih menabung secara agresif, Nadya lebih sering menggunakan penghasilannya untuk membeli pengalaman. Ia menghadiri konser musik, mencoba restoran baru, hingga melakukan perjalanan singkat saat memiliki waktu luang. Menurutnya, kenangan yang tercipta dari pengalaman tersebut masih bisa dinikmati. Sebaliknya, menunda seluruh kesenangan demi masa depan yang belum pasti justru membuat hidup terasa semakin berat.
Pilihan tersebut memang sering menimbulkan penyesalan ketika melihat saldo rekening berkurang. Namun rasa bersalah itu biasanya hanya berlangsung sementara. Di sisi lain, pengalaman yang diperoleh memberikan kepuasan emosional yang tidak bisa diukur dengan angka.
Fenomena serupa juga dialami banyak pekerja muda lain. Mereka menganggap belanja bukan lagi sekadar aktivitas konsumsi, tetapi hadiah kecil (self-reward) setelah menghadapi tekanan pekerjaan setiap hari. Rasa lelah mental menjadi alasan yang sering muncul. Setelah bekerja mengejar target selama berjam-jam, membeli sesuatu dianggap mampu mengurangi stres meski hanya untuk sementara. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi pola yang berulang. Semakin tinggi tekanan pekerjaan, semakin besar pula dorongan untuk berbelanja.
Belanja Kini Menjadi Cara Mengobati Kecemasan yang Sulit Diungkapkan
Cerita serupa datang dari Sarah, seorang pekerja yang tinggal sendiri jauh dari keluarganya. Ia mengaku sering melakukan pembelian secara impulsif pada malam hari setelah pulang bekerja. Kesunyian di kamar kos menjadi salah satu pemicunya. Aktivitas memilih barang, menunggu paket datang, hingga membuka kiriman memberikan sensasi yang mampu mengalihkan pikirannya dari rasa sepi.
Namun keesokan paginya, penyesalan hampir selalu muncul. Meski demikian, siklus tersebut terus berulang. Sarah mengaku tetap mampu membayar seluruh tagihan tepat waktu sehingga dirinya tidak merasa termasuk orang yang boros. Baginya, belanja hanyalah cara mencari kenyamanan di tengah rutinitas yang melelahkan.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa Doom Spending tidak selalu identik dengan perilaku hidup mewah. Banyak pelakunya justru masih memiliki penghasilan yang cukup stabil. Masalah utamanya berada pada alasan seseorang mengeluarkan uang. Keputusan membeli barang bukan lagi didasarkan kebutuhan, melainkan dorongan emosional.
Perubahan ini juga terlihat pada Shanghita, seorang programmer yang bekerja di Bekasi. Setelah menyelesaikan proyek berat atau mengalami tekanan pekerjaan, ia hampir selalu membuka aplikasi belanja daring. Barang yang dibeli bukan kebutuhan pokok. Ia lebih sering membeli perangkat elektronik, aksesori komputer, maupun perlengkapan kerja dengan harga jutaan rupiah.
Menurut pengakuannya, tindakan tersebut memberikan rasa puas sesaat setelah melewati hari yang melelahkan. Namun kepuasan itu tidak berlangsung lama. Beberapa waktu kemudian muncul keinginan membeli barang lain. Pola tersebut akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Selain tekanan pekerjaan, media sosial ikut memperbesar dorongan konsumsi. Setiap hari pengguna disuguhi video unboxing, ulasan produk, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna. Tanpa disadari, standar kebutuhan seseorang ikut berubah. Barang yang sebelumnya dianggap tidak penting perlahan terasa wajib dimiliki. Keinginan tersebut semakin kuat ketika algoritma media sosial terus menampilkan konten serupa. Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.
Padahal kondisi ekonomi setiap orang tidak selalu mampu mengikuti gaya hidup yang terus dipertontonkan di ruang digital.
Tekanan Psikologis dan Ekonomi Membentuk Pola Konsumsi Baru
Perencana keuangan Rista Zwestika menilai Doom Spending tidak bisa dipahami hanya sebagai kebiasaan boros. Menurutnya, perilaku tersebut merupakan respons emosional terhadap tekanan hidup yang semakin berat. Banyak pekerja muda merasa impian memiliki rumah, dana pensiun, atau kebebasan finansial semakin sulit diwujudkan. Akibatnya, muncul pola pikir sederhana: jika tujuan besar terasa mustahil, mengapa tidak menikmati uang yang tersedia hari ini?
Cara berpikir tersebut memang memberikan rasa lega dalam waktu singkat. Namun, efeknya dapat berlangsung jauh lebih lama dibanding kepuasan yang dirasakan setelah berbelanja. Rista menjelaskan bahwa belanja impulsif berulang berpotensi menggerus kemampuan seseorang membangun dana darurat. Selain itu, kesempatan berinvestasi juga semakin kecil karena sebagian besar pendapatan habis untuk konsumsi.
Pada akhirnya, kondisi itu justru memperkuat rasa cemas yang sejak awal ingin dihindari. Siklus tersebut terus berputar. Seseorang merasa stres, lalu berbelanja untuk mengurangi tekanan. Setelah uang berkurang, muncul kecemasan baru akibat kondisi keuangan yang memburuk.
Karena itu, persoalan Doom Spending tidak dapat diselesaikan hanya dengan nasihat sederhana seperti “lebih rajin menabung.” Menurut Rista, pendekatan tersebut sering gagal karena mengabaikan kondisi nyata yang dihadapi generasi muda. Saat harga kebutuhan pokok meningkat dan biaya tempat tinggal terus naik, ruang untuk menabung menjadi semakin sempit. Banyak pekerja bahkan harus mengalokasikan sebagian besar penghasilannya hanya untuk bertahan hidup.
Selain itu, tekanan sosial ikut memperumit keadaan. Media digital membuat setiap orang mudah membandingkan pencapaiannya dengan orang lain. Bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga kendaraan, gawai, perjalanan wisata, hingga gaya hidup yang dipamerkan setiap hari. Akibatnya, standar keberhasilan berubah secara perlahan. Keberhasilan tidak lagi diukur dari kestabilan keuangan. Sebaliknya, pengakuan sosial sering kali muncul melalui apa yang terlihat di layar media sosial. Dalam situasi seperti itu, dorongan untuk membeli barang menjadi semakin sulit dikendalikan.
Dampak Nyata terhadap Masa Depan dan Mental
Fenomena Doom Spending membawa dampak yang lebih luas dibanding sekadar meningkatnya konsumsi masyarakat. Jika berlangsung dalam waktu panjang, kebiasaan tersebut dapat memperlambat pembentukan aset produktif di kalangan generasi muda. Jumlah tabungan menurun, investasi juga berjalan lebih lambat, sementara ketahanan keuangan keluarga masa depan ikut terancam.
Dampak berikutnya menyentuh aspek psikologis. Ketika seseorang terus menggunakan belanja sebagai pelarian, akar persoalan emosional tidak pernah benar-benar selesai. Stres hanya tertunda, bukan hilang. Pada akhirnya, tekanan finansial dan tekanan mental saling memperkuat.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, melihat fenomena ini dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, konsumsi kini telah berubah fungsi. Belanja tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas tersebut berkembang menjadi mekanisme pelarian emosional ketika seseorang menghadapi ketidakpastian hidup.
Rakhmat menjelaskan bahwa masyarakat perkotaan sering memberikan penilaian berdasarkan simbol konsumsi. Pakaian, telepon genggam, tempat nongkrong, hingga pengalaman liburan menjadi bagian dari identitas sosial. Akibatnya, banyak orang merasa harus mengikuti standar tersebut agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitarnya. Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi dan budaya konsumsi saling berkaitan. Selama tekanan sosial terus meningkat, dorongan membeli sesuatu demi memperoleh validasi juga akan tetap muncul.
Solusi Lintas Sektor untuk Memutus Siklus
Karena itu, solusi tidak cukup hanya berasal dari individu. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan platform digital juga memiliki tanggung jawab membangun ekosistem yang lebih sehat. Literasi keuangan perlu diperkuat sejak usia muda. Namun, kesempatan memperoleh pekerjaan layak dan pendapatan yang lebih baik juga harus terus diperluas. Di sisi lain, platform media sosial perlu lebih bertanggung jawab terhadap budaya konsumsi yang dibentuk algoritma mereka.
Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan baru sebelum mengambil keputusan membeli sesuatu. Rista menyarankan adanya jeda minimal 24 jam sebelum melakukan pembelian di luar kebutuhan pokok. Cara sederhana tersebut memberi kesempatan bagi otak untuk berpikir lebih rasional.
Selain itu, ia mendorong pekerja muda tetap menyediakan anggaran hiburan sekitar lima hingga sepuluh persen dari penghasilan bulanan. Pendekatan ini dinilai lebih realistis. Seseorang tetap dapat menikmati hidup tanpa harus mengorbankan seluruh kondisi keuangannya. Self-reward tetap diperlukan, namun aktivitas tersebut harus berada dalam batas yang telah direncanakan. Dengan demikian, kebahagiaan hari ini tidak menghilangkan kesempatan membangun masa depan.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Fenomena Doom Spending seharusnya tidak dipandang sebagai kesalahan pribadi generasi muda. Kebiasaan tersebut lahir dari gabungan tekanan ekonomi, perubahan budaya, serta ketidakpastian yang terus membayangi kehidupan masyarakat perkotaan. Ketika harga rumah melampaui kemampuan membeli, biaya hidup terus naik, dan pekerjaan semakin kompetitif, harapan jangka panjang perlahan bergeser menjadi kebutuhan memperoleh ketenangan hari ini.
Meski demikian, keadaan tersebut bukan alasan untuk menyerah terhadap masa depan. Literasi keuangan yang lebih baik, peningkatan keterampilan, serta pengelolaan emosi menjadi bekal penting agar generasi muda mampu keluar dari lingkaran konsumsi impulsif.
Pada saat yang sama, kebijakan ekonomi yang berpihak pada akses hunian, kesempatan kerja, dan peningkatan daya beli akan menjadi penentu apakah Doom Spending hanya menjadi tren sesaat atau berubah menjadi wajah baru perilaku konsumsi masyarakat Indonesia dalam satu dekade mendatang. Itulah sebabnya, fenomena ini layak menjadi perhatian bersama. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya isi dompet, melainkan juga optimisme sebuah generasi dalam memandang masa depannya.
Editor : Masson




