PACITAN, HEADLINE INDONESIA-Sore itu, langit di perbukitan Pacitan tampak teduh. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyelinap di sela-sela pepohonan, menciptakan gradasi hijau yang memanjakan mata. Kendaraan yang membawa rombongan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melaju perlahan di jalur Solo–Pacitan.
Tak ada yang menduga, perjalanan pulang kampung itu tiba-tiba terhenti.
Di sebuah tikungan kawasan Dadapan, tepatnya di Pengkolan Sekar Arum, perhatian SBY tertambat pada hamparan hutan yang berdiri kokoh di lereng perbukitan. Bukan sekadar pemandangan biasa, tetapi lanskap yang seolah memanggil naluri seninya.
“Berhenti sebentar.”
Begitulah kira-kira keputusan spontan yang mengubah perjalanan biasa menjadi sebuah momen artistik yang sulit dilupakan.
Bagi banyak orang, hutan itu mungkin hanya deretan pepohonan yang menghiasi perjalanan menuju Pacitan. Namun bagi SBY, setiap lekuk bukit, cahaya yang menembus dedaunan, serta perpaduan warna hijau yang bertingkat adalah komposisi alam yang layak diabadikan dalam sebuah lukisan.
Tanpa tergesa, perlengkapan melukis pun disiapkan. Kanvas dibentangkan. Kuas dan cat mulai ditata. Di tepi jalan yang menghadap hamparan hutan Dadapan, Presiden ke-6 RI itu kembali menunjukkan sisi dirinya yang selama beberapa tahun terakhir semakin dikenal publik: seorang pelukis yang menemukan ketenangan dalam bentang alam.
Keheningan perlahan menyelimuti lokasi. Hanya terdengar desir angin yang menggerakkan dedaunan serta sesekali suara kendaraan yang melintas.
SBY berdiri di depan kanvas dengan penuh konsentrasi. Tatapannya bergantian mengarah ke hamparan hutan dan kembali ke bidang putih yang perlahan berubah menjadi karya seni.
Sapuan demi sapuan kuas mulai membentuk garis bukit. Warna hijau tua dipadukan dengan hijau muda, sementara cahaya sore diterjemahkan menjadi semburat kekuningan yang memperkuat kesan hidup pada lukisan tersebut.
Mereka yang ikut dalam rombongan larut dalam suasana.
Tak seorang pun ingin mengganggu proses kreatif itu. Semua memilih menjadi penonton yang menikmati bagaimana keindahan alam diterjemahkan melalui tangan seorang negarawan.
Di antara yang menyaksikan terdapat Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji bersama sang istri. Mereka tampak menikmati momen langka ketika seorang mantan kepala negara menghentikan perjalanan hanya karena jatuh hati pada panorama alam daerahnya sendiri.
Bukan untuk pidato. Bukan pula untuk agenda seremonial.
Melainkan semata-mata karena keinginan melukis.
Fenomena tersebut sesungguhnya bukanlah hal baru bagi SBY. Kecintaannya terhadap dunia seni rupa telah lama dikenal publik. Dalam beberapa tahun terakhir, puluhan bahkan diperkirakan ratusan lukisan telah lahir dari tangan beliau.
Sebagian besar mengangkat panorama Indonesia, tetapi Pacitan selalu memiliki tempat yang istimewa.
Tanah kelahirannya itu berkali-kali hadir dalam berbagai karya. Pantai-pantai berpasir putih, ombak Samudra Hindia, aliran sungai yang membelah lembah, hingga bentangan sawah dan pegunungan hijau telah menjadi inspirasi yang tak pernah habis.
Setiap kali pulang kampung, SBY seakan menemukan kembali dialog dengan alam yang telah membentuk perjalanan hidupnya sejak kecil.
Boleh jadi, bagi seorang seniman, melukis bukan hanya soal menghasilkan gambar.
Melukis adalah cara mengabadikan rasa.
Dan rasa itu tampaknya selalu muncul setiap kali beliau memandang lanskap Pacitan.

Hutan Dadapan yang sore itu menjadi objek lukisan bukan hanya menyajikan panorama hijau. Kawasan tersebut merupakan bagian dari bentang alam pegunungan yang selama ini menjadi pintu gerbang menuju Pacitan dari arah Solo. Jalan berkelok, lembah, dan vegetasi yang masih terjaga menjadikan wilayah ini memiliki karakter visual yang kuat sekaligus menyimpan kesejukan khas kawasan perbukitan.
Tidak mengherankan jika lokasi tersebut mampu menghentikan perjalanan seorang pelukis.
Setelah beberapa waktu, kanvas yang semula kosong mulai dipenuhi warna. Lanskap Dadapan perlahan menjelma menjadi sebuah karya yang merekam suasana sore hari di bumi Pacitan.
Bagi rombongan yang hadir, momen itu bukan sekadar melihat seseorang melukis.
Mereka menyaksikan bagaimana alam mampu menghadirkan inspirasi secara spontan, bahkan di tengah perjalanan yang telah dijadwalkan.
Usai menyelesaikan lukisan, SBY kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Pacitan.
Rombongan bergerak menuju Museum dan Galeri Seni SBY*Ani, tempat yang menjadi rumah bagi berbagai karya seni, dokumentasi perjalanan hidup, sekaligus ruang edukasi yang kini menjadi salah satu destinasi kebanggaan masyarakat Pacitan.
Setibanya di lokasi, SBY disambut Wakil Bupati Pacitan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Selama beberapa hari ke depan, beliau dijadwalkan berada di Pacitan untuk mengikuti sejumlah kegiatan internal.
Namun, bagi warga yang menyaksikan langsung peristiwa di Dadapan, ada satu kenangan yang mungkin lebih membekas daripada agenda resmi tersebut.
Bahwa di sebuah tikungan jalan menuju kampung halaman, seorang mantan presiden memilih berhenti bukan karena kemacetan ataupun kelelahan.
Ia berhenti karena jatuh cinta pada hijaunya hutan.
Dan melalui sapuan kuas, kecintaan itu akan terus hidup—bukan hanya di atas kanvas, tetapi juga dalam ingatan tentang seorang putra daerah yang tak pernah berhenti mengabadikan keindahan Pacitan dengan caranya sendiri.




