Menlu Sugiono di BRICS Soroti 4 Prajurit RI UNIFIL Gugur di Lebanon, Indonesia Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Menteri Luar Negeri RI Sugiono

New Delhi, Headlineid.com – Menlu Sugiono menyoroti gugurnya empat prajurit Indonesia yang bertugas di UNIFIL Lebanon saat forum BRICS 2026 di India. Indonesia juga menegaskan dukungan penuh terhadap Palestina dan reformasi tata kelola global.

PPertemuan BRICS Foreign Ministers’ Meeting (FMM) 2026 menjadi perhatian dunia. Forum ini digelar di New Delhi, India. Dalam kesempatan itu, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyampaikan pesan tegas. Ia menyoroti keselamatan pasukan penjaga perdamaian PBB.

Indonesia secara khusus menyinggung gugurnya empat prajurit Tanah Air yang bertugas dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon. Dalam pidatonya, Sugiono menegaskan bahwa keamanan personel penjaga perdamaian dunia merupakan prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan.

Indonesia Soroti Gugurnya 4 Prajurit RI di Lebanon

Dalam forum yang mempertemukan para menteri luar negeri negara anggota BRICS tersebut, Sugiono menyampaikan keprihatinan mendalam atas gugurnya empat prajurit Indonesia saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.

Menurutnya, para prajurit yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) telah mengorbankan nyawa demi menjaga stabilitas kawasan konflik. Selain korban meninggal, beberapa personel Indonesia juga dilaporkan mengalami luka saat bertugas.

Baca Juga  Bursa Calon Ketua Umum PBNU 2026 Menghangat, Sejumlah Nama Kiai dan Gus Mulai Bermunculan

Sugiono menegaskan Indonesia menghormati pengabdian para prajurit tersebut dan berdiri bersama keluarga korban. Pemerintah Indonesia juga meminta adanya pertanggungjawaban penuh terhadap pihak yang menyebabkan jatuhnya korban.

“Keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian PBB adalah hal yang tidak bisa ditawar,” tegas Sugiono dalam forum internasional tersebut.

BRICS Diminta Berperan Menjaga Perdamaian Dunia

Dalam pidatonya, Sugiono menilai dunia saat ini sedang berada di titik krisis. Konflik bersenjata, rivalitas geopolitik, hingga penerapan hukum internasional yang dinilai tidak konsisten menjadi tantangan serius bagi stabilitas global.

Karena itu, Indonesia meminta BRICS mengambil peran lebih aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Menurut Sugiono, kelompok negara berkembang ini memiliki tanggung jawab besar untuk memperjuangkan sistem internasional yang lebih adil dan tidak diskriminatif.

Baca Juga  Kepala Bakorwil Malang dan PWI Jatim Perkuat Narasi Pengembangan Selatan Jawa Timur Menuju Malang Megapolitan

Ia juga menyoroti praktik standar ganda dalam penegakan hukum internasional yang dinilai dapat memperdalam ketidakpercayaan antarnegara serta memperbesar ketimpangan tata kelola global.

“Ancaman yang muncul saat ini bukan hanya soal politik global, tetapi juga membawa dampak kemanusiaan yang sangat besar,” ujarnya.

Indonesia Kembali Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Selain isu keselamatan pasukan perdamaian PBB, Indonesia juga kembali menyuarakan dukungan terhadap Palestina dalam forum BRICS.

Sugiono menegaskan posisi Indonesia yang tetap konsisten mendukung solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan penyelesaian konflik Palestina-Israel. Pemerintah Indonesia juga mendorong gencatan senjata permanen di Jalur Gaza demi menghentikan krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.

Bagi Indonesia, BRICS tidak boleh menjadi ruang polarisasi politik global, tetapi harus hadir sebagai bagian dari solusi bagi berbagai konflik dunia.

Indonesia Aktif sebagai Anggota BRICS

Kehadiran Sugiono di forum BRICS FMM 2026 menunjukkan semakin aktifnya Indonesia dalam organisasi tersebut. Tahun 2026 menjadi tahun kedua Indonesia sebagai anggota BRICS sekaligus momentum dua dekade sejak organisasi itu dibentuk pada 2006.

Baca Juga  Pemerintah Resmi Luncurkan Logo HUT Ke-81 RI 2026, Simbol Persatuan dalam Keberagaman Nusantara

Di bawah kepemimpinan India dengan tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”, Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama di berbagai sektor strategis.

Beberapa sektor yang menjadi perhatian antara lain perdagangan internasional, energi, perubahan iklim, kesehatan, hingga reformasi tata kelola global. Indonesia juga menyatakan tengah menyelesaikan proses internal untuk bergabung dengan New Development Bank (NDB).

Keanggotaan Indonesia di BRICS dinilai strategis mengingat kelompok ini merepresentasikan hampir separuh populasi dunia dan menyumbang sekitar 30 persen produk domestik bruto global.

Dengan posisi tersebut, Indonesia berharap BRICS dapat menjadi wadah nyata untuk memperkuat kolaborasi internasional sekaligus memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang di tengah ketidakpastian global. (frend/Masson)