MTQ Nasional XXXI Semarang, Ketika Zainuddin Menjadikan Tilawah sebagai Jalan Belajar

MTQ Nasional XXXI

Headlineid.com – Sebanyak 12 majelis lomba MTQ Nasional XXXI bergulir di Kota Semarang, Minggu (13/9/2026). Salah satunya mempertandingkan Tilawah Disabilitas Netra di Studio Catwalk BBPVP Kementerian Tenaga Kerja Semarang.

Di antara para peserta, Ahmad Zainuddin tampil membawa kisah yang lebih dalam dari sekadar perlombaan. Qari penyandang disabilitas netra asal Tlogomulyo, Pedurungan, itu datang untuk memperdalam seni membaca Al-Qur’an.

Hasil pertandingan tetap dia perjuangkan dengan serius. Namun, Zainuddin tidak menjadikan gelar juara sebagai ukuran utama dari perjalanan spiritualnya.

Fakta Inti

Di Majelis 3, Zainuddin baru saja menyelesaikan penampilannya di hadapan sembilan dewan hakim. Dia melantunkan Surat Ali Imran ayat 189 setelah menerima materi yang menjadi bagian dari mekanisme perlombaan.

Persiapannya berlangsung selama satu tahun penuh. Kendati demikian, dia memilih menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah seluruh ikhtiar dilakukan.

“Bukan niat cari juara, saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al-Qur’an itu lebih dalam,” ujar Zainuddin.

Perjalanan itu bermula ketika Zainuddin berusia 16 tahun. Saat itu, dia mulai serius mempelajari Al-Qur’an melalui Pondok Pesantren Al Khairat, Jepara.

Awalnya, proses menghafal tidak berjalan mudah. Rasa kecewa sempat muncul karena dia merasa kesulitan memahami kemampuan dirinya sendiri.

Namun, sebuah pertemuan sederhana kemudian mengubah cara pandangnya. Seorang lelaki tua pernah menegurnya dengan kalimat keras tentang telinga, pikiran, mulut, dan hati.

Ucapan tersebut membuat Zainuddin berhenti dan merenung. Dia kemudian memahami bahwa setiap anggota tubuh memiliki fungsi untuk membantu manusia belajar.

“Lalu saya memikirkan. Menemukan telinga untuk mendengar, pikiran untuk mengingat dan hati untuk menyimpan,” tuturnya.

Sejak saat itu, tekadnya tumbuh semakin kuat. Dia terus menghafal sekaligus memperbaiki bacaan Al-Qur’an melalui proses yang panjang.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke berbagai ajang MTQ. Zainuddin mengikuti perlombaan dari tingkat kecamatan hingga tingkat provinsi.

Hasilnya pun mulai terlihat. Prestasi tertingginya sejauh ini adalah juara dua MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pati dan Tegal.

Kini, MTQ Nasional XXXI menjadi panggung yang mempertemukannya dengan peserta terbaik dari berbagai daerah. Namun, Zainuddin kembali menempatkan proses belajar sebagai alasan utama keikutsertaannya.

Baca Juga  Deflasi Pacitan Berlanjut Akhir Juni 2026, Harga Cabai dan Minyak Goreng Turun, Daya Beli Masyarakat Menguat

MTQ Nasional XXXI Bukan Sekadar Panggung Perebutan Gelar

Bagi Zainuddin, tilawah memiliki hubungan erat dengan ketenangan batin. Al-Qur’an tidak berhenti sebagai teks yang harus dilafalkan dengan benar.

Lebih jauh, ayat-ayat Kalamullah menjadi sumber ketenangan bagi kalbu. Karena itu, proses mempelajari tilawah memiliki nilai yang melampaui penilaian sembilan dewan hakim.

Pandangan tersebut memberi warna berbeda pada kompetisi nasional. Perlombaan memang membutuhkan teknik, disiplin, mental, dan persiapan matang.

Namun, manusia yang berdiri di atas panggung tetap membawa perjalanan hidup masing-masing. Ada latihan panjang, kegagalan, kekecewaan, serta alasan pribadi yang membuat mereka terus bertahan.

Zainuddin menunjukkan sisi tersebut dengan sederhana. Dia tidak menolak ambisi untuk tampil baik, tetapi tidak membiarkan hasil perlombaan menentukan seluruh makna perjuangannya.

Berdasarkan pengamatan terhadap kisah Zainuddin, pendekatan seperti itu juga memperlihatkan arti inklusivitas dalam MTQ. Disabilitas netra tidak menghapus ruang seseorang untuk mengembangkan kemampuan dan berkompetisi.

Sebaliknya, penyelenggaraan kategori khusus memberi ruang bagi peserta untuk menunjukkan kapasitasnya. Mereka hadir bukan sebagai pelengkap acara, melainkan sebagai bagian dari ekosistem musabaqah.

Karena itu, keberadaan peserta disabilitas netra layak dilihat melalui perspektif prestasi dan kesempatan. Keduanya berjalan beriringan tanpa harus mengasihani peserta.

Persiapan Satu Tahun Menunjukkan Kompetisi Ini Tidak Main-Main

Kisah Zainuddin juga memperlihatkan beratnya persiapan menuju tingkat nasional. Selama setahun, dia membangun kesiapan sebelum akhirnya tampil di Semarang.

Persiapan tersebut bukan hanya soal kemampuan membaca. Peserta juga harus mampu menjaga ketenangan ketika berhadapan dengan dewan hakim dan materi yang baru diterima.

Mekanisme lomba membuat tantangan semakin nyata. Mohammad Asyiq, PIC Majelis 3 Tartil dan Tilawah Disabilitas Netra, menyebut peserta memperoleh materi sekitar satu jam sebelum tampil.

Peserta kemudian harus membaca materi tersebut melalui hafalan atau Al-Qur’an Braille. Setelah itu, mereka tampil di depan sembilan dewan hakim.

Kondisi tersebut menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Peserta tidak cukup mengandalkan hafalan, karena materi dan urutan tampil baru diketahui menjelang penampilan.

Baca Juga  KAI Daop 4 Semarang Layani 7,26 Juta Penumpang pada Semester I 2026, Naik 10 Persen dan Perkuat Mobilitas Jawa Tengah

Sebanyak 40 peserta dari 37 provinsi mengikuti cabang tilawah disabilitas netra. Jumlah tersebut memperlihatkan luasnya partisipasi daerah dalam kompetisi nasional ini.

Babak penyisihan berlangsung Minggu hingga Kamis. Sementara itu, babak final dijadwalkan berlangsung pada Jumat.

Dengan format tersebut, setiap peserta menghadapi tekanan kompetisi secara langsung. Kesempatan tampil menjadi hasil dari latihan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Ketika Target Juara dan Makna Ibadah Bertemu

Tidak semua peserta memiliki cara pandang yang sama terhadap kompetisi. Siti Nurjanah, qariah penyandang disabilitas netra asal Kalimantan Timur, datang dengan target yang lebih tegas.

Dia mengaku berlatih bersama pelatih dua kali sehari selama sembilan bulan. Pengalaman menjadi juara satu pada ajang tahun sebelumnya membuatnya kembali memasang target serupa.

“Saya dengan pelatih berlatih dua kali dalam satu hari, selama sembilan bulan itu,” kata Siti.

Perbedaan sikap tersebut justru memperlihatkan wajah kompetisi yang manusiawi. Ada peserta yang mengejar gelar, sementara peserta lain lebih menekankan pengalaman dan proses.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Kompetisi membutuhkan target, sedangkan proses spiritual membutuhkan ketulusan.

Pada titik itulah MTQ dapat menghadirkan makna yang lebih luas. Panggung perlombaan menjadi tempat bertemunya ambisi prestasi dengan nilai ibadah.

Bagi masyarakat, cerita seperti ini juga memberi perspektif baru tentang penyandang disabilitas. Mereka tidak semata membutuhkan akses, tetapi juga ruang untuk menunjukkan kemampuan.

Oleh karena itu, penyelenggaraan MTQ yang inklusif perlu terus diperkuat. Aksesibilitas, fasilitas pendukung, materi Braille, serta pendampingan harus menjadi bagian dari standar penyelenggaraan.

Dampak Terbesarnya Ada pada Kesempatan yang Setara

Keikutsertaan 40 peserta dari 37 provinsi membawa pesan penting bagi penyelenggaraan kegiatan keagamaan nasional. Kompetisi dapat menjadi sarana untuk memperluas kesempatan bagi kelompok yang selama ini menghadapi hambatan akses.

Selain itu, pengalaman para peserta dapat menjadi contoh bagi generasi muda penyandang disabilitas. Mereka dapat melihat bahwa keterbatasan fisik tidak otomatis membatasi ruang untuk berprestasi.

Baca Juga  Kepala Badan Gizi Nasional Mundur, Tantangan Baru Program Makan Bergizi Gratis

Namun, kesempatan tampil tidak boleh berhenti pada panggung perlombaan. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pesantren, dan komunitas perlu membangun pembinaan yang berkelanjutan.

Pembinaan juga harus memperhatikan kebutuhan peserta secara spesifik. Al-Qur’an Braille, pelatih kompeten, akses tempat latihan, serta fasilitas yang ramah disabilitas menjadi kebutuhan nyata.

Di sisi lain, masyarakat perlu mengubah cara melihat prestasi penyandang disabilitas. Apresiasi seharusnya tidak berhenti pada rasa iba ketika melihat perjuangan mereka.

Yang lebih penting adalah menghargai kompetensi dan kerja kerasnya. Dengan begitu, peserta seperti Zainuddin dapat berdiri sebagai qari yang memiliki kapasitas, bukan sekadar sebagai simbol ketangguhan.

Perspektif tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI. Kompetisi yang sehat bukan hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga memperluas kesempatan untuk tumbuh.

Bagi Zainuddin sendiri, kesempatan berkumpul bersama para pencinta Al-Qur’an sudah menghadirkan kebahagiaan. Dia menyebut pengalaman tersebut sebagai nikmat karena dapat bertemu dengan orang-orang yang memiliki kecintaan serupa.

“Alhamdulillah, pengalaman yang saya rasakan ini sungguh sangat nikmat, berkumpul bersama ahlul Qur’an. Teman-teman yang sefrekuensi,” paparnya.

Catatan Editorial Headline Indonesia

Kisah Zainuddin mengingatkan bahwa tidak semua kemenangan membutuhkan piala. Ada kemenangan ketika seseorang mampu mengubah kekecewaan menjadi ketekunan.

Ada pula kemenangan ketika sebuah perlombaan membuka ruang perjumpaan bagi mereka yang memiliki kecintaan sama. Dalam konteks itu, MTQ Nasional XXXI memiliki pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar menentukan juara.

Panggung nasional seharusnya menjadi pintu menuju pembinaan yang lebih panjang. Setiap peserta perlu memperoleh kesempatan untuk berkembang setelah lampu perlombaan padam.

Sebab, nilai sebuah kompetisi tidak hanya terletak pada siapa yang berdiri paling tinggi di podium. Nilainya juga terlihat dari berapa banyak manusia yang pulang dengan semangat untuk belajar lebih jauh.

Bagi Zainuddin, perjalanan itu belum selesai. Tilawah tetap menjadi jalan belajar, sementara hasil perlombaan menjadi bagian dari ikhtiar yang dia serahkan kepada Allah.

Editor : Frend