PACITAN, HEADLINE INDONESIA-Kabupaten Pacitan kembali mencatat deflasi pada pekan terakhir Juni 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, cabai merah, dan minyak goreng, menjadi faktor utama yang mendorong turunnya Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga mencapai -1,09 persen.
Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi kondisi ekonomi daerah. Setelah beberapa bulan mengalami fluktuasi inflasi dan deflasi, penurunan harga kali ini dinilai bukan sebagai pelemahan ekonomi, melainkan hasil dari membaiknya pasokan bahan pangan dan semakin lancarnya distribusi komoditas ke pasar.
Fakta Utama
- IPH Kabupaten Pacitan Juni 2026 tercatat -1,09 persen (deflasi).
- Cabai rawit, cabai merah, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama deflasi.
- Secara tahunan (YoY), pertumbuhan harga masih positif sebesar 2,30 persen.
- Pemerintah memastikan pasokan pangan semakin stabil dan distribusi berjalan lancar.
- Meski terjadi deflasi, beberapa komoditas seperti beras dan bawang justru mengalami kenaikan harga.

Mengapa Pacitan Mengalami Deflasi pada Akhir Juni?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Pemerintah Kabupaten Pacitan menunjukkan IPH minggu keempat Juni 2026 berada di angka -1,09 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), harga masih tumbuh 2,30 persen, sedangkan secara tahun kalender (year to date/ytd) tercatat -2,13 persen.
Angka tersebut menggambarkan bahwa tekanan harga yang sempat terjadi beberapa bulan sebelumnya mulai mereda.
Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Ayub Setyo Budi, mengatakan bahwa membaiknya pasokan komoditas hortikultura menjadi penyebab utama turunnya harga di tingkat konsumen.
Menurutnya, harga cabai rawit, cabai merah, serta minyak goreng mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan rantai pasok mulai kembali normal setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat faktor cuaca, distribusi, maupun produksi.
Harga Cabai Turun, Beban Belanja Rumah Tangga Ikut Berkurang
Bagi sebagian besar rumah tangga di Indonesia, cabai merupakan salah satu komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Ketika harga cabai melonjak, pengeluaran rumah tangga biasanya ikut meningkat. Sebaliknya, ketika harga cabai turun, masyarakat langsung merasakan dampaknya terhadap biaya belanja harian.
Fenomena ini juga terjadi di Pacitan.
Turunnya harga cabai merah dan cabai rawit memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat untuk mengalokasikan pengeluaran pada kebutuhan lain.
Selain cabai, penurunan harga minyak goreng juga memberikan efek positif karena komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok yang digunakan hampir setiap hari.
Secara ekonomi, kombinasi penurunan harga dua komoditas utama tersebut mampu menahan laju inflasi sekaligus membantu menjaga daya beli masyarakat.
Fluktuasi Harga Masih Terjadi Selama Semester Pertama 2026
Perjalanan perkembangan harga di Pacitan sepanjang enam bulan pertama tahun 2026 menunjukkan dinamika yang cukup tajam.
Pada Januari, daerah ini mengalami deflasi sebesar -5,21 persen.
Kemudian berbalik mengalami inflasi pada Februari sebesar 4,73 persen.
Maret masih mencatat inflasi 1,28 persen.
Memasuki April kembali terjadi deflasi -2,87 persen.
Mei berubah menjadi inflasi 1,03 persen.
Sementara akhir Juni kembali mengalami deflasi -1,09 persen.
Perubahan yang cukup dinamis tersebut sebenarnya lazim terjadi pada daerah yang sangat dipengaruhi musim panen, produksi hortikultura, serta kelancaran distribusi pangan.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan membutuhkan pengawasan yang konsisten dari pemerintah daerah.
Tidak Semua Harga Turun, Beras dan Bawang Masih Mengalami Kenaikan
Meski indeks harga secara keseluruhan mengalami penurunan, bukan berarti seluruh komoditas pangan menjadi lebih murah.
Hasil pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan bahwa beberapa bahan pangan justru mengalami kenaikan dibandingkan rata-rata harga pada Mei.
Komoditas tersebut meliputi:
- beras,
- bawang merah,
- bawang putih.
Di sisi lain, sejumlah kebutuhan pokok relatif stabil.
Komoditas yang masih berada pada kisaran harga normal antara lain:
- Minyakita,
- daging sapi,
- daging ayam ras,
- gula pasir,
- pisang,
- jeruk.
Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga meliputi:
- minyak goreng,
- cabai merah,
- cabai rawit.
Variasi pergerakan harga ini menjadi gambaran bahwa pasar tetap bergerak secara dinamis mengikuti kondisi pasokan dan permintaan.
Apa Dampak Deflasi bagi Masyarakat?
Dalam banyak kasus, istilah deflasi sering dipersepsikan negatif. Padahal, tidak semua deflasi menunjukkan pelemahan ekonomi. Pada kondisi Pacitan saat ini, deflasi lebih banyak dipicu oleh meningkatnya pasokan pangan. Artinya, barang tersedia dalam jumlah cukup sehingga harga turun secara alami.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut membawa sejumlah manfaat. Pertama, pengeluaran rumah tangga menjadi lebih ringan. Kedua, daya beli masyarakat berpotensi meningkat. Ketiga, tekanan inflasi terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi berkurang.
Namun demikian, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan. Harga yang terlalu rendah juga dapat mengurangi pendapatan petani apabila biaya produksi tidak ikut turun. Karena itu, stabilitas harga menjadi tujuan utama dibanding sekadar mengejar harga murah.
Pemerintah Fokus Menjaga Keseimbangan Harga
Pemerintah Kabupaten Pacitan menegaskan akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi daerah. Langkah tersebut dilakukan melalui pemantauan harga secara berkala, pengawasan stok pangan, serta memastikan distribusi kebutuhan pokok tetap berjalan lancar.
Ayub Setyo Budi menekankan bahwa keseimbangan harga harus mampu memberikan manfaat bagi seluruh pihak. Di satu sisi masyarakat memperoleh harga yang terjangkau. Di sisi lain petani, pedagang, dan pelaku usaha tetap mendapatkan keuntungan yang layak sehingga aktivitas ekonomi daerah terus bergerak.
Pendekatan ini menjadi penting karena keberhasilan pengendalian inflasi tidak hanya diukur dari rendahnya harga, tetapi juga dari keberlanjutan produksi dan kesejahteraan pelaku usaha pangan.
Posisi Pacitan Dibanding Daerah Lain
Pada pekan keempat Juni 2026, Kabupaten Pacitan berada pada:
- peringkat 335 nasional berdasarkan IPH,
- peringkat 17 di Provinsi Jawa Timur,
- peringkat 61 se-Pulau Jawa.
Di tingkat Jawa Timur, beberapa daerah lain juga mengalami deflasi cukup dalam. Di antaranya Pamekasan, Ponorogo, Situbondo, Mojokerto, hingga Jombang yang mencatat deflasi terdalam sebesar -3,29 persen.
Sementara secara nasional, deflasi paling dalam terjadi di Kabupaten Lombok Timur dengan IPH -3,66 persen.
Sebaliknya, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, sebesar 9,83 persen.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa dinamika harga pangan masih berbeda-beda antarwilayah, bergantung pada kondisi produksi, distribusi, dan karakteristik ekonomi masing-masing daerah.
Stabilitas Harga Menjadi Modal Penting Pertumbuhan Ekonomi
Keberhasilan menjaga stabilitas harga pangan bukan sekadar persoalan angka inflasi atau deflasi. Lebih dari itu, stabilitas harga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Ketika harga kebutuhan pokok terkendali, masyarakat memiliki ruang konsumsi yang lebih luas. Pelaku usaha juga dapat menyusun strategi bisnis dengan lebih pasti karena gejolak harga tidak terlalu tinggi.
Dalam konteks Pacitan, tren deflasi yang dipicu membaiknya pasokan pangan menjadi kabar positif. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan kondisi tersebut dapat dipertahankan hingga semester kedua 2026 tanpa mengorbankan kesejahteraan petani.
Penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), peningkatan efisiensi distribusi, serta dukungan terhadap produktivitas pertanian akan menjadi faktor penentu agar stabilitas harga benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Deflasi sebesar -1,09 persen yang terjadi di Kabupaten Pacitan pada akhir Juni 2026 menunjukkan mulai pulihnya keseimbangan pasokan sejumlah komoditas pangan strategis, terutama cabai dan minyak goreng. Kondisi ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui meningkatnya daya beli dan lebih terkendalinya pengeluaran rumah tangga.
Meski demikian, pemerintah tetap menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara harga yang terjangkau bagi konsumen dan pendapatan yang layak bagi petani. Dengan pengawasan harga yang berkelanjutan, distribusi pangan yang lancar, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan, stabilitas ekonomi daerah diharapkan terus terjaga sepanjang semester kedua tahun 2026. (frend/yun)




