Wawancara Imajiner Gus Dur dan Seorang Spiritualis “Ketika Politik Kehilangan Nurani, Bangsa Kehilangan Arah”

Wawancara Imajiner Gus Dur

Headlineid.com –Tulisan ini merupakan karya sastra berbentuk wawancara imajiner. Tokoh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah wafat pada tahun 2009. Seluruh dialog berikut adalah hasil imajinasi penulis yang terinspirasi dari pemikiran, humor, dan nilai-nilai kemanusiaan yang selama hidup sering beliau sampaikan. Pandangan Gus Dur mengenai pluralisme, demokrasi, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap kemanusiaan telah banyak terdokumentasi dalam berbagai karya, pidato, serta kajian akademik. Karena itu, isi percakapan ini bukan kutipan asli, melainkan tafsir kreatif atas semangat yang beliau wariskan.

Malam turun perlahan.

Di sebuah pendapa tua yang hanya diterangi lampu minyak, angin berembus lembut. Aroma kopi hitam bercampur harum tanah setelah hujan. Suasananya hening, seolah waktu sengaja berjalan lebih lambat.

Di sana duduk dua sosok.

Yang pertama mengenakan sarung, berkacamata, dan sesekali tersenyum dengan wajah jenaka yang begitu akrab dalam ingatan banyak orang. Ia adalah Gus Dur—bukan dalam kenyataan, melainkan hadir dalam ruang imajinasi.

Di hadapannya duduk seorang spiritualis sepuh. Selama hidup, ia lebih sering memilih mendengar daripada berbicara. Orang-orang memanggilnya Ki Sukma. Bukan karena nama lahirnya, melainkan karena diyakini lebih akrab dengan suara hati dibanding riuhnya dunia.

Di antara dua cangkir kopi yang masih mengepul, percakapan pun dimulai.


Ki Sukma:

“Gus, banyak orang mengatakan negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Ada yang menyebut demokrasi melemah, hukum terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Ekonomi menekan rakyat kecil, sementara media sosial dipenuhi kemarahan.”

“Menurut panjenengan, Indonesia sedang sakit… atau sebenarnya hanya sedang lelah?”

Gus Dur:

Gus Dur tersenyum kecil sebelum menjawab.

“Kalau orang sakit, masih ada harapan untuk sembuh.”

Beliau berhenti sejenak, lalu menatap secangkir kopi di hadapannya.

“Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang merasa dirinya sehat, padahal penyakitnya sudah sampai ke hati.”

Sesaat kemudian ia kembali tersenyum.

“Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar.”

“Yang masih langka adalah orang-orang yang berani jujur.”


Ki Sukma:

“Mengapa politik sekarang terasa semakin jauh dari kehidupan rakyat?”

Gus Dur:

Gus Dur tertawa pelan.

“Karena politik sekarang terlalu sibuk menghitung kursi.”

“Padahal dahulu politik menghitung manusia.”

Beliau melanjutkan dengan nada tenang.

“Kalau politik hanya bicara soal menang dan kalah, rakyat akhirnya tinggal menjadi angka statistik.”

Lalu ia menambahkan,

“Padahal tujuan politik itu sederhana.”

“Membuat rakyat bisa makan dengan layak.”

“Anak-anak bisa sekolah.”

“Semua orang dapat beribadah dengan tenang.”

“Dan malam hari mereka bisa tidur tanpa rasa takut.”


Ki Sukma:

“Hari ini hampir semua orang merasa dirinya paling benar.”

Gus Dur:

Gus Dur mengangguk pelan.

“Dulu orang belajar sebelum berbicara.”

“Sekarang banyak yang berbicara agar dianggap sudah belajar.”

Beliau kemudian menoleh ke arah langit malam.

“Teknologi itu anugerah.”

“Tetapi kalau hati tidak ikut bertumbuh, teknologi hanya mempercepat penyebaran kebodohan.”

Senyumnya kembali muncul.

“Sekarang banyak orang lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan akhlak.”


Ki Sukma:

“Apakah bangsa ini sedang kehilangan spiritualitas?”

Gus Dur:

Beliau menggeleng pelan.

“Saya kira bangsa ini bukan kehilangan agama.”

“Yang mulai hilang justru rasa malu.”

Suaranya terdengar semakin lembut.

“Spiritualitas bukan diukur dari banyaknya simbol.”

“Bukan dari panjangnya doa.”

“Bukan pula dari kerasnya teriakan.”

Lalu ia menatap Ki Sukma.

Spiritualitas adalah ketika seseorang memiliki kekuasaan, tetapi tetap takut menyakiti orang lain.”


Ki Sukma:

“Jurang antara elite dan rakyat terasa semakin jauh.”

Gus Dur:

Gus Dur menghela napas panjang.

“Dulu pemimpin datang ke desa untuk mendengar.”

“Sekarang banyak yang datang untuk difoto.”

Beliau tersenyum getir.

“Terlalu banyak panggung.”

“Terlalu sedikit percakapan.”

Kemudian ia menambahkan,

“Padahal rakyat tidak pernah meminta pemimpin yang sempurna.”

“Mereka hanya ingin pemimpin yang benar-benar hadir.”


Ki Sukma:

“Mengapa masyarakat sekarang begitu mudah terbelah?”

Gus Dur:

Beliau menjawab tanpa tergesa.

“Karena ketakutan selalu lebih mudah dijual daripada harapan.”

Ia terdiam beberapa detik.

“Kalau orang terus diajari membenci, lama-kelamaan ia lupa bagaimana cara mencintai.”


Ki Sukma:

“Apakah generasi muda masih memiliki kesempatan memperbaiki keadaan?”

Gus Dur:

Senyumnya kembali mengembang.

“Tentu saja.”

“Bangsa ini berkali-kali diselamatkan oleh anak-anak mudanya.”

Namun beliau memberi pesan.

“Jangan hanya menjadi generasi yang cepat bereaksi.”

“Jadilah generasi yang mampu berpikir dalam.”

“Orang bijak tidak mudah marah.”

“Ia lebih memilih memahami sebelum menghakimi.”


Ki Sukma:

“Korupsi masih menjadi penyakit yang belum juga sembuh. Apa yang paling Gus khawatirkan?”

Gus Dur:

Beliau tersenyum tipis.

“Korupsi bukan hanya mencuri uang negara.”

“Mencuri harapan rakyat juga korupsi.”

“Mencuri kesempatan anak muda juga korupsi.”

Nada suaranya berubah lebih serius.

“Bahkan mencuri kepercayaan masyarakat jauh lebih berbahaya daripada mencuri anggaran.”

Beliau kembali menatap jauh.

“Yang membuat saya khawatir bukan orang miskin.”

“Orang miskin sudah terbiasa berjuang.”

“Yang saya khawatirkan justru ketika orang kaya kehilangan empati.”

“Sebab saat empati mati, keadilan perlahan ikut dikubur.”


Ki Sukma:

“Kalau Indonesia adalah seorang manusia, apa yang pertama kali harus ia lakukan?”

Gus Dur:

Gus Dur memandang langit yang mulai dipenuhi bintang.

“Berhenti saling berteriak.”

“Mulailah saling mendengar.”

Beliau tersenyum.

“Bangsa besar bukan bangsa yang selalu sepakat.”

“Bangsa besar adalah bangsa yang mampu berbeda tanpa saling menghancurkan.”


Lampu minyak mulai meredup.

Baca Juga  Harga iPhone Juli 2026 Stabil, iPhone 16e Jadi Primadona Diskon, Stok Seri Lama Makin Langka

Malam semakin sunyi.

Ki Sukma menundukkan kepala. Setelah lama terdiam, ia mengajukan pertanyaan terakhir.

Ki Sukma:

“Gus… setelah melihat semua keadaan ini, apakah panjenengan masih optimistis terhadap Indonesia?”

Gus Dur:

Raut wajah Gus Dur tersenyum lebar. Senyum yang hangat, seolah masih menyimpan keyakinan besar kepada bangsanya.

“Selama masih ada orang yang memilih menolong daripada menghina…”

“Selama masih ada guru yang mengajar dengan ikhlas…”

“Selama masih ada petani yang tetap menanam meski harga panennya tak pasti…”

“Selama masih ada wartawan yang menulis demi kebenaran, bukan demi pesanan…”

Beliau berhenti sejenak.

Lalu dengan suara pelan berkata,

“…Indonesia tidak akan pernah benar-benar kehilangan harapan.”


Angin malam kembali berembus.

Baca Juga  Prediksi Haiti vs Skotlandia Piala Dunia 2026: Rekor Bersejarah Grup C

Lampu minyak akhirnya padam.

Pendapa tua itu kembali sunyi. Yang tersisa hanyalah secangkir kopi yang mulai dingin, aroma tanah yang belum hilang, serta satu pertanyaan yang menggantung di udara.

Apakah kita sedang membangun Indonesia untuk semua, atau hanya sibuk memenangkan kepentingan kita sendiri?

Editor : Frend