Pola Asuh Dominasi Penyebab Stunting di Pacitan, Lebih Tinggi dari Faktor Kemiskinan

Khemal Pandu Pratikna

Pacitan, Headlineid.com – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Pacitan memasuki babak baru setelah pemerintah daerah berhasil memetakan faktor dominan yang memengaruhi gangguan pertumbuhan anak tersebut.

Data terbaru menunjukkan bahwa pola asuh keluarga menjadi penyebab terbesar kasus stunting di Pacitan. Angkanya mencapai 85,9 persen, jauh melampaui faktor penyakit infeksi sebesar 9,4 persen maupun kemiskinan yang hanya menyumbang 4,7 persen.

Temuan ini menjadi sinyal penting bahwa persoalan stunting tidak lagi bisa dipandang semata-mata sebagai masalah ekonomi. Kualitas pengasuhan anak sejak dini justru menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan tumbuh kembang mereka.

Fakta Utama

  • Pola asuh menyumbang 85,9 persen kasus stunting di Pacitan.
  • Penyakit infeksi berkontribusi sebesar 9,4 persen.
  • Faktor kemiskinan hanya menyumbang 4,7 persen.
  • Pemkab Pacitan memperkuat edukasi keluarga melalui program KIE dan posyandu.
  • Skrining balita serta penguatan layanan rujukan stunting menjadi prioritas penanganan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami stunting secara lebih utuh. Menurutnya, anggapan bahwa stunting hanya disebabkan oleh kurangnya makanan atau keterbatasan ekonomi sudah tidak lagi relevan dengan kondisi di lapangan.

“Data menunjukkan bahwa kualitas pola asuh memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Mengapa Pola Asuh Menjadi Faktor Terbesar?

Pola asuh yang baik tidak hanya berkaitan dengan pemberian makanan bergizi. Ada banyak aspek lain yang turut menentukan keberhasilan pertumbuhan anak.

Mulai dari pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI yang tepat, imunisasi lengkap, pemantauan kesehatan rutin, kebersihan lingkungan, hingga perhatian terhadap perkembangan psikologis anak menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting.

Baca Juga  Menlu Sugiono di BRICS Soroti 4 Prajurit RI UNIFIL Gugur di Lebanon, Indonesia Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Dalam banyak kasus, keluarga dengan kondisi ekonomi cukup pun masih dapat memiliki anak stunting apabila pengasuhan tidak dilakukan secara optimal.

Sebaliknya, keluarga dengan penghasilan terbatas sering kali mampu membesarkan anak yang sehat apabila memahami kebutuhan dasar tumbuh kembang anak dan menerapkannya secara konsisten.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan perilaku pengasuhan memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding kondisi ekonomi semata.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian nasional yang menyebutkan bahwa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi periode paling krusial dalam mencegah stunting.

Kesalahan pola pengasuhan pada fase tersebut dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik maupun kemampuan kognitif anak.

Stunting Bukan Hanya Soal Tinggi Badan

Banyak masyarakat masih memahami stunting sebagai kondisi anak bertubuh pendek.

Padahal, dampak stunting jauh lebih kompleks.

Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami keterlambatan perkembangan otak, penurunan kemampuan belajar, rendahnya produktivitas saat dewasa, hingga meningkatnya risiko penyakit kronis di masa depan.

Organisasi kesehatan dunia bahkan menyebut stunting sebagai ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia suatu negara.

Karena itu, penanganan stunting bukan sekadar program kesehatan. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi mendatang.

Bagi daerah seperti Pacitan, keberhasilan menurunkan angka stunting akan berpengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, dan daya saing daerah dalam beberapa dekade mendatang.

Edukasi Orang Tua Menjadi Strategi Utama

Melihat dominannya faktor pola asuh, Pemerintah Kabupaten Pacitan kini menempatkan edukasi keluarga sebagai strategi utama percepatan penurunan stunting.

Program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) terus diperkuat agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai pengasuhan anak.

Baca Juga  Waspada Hantavirus di Jakarta Barat, Dinkes Imbau Warga Tingkatkan Kebersihan dan Hindari Tikus

Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) sebagai sarana peningkatan kapasitas keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Posyandu yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat juga akan diperkuat fungsinya.

Melalui posyandu, orang tua dapat memperoleh informasi mengenai gizi, kesehatan anak, pemantauan pertumbuhan, hingga konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena menyasar akar persoalan yang menjadi penyebab terbesar stunting.

Penyakit Infeksi Masih Menjadi Ancaman Serius

Meski kontribusinya berada di bawah pola asuh, penyakit infeksi tetap menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian serius.

Anak yang sering mengalami infeksi cenderung mengalami gangguan penyerapan nutrisi. Akibatnya, kebutuhan gizi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan justru terpakai untuk melawan penyakit.

Kondisi tersebut dapat berlangsung berulang dan berujung pada terhambatnya pertumbuhan fisik anak.

Karena itu, pemerintah daerah mendorong pelaksanaan skrining balita secara lebih masif.

Melalui pemeriksaan dini, penyebab spesifik stunting dapat diidentifikasi sehingga penanganan yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran.

Selain itu, penguatan layanan poli rujukan stunting di RSUD Darsono juga menjadi bagian dari strategi percepatan penanganan.

Dengan layanan yang lebih optimal, proses diagnosis dan intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat.

Kemiskinan Tetap Menjadi Faktor Pendukung

Meski hanya berkontribusi 4,7 persen, faktor kemiskinan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kemiskinan sering kali berkaitan dengan akses terhadap makanan bergizi, sanitasi yang layak, dan layanan kesehatan yang memadai.

Karena itu, pemerintah tetap berupaya memperluas cakupan jaminan kesehatan melalui BPJS serta meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan.

Baca Juga  Harga Batubara Kokas China Melonjak Usai Ledakan Tambang Tewaskan 82 Orang di Shanxi

Akses terhadap air bersih, fasilitas kesehatan, dan edukasi gizi juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan stunting memerlukan strategi yang menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu sektor.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan menurunkan angka stunting tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja.

Dunia pendidikan, pemerintah desa, kader posyandu, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, hingga keluarga memiliki peran yang sama penting.

Karena itu, seluruh program penanganan stunting di Pacitan akan diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.

Langkah tersebut bertujuan memastikan setiap organisasi perangkat daerah memiliki peran yang jelas dalam mendukung target penurunan stunting.

Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci utama agar intervensi yang dilakukan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Menuju Generasi Pacitan yang Sehat dan Produktif

Data terbaru mengenai penyebab stunting di Pacitan memberikan pelajaran penting bahwa kualitas pengasuhan keluarga merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia.

Temuan bahwa pola asuh menyumbang 85,9 persen kasus stunting menjadi dasar kuat bagi pemerintah untuk mengarahkan kebijakan pada edukasi keluarga dan penguatan layanan kesehatan dasar.

Jika strategi tersebut berjalan konsisten dan mendapat dukungan masyarakat, peluang Pacitan untuk menurunkan angka stunting secara signifikan semakin terbuka.

Pada akhirnya, keberhasilan mengatasi stunting bukan hanya soal menurunkan angka statistik. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut akan menentukan kualitas generasi Pacitan di masa depan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga produktivitas ekonomi yang berkelanjutan. (frend/masson)

tingkat bounce rata-rata situs web