Headlineid.com — Ancaman Hantavirus mulai menjadi perhatian serius di Jakarta Barat. Warga diminta meningkatkan kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran virus tersebut.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, mengimbau masyarakat menerapkan protokol kesehatan setiap hari. Salah satunya dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun.
Warga juga diminta menerapkan etika batuk dan bersin dengan benar. Langkah sederhana ini penting untuk menjaga kesehatan lingkungan sekitar.
Selain itu, masyarakat harus menghindari kontak langsung dengan tikus atau celurut. Hewan pengerat tersebut dapat membawa virus Hanta tanpa terlihat sakit.
Penularan Hantavirus Perlu Diwaspadai
Virus Hanta dapat menular melalui gigitan tikus. Penularan juga bisa terjadi lewat urine, air liur, dan kotoran tikus.
Tidak hanya itu, virus dapat menyebar melalui debu yang terkontaminasi. Debu tersebut berasal dari kotoran tikus yang mengering.
Karena itu, warga diminta menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja. Makanan dan minuman juga harus disimpan dalam wadah tertutup.
Sahruna meminta masyarakat segera menutup lubang di rumah. Celah kecil dapat menjadi jalan masuk tikus ke area permukiman.
Jika mengalami demam atau gangguan pernapasan, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Dinkes Jakarta Barat Tingkatkan Pengawasan
Sudis Kesehatan Jakarta Barat kini memperkuat pengawasan Hantavirus. Langkah ini dilakukan sesuai pedoman Kementerian Kesehatan tahun 2023.
Pengawasan dilakukan melalui surveilans penyakit di rumah sakit dan Puskesmas. Pemerintah juga menyiapkan tim gerak cepat untuk investigasi kasus.
Deteksi dini difokuskan pada pasien dengan demam akut. Pemeriksaan juga dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal dan trombosit rendah.
Selain itu, petugas akan memeriksa riwayat paparan tikus pada pasien. Langkah ini penting untuk mempercepat penanganan kasus.
RSUD Tarakan juga telah disiapkan sebagai rumah sakit sentinel untuk penanganan Hantavirus di Jakarta.
Empat ABK Somalia Sempat Jadi Suspek
Sebelumnya, empat Anak Buah Kapal (ABK) yang baru pulang dari Somalia sempat diduga terpapar Hantavirus.
Kasus tersebut dilaporkan oleh RSUD Cengkareng pada 13 Mei 2026. Keempat ABK kemudian menjalani pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan dilakukan untuk Hantavirus, malaria, dan yellow fever. Hasilnya, seluruh ABK dinyatakan negatif.
Setelah kondisi membaik, para ABK diizinkan pulang. Saat ini mereka juga sudah tidak mengalami gejala.
Pemanasan Global Tingkatkan Risiko Hantavirus
Pakar virologi Universitas Airlangga, Shelly Wulandari, mengingatkan bahaya perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pemanasan global membuat tikus keluar dari habitat alami. Hewan tersebut kemudian masuk ke permukiman warga untuk mencari makanan.
Risiko penularan meningkat saat musim hujan dan banjir. Kondisi itu membuat kontak manusia dan tikus semakin sering terjadi.
Shelly menjelaskan bahwa tikus pembawa Hantavirus sering terlihat sehat. Karena itu, keberadaan virus sulit dikenali secara langsung.
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan infeksi pada hewan pengerat tersebut.
Potensi Mutasi Virus Jadi Ancaman
Shelly juga mengingatkan adanya potensi mutasi genetik Hantavirus. Mutasi tersebut bisa meningkatkan risiko penularan antarmanusia.
Karena itu, pengawasan populasi tikus di wilayah perkotaan harus diperkuat. Sanitasi lingkungan juga perlu terus ditingkatkan.
Pakar kesehatan menilai kebersihan lingkungan menjadi langkah utama pencegahan. Pengendalian populasi tikus juga sangat penting dilakukan. (frend/masson)




