Rp4,5 Miliar APBN Bangun SPAM di Pacitan, Empat Desa Segera Nikmati Akses Air Minum Layak

PACITAN, HEADLINE INDONESIA-Pemerintah Kabupaten Pacitan kembali memperoleh dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dasar. Tahun 2026 ini, anggaran sebesar Rp4,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dikucurkan guna membangun jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang akan melayani empat desa di wilayah tersebut.

Investasi infrastruktur tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum yang aman sekaligus memperkuat ketahanan daerah menghadapi ancaman kekeringan yang hampir setiap tahun melanda sebagian wilayah Pacitan.

Fakta Utama

  • Pemerintah pusat mengalokasikan APBN sebesar Rp4,5 miliar untuk pembangunan jaringan SPAM di Kabupaten Pacitan.
  • Program akan melayani empat desa, yakni Kalikuning, Gedungbendo, Kebondalem, dan Mangunharjo.
  • Cakupan layanan air minum Kabupaten Pacitan telah mencapai 83,75 persen berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) 2026.
  • Selain SPAM, Pacitan juga memperoleh dukungan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).
  • Sebanyak 59 desa masih masuk inventarisasi wilayah rawan kekeringan.
Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Air Minum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pacitan, Tony Setyo Nugroho (foto: yun)

APBN Perkuat Pembangunan Infrastruktur Air Minum di Pacitan

Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan dan Air Minum Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pacitan, Tony Setyo Nugroho, menjelaskan bahwa pembangunan jaringan air minum tersebut akan dilaksanakan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur.

Proyek tersebut dikenal dengan nama SPAM Kalikedung Kebonharjo, yang akan menghubungkan jaringan distribusi air menuju empat desa, yaitu Kalikuning, Gedungbendo, Kebondalem, dan Mangunharjo.

Menurut Tony, dukungan pemerintah pusat sangat membantu pemerintah daerah yang saat ini menghadapi keterbatasan kemampuan fiskal.

“Tahun ini kita mendapatkan anggaran dari APBN sebesar Rp4,5 miliar. Pelaksananya Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur untuk membangun jaringan air minum yang meng-cover empat desa,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).

Mengapa Pembangunan SPAM Ini Penting?

Air bersih bukan sekadar kebutuhan rumah tangga. Air merupakan fondasi kesehatan masyarakat, pendidikan, produktivitas ekonomi, hingga investasi daerah.

Baca Juga  Kemnaker Siapkan Talenta Muda untuk Bangun Startup dan Ciptakan Lapangan Kerja

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut akses terhadap air minum aman mampu menurunkan risiko berbagai penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, tifus, hingga infeksi saluran pencernaan yang masih menjadi tantangan di banyak daerah berkembang.

Di sisi lain, pembangunan jaringan SPAM juga menjadi investasi jangka panjang. Ketika masyarakat memperoleh akses air yang stabil, biaya membeli air berkurang, aktivitas ekonomi meningkat, dan kualitas hidup ikut membaik.

Bagi Kabupaten Pacitan yang memiliki karakter wilayah perbukitan karst, pembangunan jaringan distribusi air memiliki nilai strategis karena tidak semua desa memiliki sumber mata air yang melimpah.

Efisiensi Anggaran Membuat Dukungan Pemerintah Pusat Sangat Dibutuhkan

Tony menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Pacitan sebenarnya tetap mengalokasikan anggaran pembangunan air minum melalui APBD setiap tahun.

Namun, kebijakan efisiensi belanja pemerintah menyebabkan ruang fiskal daerah menjadi lebih terbatas dibanding kebutuhan pembangunan yang terus meningkat.

Karena itu, pemerintah daerah secara aktif mengajukan proposal kepada Kementerian Pekerjaan Umum agar pembangunan infrastruktur dasar tetap berjalan.

“Karena anggaran daerah terbatas, kita juga mengusulkan ke Kementerian PU untuk mendukung pembangunan infrastruktur air minum,” katanya.

Model pendanaan seperti ini menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat pemerataan pelayanan publik, terutama sektor infrastruktur dasar yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Cakupan Air Minum Pacitan Terus Meningkat

Berdasarkan data Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tahun 2026, cakupan pelayanan air minum di Kabupaten Pacitan telah mencapai 83,75 persen dari total jumlah penduduk.

Capaian tersebut menunjukkan adanya perkembangan positif dibanding beberapa tahun sebelumnya. Namun demikian, masih terdapat sekitar 16 persen masyarakat yang belum menikmati akses layanan air minum layak.

Artinya, pembangunan SPAM seperti yang dilakukan tahun ini masih sangat dibutuhkan agar target pelayanan universal dapat semakin mendekati kenyataan.

Baca Juga  Pemugaran Stasiun Semarang Tawang Jadi Simbol Pelestarian Sejarah dan Modernisasi Transportasi

Selain memperluas jaringan, tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan operasional serta memastikan kualitas air tetap memenuhi standar kesehatan.

Pacitan Masih Menghadapi Ancaman Kekeringan

Meski pelayanan air minum terus meningkat, persoalan kekeringan musiman belum sepenuhnya dapat diatasi.

DPUPR mencatat terdapat 59 desa yang telah diinventarisasi sebagai wilayah rawan kekeringan sejak 2023.

Dari jumlah tersebut, sekitar 34 desa telah memperoleh intervensi melalui kolaborasi DPUPR, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Perumda Air Minum.

Namun sebagian wilayah lainnya masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Tony menjelaskan bahwa pembangunan jaringan air bersih hanya dapat dilakukan pada daerah yang masih memiliki sumber air.

Sebaliknya, desa yang sama sekali tidak memiliki sumber air tetap memerlukan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki setiap musim kemarau.

Kondisi geografis Pacitan yang didominasi kawasan perbukitan batu kapur membuat persoalan air tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun jaringan perpipaan. Pengelolaan sumber air, konservasi kawasan resapan, serta perlindungan mata air juga menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.

Pemerintah Juga Bangun Infrastruktur Sanitasi

Selain memperoleh anggaran pembangunan SPAM, Kabupaten Pacitan juga mendapatkan bantuan pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).

Keberadaan IPLT menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat.

Selama ini, sanitasi sering kali kurang mendapat perhatian dibanding penyediaan air bersih. Padahal keduanya merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.

Air bersih tanpa sistem sanitasi yang baik tetap berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan maupun gangguan kesehatan masyarakat.

Karena itu, pembangunan IPLT dinilai sebagai langkah strategis untuk mendukung target lingkungan sehat dan pengelolaan limbah domestik yang lebih baik.

Pengawasan Kualitas Air Dilakukan Secara Berkala

Pemerintah tidak hanya fokus membangun jaringan distribusi, tetapi juga memastikan air yang diterima masyarakat tetap memenuhi standar kesehatan.

Baca Juga  Iran Siapkan Hadiah Rp1 Triliun untuk Trump dan Netanyahu, Timur Tengah Kian Memanas

Setiap desa penerima program didorong membentuk Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (KPSPAM).

Kelompok tersebut bertugas mengelola operasional jaringan, melakukan pemeliharaan, serta menjaga keberlanjutan layanan.

Selain itu, kualitas air diperiksa secara berkala melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan.

Tenaga sanitarian dari puskesmas melakukan pemeriksaan setiap tiga bulan untuk memastikan air bebas dari kontaminasi bakteri berbahaya, termasuk Escherichia coli (E-coli), yang menjadi salah satu indikator utama kualitas air layak konsumsi.

Pengawasan rutin seperti ini penting agar manfaat pembangunan infrastruktur benar-benar dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Tantangan Berikutnya Adalah Pemerataan Layanan

Pembangunan SPAM senilai Rp4,5 miliar menunjukkan bahwa pemerintah terus berupaya memperluas akses air minum bagi masyarakat Pacitan.

Namun pembangunan fisik hanyalah satu bagian dari solusi.

Ke depan, pemerintah juga perlu memperkuat konservasi sumber air, meningkatkan edukasi masyarakat mengenai penggunaan air secara bijak, serta mempercepat pemerataan pelayanan bagi desa-desa yang masih bergantung pada bantuan air bersih saat musim kemarau.

Dengan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan pengelola air minum desa, target pelayanan air minum yang lebih merata bukanlah sesuatu yang mustahil dicapai.

Kucuran APBN sebesar Rp4,5 miliar untuk pembangunan SPAM di empat desa menjadi kabar baik bagi masyarakat Pacitan. Program ini tidak hanya menghadirkan jaringan perpipaan baru, tetapi juga memperkuat ketahanan daerah terhadap persoalan krisis air yang masih menjadi tantangan tahunan.

Keberhasilan pembangunan akan sangat ditentukan oleh keberlanjutan pengelolaan, kualitas air yang terjaga, serta komitmen semua pihak dalam menjaga sumber daya air. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada proyek fisik semata, melainkan benar-benar menjadi investasi bagi kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan masyarakat Pacitan. (frend/byan)

improve alexa rank