Headlineid.com – Destry Damayanti memasuki babak baru dalam sejarah Bank Indonesia setelah Komisi XI DPR menyetujuinya sebagai calon Gubernur BI periode 2026-2031. Keputusan itu lahir melalui musyawarah mufakat pada Kamis, 27 Agustus 2026, setelah Destry menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Ia menjadi calon tunggal yang diajukan Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan Perry Warjiyo.
Namun, status Destry perlu dibaca secara cermat. Komisi XI baru menetapkan persetujuan di tingkat komisi, sedangkan keputusan tersebut akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada 1 September 2026.
Jika proses berikutnya berjalan sesuai mekanisme, Destry akan menjadi perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara definitif sejak bank sentral tersebut berdiri. Tonggak tersebut sekaligus membuka pertanyaan lebih besar tentang arah kebijakan moneter Indonesia selama lima tahun mendatang.
Pergantian Gubernur BI berlangsung setelah Perry Warjiyo mundur
Pergantian kepemimpinan BI bermula dari pengunduran diri Perry Warjiyo pada 25 Juli 2026.
Pemerintah menerima keputusan tersebut dan menghormati alasan pribadi yang melatarbelakanginya. Setelah itu, Presiden Prabowo menugaskan Destry sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI.
Langkah tersebut menjaga kesinambungan komando di bank sentral. Pasalnya, kekosongan posisi gubernur tidak boleh menciptakan ketidakpastian terhadap kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan.
Destry kemudian menjalankan fungsi gubernur sementara sambil menunggu proses seleksi calon definitif. Posisi tersebut membuat dirinya menghadapi proses transisi sekaligus ujian politik dan ekonomi.
Pada 10 Agustus 2026, Presiden Prabowo mengajukan Destry sebagai calon tunggal melalui Surat Presiden kepada DPR. Proses tersebut berlanjut dengan uji kelayakan dan kepatutan pada 26-27 Agustus.
Akhirnya, Komisi XI menyetujui Destry bersama susunan pimpinan BI lainnya. Aida S. Budiman mendapat persetujuan sebagai Deputi Gubernur Senior, sedangkan Solikin M. Juhro menjadi calon Deputi Gubernur.
Destry membawa pengalaman panjang dari riset hingga bank sentral
Destry Damayanti bukan wajah baru dalam kebijakan ekonomi nasional.
Ia lahir di Jakarta pada 1963 dan menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia. Setelah itu, ia meraih gelar Master of Science dari Cornell University di Amerika Serikat.
Kariernya bermula dari dunia riset ekonomi. Ia pernah menjadi asisten peneliti Harvard Institute for International Development.
Pengalamannya juga mencakup Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Badan Analisa Keuangan dan Moneter Kementerian Keuangan.
Selanjutnya, Destry masuk lebih dalam ke industri keuangan. Ia pernah menjadi ekonom Citibank Indonesia dan penasihat ekonomi untuk Duta Besar Inggris di Indonesia.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas. Ia juga pernah menjabat Kepala Ekonom Bank Mandiri.
Pengalaman tersebut memberinya perspektif dari sisi pemerintah, perbankan, pasar modal, hingga kebijakan moneter.
Destry juga pernah memimpin Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN. Selain itu, ia menjadi anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan pada 2015-2019.
Pada 2015, Presiden Joko Widodo menunjuk Destry sebagai Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK. Pengalaman itu memperlihatkan keterlibatannya dalam proses seleksi pejabat publik strategis.
Titik penting kariernya terjadi pada 2019. Saat itu, Destry terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior BI.
Ia kembali dipercaya menjalani periode kedua pada 2024. Karena itu, Destry memasuki kontestasi gubernur dengan pengalaman internal BI yang cukup panjang.
Sejarah perempuan dimulai, tetapi independensi menjadi ujian utama
Pengangkatan Destry membawa makna yang lebih besar daripada pergantian jabatan.
Selama puluhan tahun, kursi tertinggi BI belum pernah ditempati perempuan secara definitif. Karena itu, kepemimpinan Destry menjadi simbol perubahan representasi perempuan dalam kebijakan ekonomi nasional.
Namun, simbol tidak cukup untuk mengukur keberhasilan seorang gubernur bank sentral.
Tantangan pertama justru terletak pada independensi BI. Bank sentral harus menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
DPR sendiri telah menyoroti isu tersebut ketika menguji Destry. Anggota Komisi XI Harris Turino meminta kepastian mengenai kemampuan Destry menjaga independensi BI.
Persoalan itu relevan karena pemerintah memiliki agenda pertumbuhan ekonomi yang agresif. Di sisi lain, bank sentral memiliki mandat kebijakan yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan fiskal pemerintah.
Ketika pemerintah membutuhkan pertumbuhan lebih cepat, misalnya, tekanan terhadap kebijakan moneter bisa meningkat. Sebaliknya, BI harus mempertimbangkan inflasi, nilai tukar, stabilitas keuangan, dan ekspektasi pasar.
Karena itu, Destry akan menghadapi kebutuhan untuk membangun koordinasi tanpa kehilangan jarak kelembagaan.
Reuters juga mencatat bahwa Destry menekankan pentingnya independensi BI. Ia sekaligus menyatakan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan stabilitas keuangan.
Keseimbangan tersebut akan menjadi ukuran penting kepemimpinannya. Pasar tidak hanya membutuhkan kebijakan yang tepat, tetapi juga membutuhkan kepastian mengenai proses pengambilan keputusan.
Tantangan Destry tidak berhenti pada nilai tukar rupiah
Kurs rupiah akan menjadi salah satu ujian paling mudah terlihat.
Namun, tugas gubernur BI jauh lebih luas daripada menjaga angka rupiah. Destry harus menghadapi inflasi, stabilitas perbankan, sistem pembayaran, arus modal, dan perkembangan ekonomi global.
Selain itu, struktur ekonomi Indonesia terus berubah. Perubahan perdagangan dunia dapat memengaruhi ekspor dan penerimaan devisa.
Harga komoditas juga dapat bergerak tajam akibat konflik geopolitik dan perubahan permintaan global. Situasi tersebut dapat memengaruhi nilai tukar sekaligus neraca transaksi berjalan.
Pada saat yang sama, pemerintah membutuhkan dukungan kebijakan untuk mendorong investasi dan pertumbuhan. BI harus memastikan dukungan tersebut tidak mengorbankan stabilitas harga.
Dengan pengalaman panjang di pasar keuangan, Destry memiliki modal untuk membaca persoalan tersebut. Akan tetapi, pengalaman tidak otomatis menjamin kebijakan selalu tepat.
Kualitas kepemimpinan justru terlihat ketika tekanan meningkat. Keputusan sulit akan datang ketika kepentingan pertumbuhan bertemu dengan kebutuhan stabilitas.
Destry menambah jumlah perempuan di pucuk bank sentral dunia
Kehadiran Destry juga menempatkan Indonesia dalam perubahan global yang lebih luas.
Penelusuran hingga Agustus 2026 menunjukkan perempuan telah memimpin sejumlah bank sentral dan otoritas moneter dunia. Kehadiran mereka tersebar di Asia-Pasifik, Eropa, Amerika, dan Afrika.
Nama Michele Bullock memimpin Reserve Bank of Australia. Sementara itu, Christine Lagarde memimpin Bank Sentral Eropa.
Elvira Nabiullina memimpin Bank Sentral Rusia. Di kawasan Asia Tenggara, sejumlah perempuan juga telah memimpin lembaga moneter.
Chea Serey memimpin bank sentral Kamboja. Laos juga memiliki Bounkham Vorachit sebagai pemimpin bank sentralnya.
Kehadiran perempuan di posisi tersebut tetap belum menjadi gambaran mayoritas. Karena itu, keputusan terhadap Destry membawa pesan bahwa kompetensi perempuan semakin mendapat ruang dalam pengambilan kebijakan ekonomi.
Namun, ukuran keberhasilannya tetap berada pada hasil kebijakan. Pasar dan masyarakat akan menilai keputusan berdasarkan dampaknya terhadap harga, pekerjaan, kredit, investasi, dan daya beli.
Kebijakan Destry akan menentukan rasa aman masyarakat
Bagi masyarakat, kebijakan BI sering terasa seperti angka yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Padahal, keputusan suku bunga dapat memengaruhi cicilan rumah dan kredit usaha. Kebijakan likuiditas juga dapat menentukan ruang bank dalam menyalurkan pembiayaan.
Inflasi pun langsung menyentuh kehidupan keluarga. Ketika harga pangan meningkat, daya beli masyarakat ikut tertekan.
Karena itu, kepemimpinan Destry memiliki konsekuensi yang sangat nyata. Stabilitas moneter bukan sekadar persoalan teknis bagi para ekonom.
Di tingkat rumah tangga, stabilitas berarti harga lebih terkendali. Bagi pelaku usaha, stabilitas berarti biaya pembiayaan lebih dapat diperkirakan.
Bagi investor, stabilitas berarti kepastian mengenai arah kebijakan. Sementara bagi pemerintah, stabilitas memberi ruang untuk menjalankan program ekonomi.
Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, titik krusial Destry berada pada kemampuan menjaga keseimbangan tersebut. Ia harus mampu bekerja bersama pemerintah tanpa membuat pasar meragukan independensi BI.
Arah Kebijakan ke Depan: Stabilitas harus berjalan bersama pertumbuhan
Destry memasuki kursi gubernur dengan modal pengalaman yang panjang. Namun, periode 2026-2031 juga membawa tantangan yang berbeda dari masa sebelumnya.
Karena itu, BI membutuhkan komunikasi kebijakan yang konsisten. Pasar harus memahami alasan di balik setiap keputusan besar.
Selain itu, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal perlu berjalan transparan. Koordinasi tidak boleh berubah menjadi hilangnya batas kewenangan.
Destry juga perlu memperkuat kebijakan yang berdampak langsung kepada sektor produktif. Kredit harus mengalir ke usaha yang menciptakan pekerjaan dan meningkatkan kapasitas ekonomi.
Pada saat bersamaan, pengawasan risiko sektor keuangan harus tetap ketat. Pertumbuhan kredit tanpa pengendalian risiko dapat menciptakan persoalan baru.
Jika proses pengangkatannya selesai sesuai mekanisme, Destry akan memimpin BI dalam periode penuh tekanan. Ia bukan hanya membawa sejarah sebagai perempuan pertama.
Ia juga membawa tanggung jawab menjaga kepercayaan terhadap rupiah dan bank sentral. Keberhasilan itu akhirnya akan ditentukan oleh satu hal sederhana.
Apakah masyarakat merasakan ekonomi yang lebih stabil, sementara pertumbuhan tetap membuka lebih banyak kesempatan hidup?
Catatan Editorial Headline Indonesia
Sejarah memang dimulai ketika nama Destry Damayanti memasuki puncak kepemimpinan BI.
Namun, sejarah tidak akan berhenti pada seremoni pengangkatan. Nilai sebenarnya akan terlihat dari keputusan yang ia ambil ketika tekanan ekonomi dan politik datang bersamaan.
Kursi gubernur BI membutuhkan keberanian menjaga stabilitas. Pada saat yang sama, kursi tersebut menuntut keberanian mengatakan tidak ketika kepentingan jangka pendek mengancam fondasi ekonomi.
Di titik itulah kepemimpinan Destry akan diuji. Bukan karena ia perempuan, melainkan karena ia memegang salah satu kunci utama kepercayaan ekonomi Indonesia.
Editor : Joko Wiyono




