Pacitan, Headlineid.com — Jawa Timur tak pernah kehabisan tempat yang menyimpan cerita mistis dan nilai spiritual tinggi. Salah satunya adalah Gunung Limo, sebuah gunung yang berlokasi di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan.
Gunung ini bukan sekadar hamparan alam biasa. Bagi masyarakat setempat, Gunung Limo adalah tempat yang penuh aura spiritual kuat, bahkan dianggap keramat oleh banyak kalangan.
Nama “Limo” sendiri memiliki makna mendalam. Secara filosofis, nama ini diartikan sebagai ajakan untuk menunaikan salat lima waktu — sebuah pengingat bahwa tempat ini sejatinya suci dan penuh berkah.
Lantas, apa saja fakta mistis di balik Gunung Limo yang jarang diketahui orang? Berikut ulasan lengkapnya.
1. Watu Lawang, Gerbang Keramat yang Hanya Bisa Dilewati Orang Berhati Bersih
Salah satu daya tarik paling terkenal di Gunung Limo adalah Watu Lawang, atau dikenal juga sebagai Gerbang Wahyu Setangkep.
Gerbang ini berupa celah batu alami dengan kedalaman sekitar 7 meter, namun lebarnya hanya 23 sentimeter. Ukurannya yang sangat sempit menjadikannya lebih dari sekadar jalur biasa.
Menurut Sunaryo, juru kunci Gunung Limo, gerbang ini merupakan pintu masuk menuju tempat moksanya Resi Eyang Tunggul Wulung — seorang tokoh penyebar agama Islam di wilayah tersebut.
Kepercayaan masyarakat setempat mengatakan bahwa hanya orang yang memiliki hati bersih yang mampu melewati celah sempit ini dengan mudah. Sebaliknya, mereka yang menyimpan niat buruk atau kerap berucap kasar dipercaya akan kesulitan, bahkan bisa terhimpit di antara bebatuan saat mencoba melintas.
“Adat Jawa itu harus punya sopan santun, apalagi di Gunung Limo,” pesan Sunaryo.
2. Pertapaan Tunggul Wulung dan Nyai Abang, Dua Sisi Kehidupan
Di kawasan pertapaan Gunung Limo, terdapat dua tempat sakral yang memiliki makna berlawanan namun saling melengkapi.
Pertapaan Tunggul Wulung melambangkan ketaatan dan kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Sementara itu, Pertapaan Nyai Abang dianggap sebagai simbol jalan yang mengarah pada keingkaran terhadap Tuhan.
Pengunjung yang datang ke area ini sangat dianjurkan untuk menjaga perilaku dan tutur kata. Segala bentuk candaan yang tidak sopan, apalagi tindakan yang melanggar norma, sangat dipantang keras di kawasan ini.
3. Upacara Adat Tetaken, Warisan Budaya Tak Benda Berusia Ratusan Tahun
Gunung Limo juga menjadi rumah bagi tradisi leluhur yang masih lestari hingga kini, yakni upacara adat Tetaken.
Ritual ini menggambarkan prosesi wisudanya para pertapa yang telah menyelesaikan pendidikan spiritual di Padepokan Tunggul Wulung. Keberhasilan itu kemudian disambut dengan rasa syukur oleh keluarga dan masyarakat sekitar.
Tetaken rutin digelar setiap tanggal 1 Suro (Muharram), dilanjutkan dengan upacara pada tanggal 15 Suro. Ritual ini kental dengan nuansa mistis-religius yang khas budaya Jawa.
Pada tahun 2020, Tetaken resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud RI, dengan nomor registrasi 202001176. Sebuah pengakuan penting atas kekayaan budaya lokal yang tak ternilai.
Adapun nama “Limo” merujuk pada gugusan lima gunung di Desa Mantren, yaitu Gunung Gembuk, Pakis Cakar, Lanang, Kukusan, dan Limo itu sendiri.
4. Dihuni Ribuan Makhluk Tak Kasat Mata
Inilah fakta yang paling banyak dibicarakan dan membuat bulu kuduk berdiri.
Banyak pendaki mengaku merasakan suasana yang berbeda begitu mereka melintas di antara bebatuan besar di kawasan ini. Hawa dingin mendadak dan perasaan tidak sendirian sering kali menyertai perjalanan mereka.
Berbagai tokoh spiritual meyakini bahwa Gunung Limo dihuni oleh ribuan makhluk gaib dari berbagai wujud. Mulai dari sosok ular raksasa, jin, tuyul, siluman, hingga penampakan nenek-nenek tua yang tiba-tiba muncul lalu menghilang.
Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan niat banyak orang untuk berkunjung. Gunung Limo justru ramai didatangi para pelaku spiritual dari berbagai daerah untuk berdoa, bermeditasi, dan melakukan tirakat.
5. Simbol Batas Dimensi Gaib Pantai Selatan
Fakta ini mungkin yang paling mengejutkan dari semua yang ada.
Seorang pendaki spiritual bernama Kinan Dewe mengungkapkan bahwa Gunung Limo bukan sekadar tempat pertapaan biasa. Menurutnya, gunung ini berperan sebagai simbol batas dimensi gaib yang berkaitan langsung dengan kekuasaan Pantai Selatan Jawa.
Ia membagi wilayah kekuasaan gaib Pantai Selatan menjadi tiga bagian. Gunung Limo disebutnya berada di batas tengah, yakni kawasan yang membentang dari Pantai Pangandaran hingga pesisir sekitar Pacitan dan Kecamatan Lorok.
“Tentu saja ini hanya dipercaya oleh para pelaku spiritualis. Hal ini tergantung keyakinan masing-masing individu,” ujar Kinan.
6. Pongaan, Surga Pemandangan di Atas Awan
Di balik nuansa mistisnya, Gunung Limo juga menawarkan keindahan alam yang memanjakan mata.
Terdapat sebuah spot bernama Pongaan — dari kata Jawa pengungakan yang berarti tempat untuk melihat-lihat dari ketinggian. Lokasi ini menjadi pemberhentian pertama setelah melewati Watu Lawang, sebelum menuju goa.
Di Pongaan, para pendaki dapat beristirahat sambil menikmati hamparan alam Pacitan dari ketinggian. Pemandangan yang tersaji sungguh memukau, menjadi penawar lelah setelah menempuh jalur yang curam dan menantang. (frend/masson)




