Pacitan, Headlineid.com — Pacitan memang terkenal dengan panorama pantainya yang memukau dan gua-gua eksotisnya. Namun ada sisi lain dari kabupaten ini yang tak kalah berharga — kekayaan budayanya.
Dari puluhan karya budaya yang tersebar di berbagai kecamatan, enam di antaranya telah resmi mendapat pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Berikut ulasan lengkapnya.
1. Wayang Beber — Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo

Wayang Beber adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tertua di tanah Jawa. Berbeda dari wayang kulit atau golek, kesenian ini menggunakan lembaran-lembaran bergambar yang dibentangkan di hadapan dalang, lalu diceritakan adegan demi adegan kepada penonton.
Pemerintah resmi menetapkan Wayang Beber Pacitan sebagai warisan budaya nasional kategori Tradisi dan Ekspresi Lisan pada tahun 2015. Eksemplar tertua dari kesenian ini tersimpan dan dijaga di Desa Karang Talun, Kelurahan Gedompol, Kecamatan Donorojo — dirawat turun-temurun oleh seorang tokoh yang dikenal sebagai Mbah Mardi.
Dalam satu pertunjukan, Wayang Beber Pacitan dimainkan oleh lima orang. Empat musisi memainkan rebab, kendang, kenong laras slendro, dan gong, sementara satu orang berperan sebagai dalang. Duplikat wayang ini juga bisa ditemukan di Desa Nanggungan, Kecamatan Pacitan, sementara artefak aslinya tetap dikeramatkan di desa asal.
Menariknya, pelestarian kesenian ini terus berkembang. Komunitas Wayang Beber Sakabendino (WBS) bahkan pernah membawa seni ini hingga ke panggung internasional di Jepang.
2. Ceprotan — Desa Sekar, Kecamatan Donorojo

Dua tahun setelah Wayang Beber, giliran upacara adat Ceprotan yang dinobatkan sebagai WBTB pada 2017, dalam kategori Adat Istiadat, Ritus, dan Perayaan.
Upacara ini digelar setiap bulan Dzulqaidah (Longkang) pada hari Senin Kliwon, bertempat di lapangan Dewa Sekartaji, Desa Sekar. Prosesinya dimulai dengan pengarakan kelapa muda yang dimasukkan ke dalam keranjang bambu anyaman renggang, dibawa oleh para pemuda desa menuju lokasi upacara.
Puncak acara berlangsung saat senja tiba. Diawali dengan Tarian Surup atau “Terbenamnya Matahari”, dilanjutkan doa dari juru kunci, lalu kepala desa merepresentasikan sosok Ki Godeg — tokoh legendaris yang dipercaya berhubungan dengan asal-usul desa — sementara istrinya mewujudkan Dewi Sekartaji.
Bagian paling ikonik dari Ceprotan adalah saat dua kubu pemuda saling melempar kelapa muda yang telah direndam hingga tempurungnya melunak. Di antara kedua kubu itu diletakkan seekor ayam panggang utuh sebagai sesaji. Tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan ritual penuh makna spiritual yang dijaga dengan penuh hormat.
3. Kethek Ogleng — Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan

Jika Wayang Beber lahir dari tradisi panjang, maka Kethek Ogleng punya cerita penciptaan yang lebih personal. Kesenian ini diciptakan oleh seorang petani bernama Sutiman pada tahun 1963, saat ia baru berusia 18 tahun.
Nama “Kethek Ogleng” berasal dari dua sumber: kethek berarti kera dalam bahasa Jawa, dan ogleng meniru bunyi gamelan yang berbunyi gleng-gleng. Gerak tarinya memang meniru kelincahan kera, dengan energi yang lincah dan penuh ekspresi.
Ditetapkan sebagai WBTB pada 2019 dalam kategori Seni Pertunjukan, tari ini berkembang pesat setelah Dinas Pendidikan Pacitan meminta Sutiman menambahkan alur cerita rakyat Panji Asmorobangun. Jadilah Kethek Ogleng memiliki enam tokoh utama: Panji Asmorobangun, Dewi Sekartaji, Endang Rara Tompe, Punakawan, Bathara Narada, dan Wanaraseta.
Kini, semangat pelestarian terus hidup melalui Sanggar Condro Wanoro yang rutin menggelar latihan untuk siswa-siswi di Desa Tokawi. Pementasan tahunan juga digelar di Monumen Jenderal Soedirman, dan tari kontemporer bertajuk Pacitan Bumi Kaloka yang terinspirasi dari Kethek Ogleng telah tampil di tingkat provinsi hingga nasional.
4. Badut Sinampurno — Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo

Nama “badut” mungkin terdengar ringan, tapi tradisi Badut Sinampurno jauh dari sekadar hiburan biasa. Kesenian asal Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo ini ditetapkan sebagai WBTB pada 2020 dalam kategori Adat Istiadat, Ritus, dan Perayaan.
Tradisi ini digelar dalam konteks ruwatan, pernikahan, atau hajatan besar lainnya. Para penarinya tampil dengan riasan khas menyerupai badut lengkap dengan topi unik, namun gerak tari mereka diiringi tembang langen bekso dan tayub — perpaduan yang menciptakan suasana sakral sekaligus meriah.
Badut Sinampurno adalah bukti bahwa seni rakyat Pacitan mampu memadukan estetika, ritual, dan kebersamaan dalam satu pertunjukan yang tak terlupakan.
5. Tetaken — Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung

Di kaki Gunung Limo, sebuah upacara tradisional bertahan dari generasi ke generasi. Namanya Tetaken — sebuah kata yang berakar dari bahasa Sansekerta dengan makna teteki atau pertapaan.
Ditetapkan sebagai WBTB pada 2020 dalam kategori yang sama dengan Badut Sinampurno, Tetaken digelar setiap bulan Muharram. Masyarakat sekitar percaya bahwa kawasan Gunung Limo menyimpan energi magis, sehingga ritual ini dijalankan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan.
Rangkaian acaranya mencakup kirab gunungan, kirab pusaka Tunggul Wulung, Ujuban Ruwat Nagari dan Umbul Donga, Rebut Berkah Tirta Rasa Darma, hingga ditutup dengan malam Tirakatan. Suasananya religius namun sederhana — sebuah perwujudan spiritualitas lokal yang mengakar kuat.
6. Brojo Geni — Desa Tremas, Kecamatan Arjosari

Tradisi terakhir sekaligus yang paling unik: Brojo Geni, atau yang dikenal luas sebagai sepak bola api khas Pesantren Tremas. Ditetapkan sebagai WBTB pada 2020 dalam kategori Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta.
Para peserta bermain sepak bola menggunakan bola yang terbuat dari kain sarung yang dibakar — tanpa alas kaki, dengan sarung digulung hingga lutut. Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun di lingkungan Pondok Pesantren Tremas, Desa Tremas, Kecamatan Arjosari.
Brojo Geni biasanya digelar pada 1 Muharram dan saat wisuda santri yang menyelesaikan pendidikan tingkat atas. Lebih dari sekadar olahraga, ini adalah ekspresi keberanian, kebersamaan, dan identitas budaya pesantren yang terus dijaga api semangatnya.
Pacitan, Lebih dari Sekadar Wisata Alam
Keenam warisan budaya takbenda ini membuktikan bahwa Pacitan adalah daerah dengan akar budaya yang dalam dan beragam. Dari seni pertunjukan, upacara adat, hingga tradisi pesantren — semuanya membentuk identitas unik masyarakat Pacitan yang patut dikenal lebih luas.
Jika kamu berencana berkunjung ke Pacitan, luangkan waktu untuk menyaksikan salah satu dari tradisi ini. Karena pengalaman budaya semacam itu tak bisa ditemukan di tempat lain mana pun. (frend/masson)




