PACITAN, Headlineid.com – Persiapan menghadapi revalidasi ketiga UNESCO Global Geopark Gunung Sewu mulai menguat menjelang agenda penilaian pada 2027. Salah satu langkahnya terlihat melalui kunjungan ke Gua Jomblang, Selasa (27/10), sebagai bagian dari penilaian pra-revalidasi kawasan geopark.
Kegiatan tersebut melibatkan Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo dan Prof. Hanang Samodra. Perwakilan dari Kabupaten Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul turut mengikuti rangkaian kegiatan bersama jajaran sekretaris daerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dinas pariwisata, serta pemangku kepentingan terkait.
Peninjauan ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan pengelolaan geosite menjelang evaluasi berikutnya. Selain menjaga keberlanjutan pengakuan internasional, persiapan tersebut membuka ruang untuk memperkuat perlindungan warisan geologi dan manfaatnya bagi masyarakat.
Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Hesti Suteki, menegaskan pentingnya peninjauan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini membantu memperkuat pengelolaan warisan geologi yang menjadi kekayaan sekaligus identitas kawasan Geopark Gunung Sewu.
Penilaian Pra-Revalidasi Menjadi Momentum Memperkuat Pengelolaan Geosite
Kunjungan ke Gua Jomblang merupakan bagian dari persiapan menghadapi revalidasi ketiga UNESCO Global Geopark Gunung Sewu. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada 2027.
Dalam keterangannya, Hesti Suteki menjelaskan bahwa peninjauan geosite bertujuan melihat sekaligus memperkuat pengelolaan warisan geologi kawasan.
“Peninjauan geosite dilakukan untuk melihat sekaligus memperkuat pengelolaan warisan geologi yang menjadi kekayaan dan identitas kawasan Geopark Gunung Sewu,” ujar Hesti.
Pernyataan tersebut menempatkan pengelolaan geosite sebagai salah satu perhatian dalam persiapan revalidasi. Keberadaan bentang alam bernilai geologi membutuhkan perhatian yang berkelanjutan agar nilai ilmiah dan daya tariknya tetap terjaga.
Namun, perlindungan warisan geologi tidak cukup mengandalkan keindahan alam semata. Pengelola juga perlu memperhatikan kondisi kawasan, pemanfaatan ruang, kegiatan wisata, serta pemahaman masyarakat mengenai nilai geologi di sekitarnya.
Karena itu, penilaian pra-revalidasi dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kesiapan pengelolaan kawasan. Langkah ini juga memberi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi sebelum agenda revalidasi berlangsung.
Gua Jomblang Menyimpan Nilai Geologi dan Potensi Edukasi
Gua Jomblang dikenal sebagai salah satu bentang alam karst yang memiliki daya tarik geologi. Keberadaannya memperlihatkan bahwa kawasan geopark memiliki nilai lebih luas daripada sekadar panorama untuk dinikmati wisatawan.
Bentang alam karst menyimpan informasi mengenai proses pembentukan dan perkembangan permukaan bumi. Oleh sebab itu, pengelolaan kawasan seperti Gua Jomblang dapat mendukung kegiatan edukasi, pengenalan geologi, serta peningkatan kesadaran terhadap konservasi alam.
Selain nilai ilmiah, geosite juga memiliki potensi mendukung pariwisata berkelanjutan. Pengunjung dapat mengenal karakter alam melalui pengalaman wisata yang mengedepankan pengetahuan dan penghormatan terhadap lingkungan.
Meski demikian, pemanfaatan untuk wisata harus berjalan seiring dengan perlindungan kawasan. Pengelola perlu menempatkan kelestarian sebagai pertimbangan utama ketika merencanakan aktivitas dan fasilitas pendukung.
Pendekatan tersebut membantu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan konservasi. Dengan begitu, potensi wisata tidak menggeser tujuan utama perlindungan warisan geologi.
Kolaborasi Tiga Kabupaten Menjadi Kunci Kesiapan Revalidasi
Geopark Gunung Sewu melibatkan kawasan yang berada di tiga kabupaten, yakni Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul. Karena itu, persiapan revalidasi membutuhkan koordinasi antardaerah dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan pra-revalidasi yang dihadiri perwakilan ketiga kabupaten memperlihatkan pentingnya komunikasi bersama dalam pengelolaan kawasan. Unsur pemerintah daerah, Bappeda, dinas pariwisata, dan pihak terkait memiliki peran sesuai kewenangan serta tanggung jawab masing-masing.
Koordinasi diperlukan agar pengembangan destinasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Perlindungan warisan geologi, penyampaian informasi kepada publik, dan pengelolaan aktivitas wisata perlu memiliki arah yang saling mendukung.
Di sisi lain, kerja sama lintas wilayah juga membuka peluang pertukaran pengalaman. Praktik pengelolaan yang berjalan baik di satu kawasan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kawasan lainnya, sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Namun, kolaborasi perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata. Pembagian tanggung jawab, pertukaran data, evaluasi berkala, dan komunikasi yang konsisten dapat membantu memastikan komitmen bersama berjalan secara berkelanjutan.
Pelestarian Harus Berjalan Seiring dengan Manfaat bagi Masyarakat
Geopark memiliki peluang untuk mendukung pendidikan, konservasi, dan kegiatan ekonomi berbasis pariwisata. Akan tetapi, manfaat tersebut bergantung pada cara pengelola dan pemangku kepentingan mengatur pemanfaatan kawasan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi perlu memperoleh ruang untuk terlibat dalam pengembangan kegiatan wisata. Keterlibatan itu dapat membuka peluang usaha sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap warisan alam setempat.
Selain itu, edukasi publik perlu menjadi bagian dari pengelolaan geosite. Informasi mengenai nilai geologi, perilaku wisata yang bertanggung jawab, dan pentingnya menjaga kawasan dapat membantu pengunjung memahami bahwa alam bukan sekadar objek rekreasi.
Pengelolaan sampah, pengawasan aktivitas pengunjung, dan perlindungan bentang alam juga perlu mendapat perhatian sesuai karakter setiap lokasi. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko kerusakan akibat pemanfaatan yang tidak terkendali.
Meski demikian, manfaat ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Kondisi lingkungan, kualitas edukasi, dan keberlanjutan pengelolaan perlu mendapat perhatian yang sama.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata dapat berkembang tanpa mengabaikan nilai warisan geologi. Masyarakat pun berpeluang memperoleh manfaat dari pengelolaan kawasan yang menjaga kelestarian alam.
Revalidasi 2027 Menuntut Komitmen yang Berkelanjutan
Agenda revalidasi pada 2027 memberikan kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapan kawasan. Peninjauan pra-revalidasi menjadi salah satu bagian dari rangkaian persiapan tersebut.
Namun, keberhasilan pengelolaan geopark tidak hanya ditentukan oleh kegiatan menjelang penilaian. Konsistensi dalam menjaga kawasan dan menjalankan program konservasi tetap diperlukan setelah agenda evaluasi selesai.
Pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memanfaatkan masa persiapan untuk meninjau kondisi geosite, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan penyampaian informasi kepada masyarakat. Evaluasi berkala juga dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan perbaikan di setiap kawasan.
Selain itu, dokumentasi pengelolaan yang baik dapat mendukung proses evaluasi. Data mengenai kegiatan konservasi, edukasi, keterlibatan masyarakat, dan pengembangan wisata akan membantu menunjukkan langkah nyata yang telah dilakukan.
Upaya tersebut perlu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing geosite. Informasi mengenai hasil penilaian pra-revalidasi secara terperinci belum tersedia dalam bahan pemberitaan ini, sehingga capaian teknisnya belum dapat disimpulkan.
Catatan Editorial Headline Indonesia: Warisan Bumi Tidak Berhenti pada Pengakuan
Persiapan revalidasi UNESCO Global Geopark Gunung Sewu seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat tanggung jawab bersama terhadap warisan geologi. Pengakuan internasional memiliki arti penting, tetapi kelestarian kawasan tetap menjadi tujuan yang harus dijaga setiap waktu.
Kunjungan ke Gua Jomblang menunjukkan perhatian terhadap pengelolaan geosite dalam rangkaian persiapan tersebut. Langkah berikutnya adalah memastikan perhatian itu berlanjut melalui pengelolaan yang konsisten, edukasi publik, dan kolaborasi antardaerah.
Pacitan, Wonogiri, dan Gunungkidul memiliki kepentingan bersama dalam menjaga kawasan geopark. Ketiganya dapat memperkuat kerja sama dengan menempatkan konservasi sebagai dasar pengembangan pariwisata.
Pada akhirnya, keberhasilan geopark tidak cukup diukur melalui pengakuan yang dipertahankan. Ukuran yang lebih mendasar ialah kemampuan seluruh pihak menjaga warisan bumi, membuka manfaat pendidikan, dan memastikan generasi mendatang tetap dapat mengenal kekayaan geologi tersebut. (Frend)






