PACITAN, HEADLINE INDONESIA – Pemerintah Kabupaten Pacitan kembali menunjukkan komitmennya menjaga lingkungan dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kurve Indonesia ASRI dan Gerakan Pangan Lestari di kawasan Songmeri, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Jumat (3/7/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Aksi ini menjadi bentuk nyata kolaborasi pemerintah dalam membangun budaya hidup bersih, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus mengajak masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga yang berkelanjutan.
Fakta Utama
- Pemerintah Kabupaten Pacitan menggelar Kurve Indonesia ASRI dan Gerakan Pangan Lestari di Songmeri, Desa Sukoharjo.
- Puluhan ASN dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mengikuti kegiatan dengan semangat gotong royong.
- Seluruh peserta membawa tumbler dan alat kebersihan sebagai bagian dari kampanye pengurangan sampah plastik sekali pakai.
- Pemerintah mengedukasi masyarakat agar tidak membakar sampah dan mulai menerapkan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.
- Gerakan Pangan Lestari mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Mengapa Kurve Indonesia ASRI Menjadi Penting?
Persoalan lingkungan kini menjadi tantangan yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia. Produksi sampah rumah tangga terus meningkat setiap tahun, sementara perubahan iklim semakin nyata dirasakan melalui cuaca ekstrem, kekeringan, hingga banjir yang semakin sering terjadi.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk menghadirkan program yang tidak hanya menyelesaikan persoalan sesaat, tetapi juga membangun perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.
Kurve Indonesia ASRI di Pacitan menjadi salah satu contoh pendekatan tersebut. Kegiatan ini mengajak aparatur sipil negara menjadi teladan dalam menjaga lingkungan melalui aksi sederhana namun berdampak besar.
Para peserta hadir mengenakan pakaian olahraga, membawa alat kebersihan, serta menggunakan tumbler sebagai pengganti botol plastik sekali pakai. Kebiasaan kecil seperti ini dinilai mampu mengurangi timbulan sampah apabila dilakukan secara konsisten.
Selain itu, peserta juga diimbau untuk tidak membakar sampah. Edukasi tersebut penting karena pembakaran sampah terbuka dapat menghasilkan polusi udara, meningkatkan emisi karbon, serta membahayakan kesehatan masyarakat.

Gotong Royong Menjadi Modal Sosial Pacitan
Puluhan aparatur sipil negara dari berbagai OPD tampak bergotong royong membersihkan kawasan Songmeri.
Kebersamaan tersebut mencerminkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup semata, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh elemen pemerintahan.
Budaya gotong royong yang telah lama menjadi identitas masyarakat Pacitan kembali diperkuat melalui kegiatan ini.
Nilai tersebut dinilai masih sangat relevan menghadapi tantangan pembangunan modern yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Maulana Heru Wiwoho Supadi Putro, mengatakan bahwa keberhasilan menjaga lingkungan tidak mungkin hanya bergantung pada regulasi pemerintah.
Menurutnya, perubahan nyata hanya dapat terwujud apabila masyarakat ikut berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui Kurve Indonesia ASRI dan Gerakan Pangan Lestari ini, kami ingin membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mengelola sampah dengan benar. Di sisi lain, pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” ujar Maulana Heru.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan seluruh perangkat daerah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi budaya dalam penyelenggaraan pemerintahan.
“Semangat gotong royong yang menjadi karakter masyarakat Pacitan harus terus dijaga. Dengan kebersamaan, kita tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga membangun kesadaran kolektif untuk mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang,” imbuhnya.
Gerakan Pangan Lestari Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga
Selain fokus pada kebersihan lingkungan, kegiatan tersebut juga membawa pesan penting mengenai ketahanan pangan.
Melalui Gerakan Pangan Lestari, masyarakat diajak memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam berbagai kebutuhan pangan seperti sayuran, cabai, tomat, rempah-rempah hingga tanaman obat keluarga.
Konsep ini menjadi semakin relevan di tengah naik turunnya harga bahan pangan dan tantangan perubahan iklim yang memengaruhi sektor pertanian.
Pekarangan rumah yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat menjadi sumber pangan sehat sekaligus membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga.
Dalam jangka panjang, gerakan ini juga mendukung program diversifikasi pangan nasional dan meningkatkan kemandirian masyarakat.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Pelaksanaan Kurve Indonesia ASRI memberikan manfaat yang tidak hanya dirasakan pada hari pelaksanaan kegiatan.
Apabila dilakukan secara rutin, budaya menjaga kebersihan akan menciptakan lingkungan yang lebih sehat, mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan, serta meningkatkan kualitas ruang publik.
Di sisi lain, pemanfaatan pekarangan melalui Gerakan Pangan Lestari mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen pangan skala rumah tangga.
Dari perspektif ekonomi, langkah tersebut berpotensi membantu menekan pengeluaran keluarga sekaligus membuka peluang usaha melalui penjualan hasil panen pekarangan.
Opini: Perubahan Besar Selalu Berawal dari Kebiasaan Kecil
Keberhasilan sebuah gerakan lingkungan sejatinya tidak diukur dari seberapa besar acara yang diselenggarakan, melainkan dari perubahan perilaku masyarakat setelah kegiatan berakhir.
Membawa tumbler sendiri, memilah sampah, tidak membakar sampah, hingga menanam sayuran di halaman rumah mungkin terlihat sederhana. Namun apabila dilakukan oleh ribuan orang setiap hari, dampaknya akan sangat signifikan bagi kualitas lingkungan.
Pacitan memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya gotong royong. Modal tersebut menjadi aset penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat.
Karena itu, Kurve Indonesia ASRI seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Program ini perlu dikembangkan menjadi gerakan sosial yang melibatkan sekolah, komunitas, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga desa-desa di seluruh Kabupaten Pacitan.
Dengan demikian, nilai kepedulian terhadap lingkungan akan tumbuh menjadi budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Komitmen Menuju Pacitan Hijau dan Berkelanjutan
Pelaksanaan Kurve Indonesia ASRI dan Gerakan Pangan Lestari menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Pacitan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan karakter masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.
Kolaborasi antara pemerintah, ASN, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam mewujudkan daerah yang bersih, sehat, produktif, dan tangguh menghadapi tantangan lingkungan maupun ketahanan pangan.
Ke depan, konsistensi pelaksanaan program semacam ini akan menjadi faktor penentu keberhasilan Pacitan dalam membangun daerah yang ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Menjaga bumi tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru dari aksi sederhana yang dilakukan bersama-sama, perubahan nyata dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi generasi hari ini maupun masa depan. (frend/yun)




