Headlineid.com – Penyebab banjir Surabaya yang masih menggenangi sejumlah ruas jalan pada Senin (22/6) akhirnya terungkap. Meski hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya sejak dini hari telah mereda, air di beberapa kawasan ternyata belum dapat surut dengan cepat.
Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya menyebut fenomena pasang air laut menjadi faktor utama yang menghambat proses pembuangan air dari sistem drainase menuju sungai dan laut.
Kondisi tersebut membuat rumah pompa yang selama ini menjadi andalan pengendalian banjir tidak dapat bekerja secara maksimal karena muncul fenomena aliran balik atau backwater.
Fakta Utama
- Sedikitnya 17 titik banjir tercatat di Surabaya akibat hujan deras sejak dini hari.
- Pasang air laut menghambat aliran air dari drainase menuju Kali Greges dan wilayah hilir lainnya.
- Rumah pompa tetap beroperasi, namun efektivitasnya berkurang akibat fenomena backwater.
- Genangan di sejumlah titik mulai menurun secara bertahap pada Senin pagi.
- DSDABM bersama DPKP mengerahkan armada penyedot air untuk mempercepat penanganan banjir.
Pasang Air Laut Jadi Penyebab Banjir Surabaya Sulit Surut
Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa beberapa wilayah mengalami perlambatan surut karena kondisi elevasi sungai yang sedang tinggi akibat pasang air laut.
Wilayah seperti Tanjungsari dan Tambak Mayor menjadi contoh kawasan yang terdampak cukup signifikan. Air yang seharusnya mengalir menuju Kali Greges justru tertahan karena muka air sungai sedang meningkat.
Fenomena ini menyebabkan kapasitas pembuangan air dari kawasan permukiman dan jalan raya menjadi jauh lebih lambat dibanding kondisi normal.
Dalam sistem pengendalian banjir perkotaan, keberhasilan drainase tidak hanya ditentukan oleh besarnya kapasitas saluran. Faktor kondisi hilir juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan pembuangan air.
Ketika air laut mengalami pasang bersamaan dengan hujan deras, tekanan dari wilayah hilir dapat menghambat aliran air dari daratan. Akibatnya, genangan bertahan lebih lama meski hujan sudah berhenti.
Kinerja Rumah Pompa Tidak Maksimal Akibat Backwater
Adi menjelaskan bahwa seluruh rumah pompa di Surabaya tetap dioperasikan selama proses penanganan banjir berlangsung.
Namun, kondisi pasang air laut membuat proses pemompaan menghadapi tantangan besar. Air yang dipompa menuju saluran pembuangan berpotensi kembali masuk akibat tekanan dari arah berlawanan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai backwater atau aliran balik.
Dalam kondisi normal, rumah pompa berfungsi mempercepat perpindahan air dari kawasan genangan menuju sungai atau laut. Akan tetapi, ketika elevasi air laut lebih tinggi dari saluran pembuangan, efektivitas pompa otomatis menurun.
Karena itu, petugas harus menyesuaikan pola operasi pompa agar tidak memicu tekanan balik yang justru memperparah genangan.
Langkah ini menjadi bagian penting dari manajemen banjir perkotaan yang harus mempertimbangkan faktor cuaca sekaligus dinamika pasang surut laut.
Anomali Cuaca di Musim Kemarau Perparah Risiko Genangan
Selain pasang air laut, DSDABM juga menyoroti kondisi cuaca yang dinilai tidak biasa.
Secara umum, periode Juni hingga Juli identik dengan musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur. Namun tahun ini terjadi hujan berintensitas tinggi yang datang bersamaan dengan kenaikan muka air laut.
Kombinasi dua faktor tersebut menciptakan tekanan besar terhadap sistem pengendalian banjir kota.
Fenomena cuaca ekstrem seperti ini semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah penelitian iklim menunjukkan bahwa perubahan pola cuaca global berpotensi meningkatkan frekuensi hujan ekstrem di wilayah perkotaan.
Bagi kota pesisir seperti Surabaya, tantangan tersebut menjadi lebih kompleks karena harus menghadapi ancaman dari dua arah sekaligus, yakni curah hujan tinggi dari daratan dan pasang air laut dari kawasan pesisir.
Situasi ini menunjukkan pentingnya adaptasi infrastruktur perkotaan terhadap perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Titik Banjir Surabaya Mulai Berangsur Surut
Meski masih terdapat sejumlah kawasan yang tergenang, kondisi di beberapa titik mulai menunjukkan perkembangan positif.
Jalan Imam Bonjol, Jalan Kartini, dan kawasan Ngagel menjadi wilayah yang mengalami penurunan tinggi genangan secara bertahap.
Perkembangan serupa juga terlihat di wilayah Greges dan Petekan yang sebelumnya mencatat ketinggian air mendekati 200 sentimeter.
Menurut data lapangan yang dihimpun petugas drainase, elevasi genangan di kawasan tersebut mulai turun ke kisaran 170 hingga 180 sentimeter.
Penurunan ini menjadi indikator bahwa sistem drainase perlahan kembali bekerja seiring mulai berkurangnya tekanan dari pasang air laut.
Meski demikian, petugas tetap melakukan pemantauan intensif untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan air susulan apabila cuaca kembali memburuk.
DSDABM dan DPKP Kerahkan Armada Penyedot Air
Untuk mempercepat proses penanganan banjir, DSDABM berkolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya.
Sejumlah armada penyedot air diterjunkan ke titik-titik yang mengalami genangan cukup tinggi.
Fokus penanganan dilakukan di kawasan Tanjungsari, Tambak Mayor, Kyai Tambak Deres, Ngagel, Bratang, dan beberapa lokasi lain yang masih membutuhkan percepatan pengurangan genangan.
Selain penyedotan air, petugas juga melakukan inspeksi saluran drainase guna memastikan tidak terdapat sampah maupun material lain yang menghambat aliran air.
Langkah tersebut penting karena penyumbatan saluran dapat memperlambat proses surut meskipun kapasitas pompa telah dioptimalkan.
Mengapa Penyebab Banjir Surabaya Ini Penting Diketahui Masyarakat?
Informasi mengenai penyebab banjir Surabaya menjadi penting karena membantu masyarakat memahami bahwa genangan tidak selalu disebabkan oleh curah hujan semata.
Dalam kasus kali ini, faktor pasang air laut berperan besar terhadap lambatnya proses surut air.
Pemahaman tersebut dapat meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga saluran drainase tetap bersih sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat sistem pengendalian banjir.
Bagi Surabaya sebagai kota metropolitan sekaligus kawasan pesisir, tantangan pengelolaan air diperkirakan akan semakin besar di masa mendatang.
Karena itu, penguatan infrastruktur drainase, modernisasi rumah pompa, peningkatan kapasitas tampungan air, serta sistem peringatan dini berbasis cuaca menjadi langkah strategis yang perlu terus dikembangkan agar risiko banjir dapat diminimalkan ketika hujan ekstrem dan pasang laut terjadi secara bersamaan.
Sebagai media yang mengedepankan informasi akurat dan berbasis data, Headline Indonesia menilai peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pengendalian banjir di kota besar tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan adaptasi terhadap perubahan cuaca dan dinamika lingkungan yang terus berkembang. (frend/masson)




