Headlineid.com – Penggunaan smartphone terus melekat dalam aktivitas harian, mulai dari bekerja hingga berkomunikasi. Di tengah kebiasaan itu, SAR HP menjadi salah satu ukuran untuk membaca paparan energi radiofrekuensi tubuh.
Specific Absorption Rate atau SAR mengukur energi elektromagnetik yang diserap jaringan tubuh. Satuannya adalah watt per kilogram atau W/kg.
Namun, angka SAR sering menimbulkan salah tafsir. Nilai tinggi tidak otomatis berarti sebuah ponsel membahayakan kesehatan penggunanya.
Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan hasil pengujian pada kondisi tertentu. Penggunaan nyata dapat menghasilkan paparan berbeda karena ponsel menyesuaikan daya pancarnya.
Angka SAR HP bukan ukuran bahaya secara langsung
Secara fisika, sinyal seluler termasuk radiasi non-ionisasi. Energinya tidak sama dengan sinar-X atau sinar gamma yang memiliki energi ionisasi.
WHO menjelaskan bahwa efek utama radiofrekuensi pada tubuh berkaitan dengan pemanasan jaringan. Namun, paparan pada tingkat umum belum menunjukkan bukti konsisten mengenai dampak kesehatan yang merugikan.
Karena itu, regulator menetapkan batas paparan sebelum perangkat beredar. Tujuannya bukan sekadar mengatur produsen, tetapi juga memberi perlindungan bagi masyarakat.
Di Eropa, batas SAR untuk kepala berada pada 2 W/kg. Pengujian menggunakan rata-rata 10 gram jaringan tubuh.
Sementara itu, Amerika Serikat menggunakan batas lokal 1,6 W/kg. FCC menerapkan angka tersebut dengan rata-rata satu gram jaringan tubuh.
Perbedaan metode ini membuat angka SAR antarwilayah tidak selalu bisa dibandingkan secara langsung. Konsumen perlu melihat standar pengujian sebelum menyimpulkan sebuah perangkat lebih berisiko.
Daftar ponsel dengan SAR tinggi perlu dibaca secara hati-hati
Sejumlah model lama sering muncul dalam daftar ponsel dengan nilai SAR relatif tinggi. Data yang menjadi bahan artikel ini mencantumkan beberapa perangkat berikut.
Motorola Edge tercatat sekitar 1,79 W/kg. ZTE Axon 11 5G berada pada angka 1,59 W/kg.
Kemudian, OnePlus 6T tercatat 1,55 W/kg. Sony Xperia XA2 Plus berada pada sekitar 1,41 W/kg.
Google Pixel 3XL memiliki angka sekitar 1,39 W/kg. Google Pixel 4a tercatat sekitar 1,37 W/kg.
Oppo Reno5 5G juga tercatat 1,37 W/kg. Sony Xperia XZ1 Compact berada pada angka 1,36 W/kg.
Selanjutnya, Google Pixel 3 mencatat sekitar 1,33 W/kg. OnePlus 6 juga berada pada kisaran 1,33 W/kg.
Namun, daftar tersebut tidak boleh dibaca sebagai daftar ponsel berbahaya. Nilai pengujian harus dibandingkan dengan standar yang berlaku dan metode pengukurannya.
Bahkan, angka pengujian maksimum tidak menggambarkan seluruh penggunaan harian. Uni Eropa menjelaskan bahwa ponsel menjalani pengujian dalam kondisi daya tertinggi. Dalam praktiknya, kontrol daya perangkat dapat menurunkan keluaran ketika daya besar tidak diperlukan.
Sinyal lemah dapat membuat ponsel bekerja lebih keras
Ada satu faktor yang sering luput dari perhatian pengguna. Kekuatan sinyal jaringan dapat memengaruhi daya transmisi ponsel.
Ketika sinyal kuat, perangkat tidak perlu memancarkan daya sebesar kondisi jaringan yang buruk. Sebaliknya, sinyal lemah dapat membuat perangkat meningkatkan daya agar koneksi tetap stabil.
Kondisi tersebut bisa terjadi ketika pengguna berada di basement, gedung dengan banyak penghalang, atau wilayah dengan cakupan jaringan terbatas. Karena itu, angka SAR laboratorium tidak selalu menggambarkan paparan setiap saat.
Jarak juga memainkan peran besar. Ketika ponsel menjauh dari tubuh, paparan radiofrekuensi dapat turun dengan cepat.
Karena alasan itu, penggunaan speakerphone atau headset dapat mengurangi kedekatan perangkat dengan kepala. IARC juga pernah menyarankan penggunaan perangkat hands-free sebagai salah satu cara mengurangi paparan sambil menunggu bukti ilmiah yang lebih definitif.
Status “mungkin karsinogenik” bukan berarti HP terbukti menyebabkan kanker
Bagian ini sering menjadi sumber kepanikan publik. IARC mengklasifikasikan radiofrekuensi elektromagnetik sebagai Group 2B atau mungkin karsinogenik bagi manusia.
Klasifikasi tersebut berasal dari evaluasi tahun 2011. Saat itu, bukti pada manusia dinilai terbatas untuk beberapa jenis tumor, sementara bias dan faktor pengganggu belum dapat dikesampingkan.
Artinya, kategori tersebut tidak sama dengan pernyataan bahwa ponsel terbukti menyebabkan kanker. IARC sendiri tidak menetapkan besaran risiko kanker melalui klasifikasi tersebut.
Perkembangan riset juga belum menghasilkan jawaban sederhana. Dalam agenda evaluasi terbaru, IARC mencatat bukti kanker pada manusia masih bercampur.
Badan tersebut menilai sejumlah bukti baru layak mendorong evaluasi ulang RF-EMF. Namun, perubahan klasifikasi belum dapat dipastikan.
Dengan demikian, sikap paling rasional bukan mengabaikan kekhawatiran. Sebaliknya, pengguna perlu memahami tingkat ketidakpastian ilmiah secara proporsional.
Dampak terbesar justru muncul dari cara masyarakat memahami angka SAR
Persoalan SAR bukan hanya persoalan teknologi. Cara informasi tersebut dikonsumsi juga menentukan respons masyarakat.
Angka 1,79 W/kg, misalnya, terlihat mengkhawatirkan ketika berdiri sendirian. Padahal, angka tersebut berasal dari skenario pengujian tertentu.
Tanpa konteks standar, metode pengukuran, dan kondisi pemakaian, angka SAR mudah berubah menjadi sumber ketakutan. Padahal, regulasi memang merancang batas tersebut sebagai instrumen keselamatan publik.
Berdasarkan telaah sumber regulator dan lembaga kesehatan, Headline Indonesia melihat satu hal yang sering terabaikan. Konsumen membutuhkan transparansi, bukan sekadar angka spesifikasi.
Produsen seharusnya menjelaskan nilai SAR bersama metode pengujian. Penjual juga perlu menghindari klaim kesehatan yang tidak didukung bukti ilmiah.
Di sisi lain, konsumen dapat membandingkan nilai SAR tanpa menganggap angka tersebut sebagai diagnosis risiko kesehatan. Pendekatan itu jauh lebih masuk akal daripada memilih perangkat hanya berdasarkan satu angka.
Cara sederhana mengurangi paparan radiofrekuensi dari HP
Pengguna tidak perlu berhenti memakai smartphone untuk mengurangi paparan. Beberapa perubahan kebiasaan dapat menjaga jarak perangkat dari tubuh.
Pertama, gunakan speakerphone ketika melakukan panggilan panjang. Headset juga dapat menjadi pilihan karena perangkat tidak menempel langsung pada kepala.
Kedua, hindari melakukan panggilan panjang ketika sinyal sangat lemah. Pada kondisi tersebut, ponsel dapat meningkatkan daya transmisinya untuk mempertahankan koneksi.
Ketiga, beri jarak antara perangkat dan tubuh ketika tidak diperlukan. Jangan selalu menempelkan ponsel pada tubuh sepanjang waktu.
Selain itu, pengguna dapat membaca informasi SAR pada halaman resmi produsen. Data tersebut lebih berguna jika konsumen memahami standar pengujiannya.
WHO menyebut belum ada bukti konsisten mengenai efek kesehatan merugikan dari paparan RF pada tingkat di bawah ambang yang menyebabkan pemanasan jaringan. Namun, organisasi tersebut tetap mendorong penelitian lanjutan karena penggunaan ponsel sangat luas.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Kekhawatiran terhadap SAR HP tidak seharusnya dijawab dengan kepanikan. Sebaliknya, masyarakat membutuhkan informasi yang jernih, standar pengujian yang transparan, dan riset yang terus diperbarui.
Teknologi komunikasi akan terus berubah. Karena itu, standar keselamatan juga harus mengikuti perubahan perangkat, jaringan, serta pola penggunaan masyarakat.
Bagi konsumen, langkah paling masuk akal tetap sederhana. Kenali angka SAR, pahami konteksnya, dan kurangi paparan dengan menjaga jarak perangkat.
Pada akhirnya, persoalan bukan memilih antara percaya atau takut terhadap smartphone. Pilihan yang lebih dewasa adalah memahami risikonya berdasarkan bukti, bukan berdasarkan angka yang berdiri sendirian.
Editor : Frend



