PACITAN, HEADLINE INDONESIA-Pacitan kembali mencatat dinamika menarik dalam pergerakan harga kebutuhan pokok. Pada minggu ketiga Juni 2026, Kabupaten Pacitan mengalami deflasi sebesar 0,23 persen.
Penurunan ini terutama dipicu oleh turunnya harga komoditas pangan strategis seperti cabai rawit, cabai merah, dan minyak goreng. Data ini menunjukkan adanya perbaikan pasokan di tingkat pasar lokal.
Berdasarkan data yang diolah dari Badan Pusat Statistik, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Pacitan masih berada dalam kategori fluktuatif, namun relatif terkendali dibanding sejumlah daerah lain di Jawa Timur.
Apa yang terjadi di Pacitan?
Deflasi 0,23 persen berarti terjadi penurunan rata-rata harga barang dan jasa pada periode tersebut. Dalam konteks Pacitan, penurunan ini bukan disebabkan melemahnya daya beli secara ekstrem, melainkan lebih pada turunnya harga komoditas pangan tertentu.
Cabai dan minyak goreng menjadi faktor dominan. Dua komoditas ini memang dikenal sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dan distribusi.
Secara nasional, IPH Pacitan tercatat berada di peringkat 291. Di tingkat Jawa Timur, Pacitan menempati urutan ke-16 dari 27 daerah yang mengalami perubahan IPH pada periode yang sama.

Mengapa harga cabai dan minyak goreng sangat berpengaruh?
Komoditas hortikultura seperti cabai memiliki karakter harga yang sangat fluktuatif. Faktor cuaca, distribusi, hingga pola panen petani sangat menentukan harga di pasar.
Ketika pasokan melimpah, harga bisa turun tajam. Sebaliknya, gangguan distribusi sedikit saja bisa membuat harga melonjak.
Minyak goreng juga memiliki pola serupa. Meski lebih stabil dibanding cabai, harga minyak tetap dipengaruhi rantai pasok nasional, termasuk kebijakan distribusi dan stok industri.
Menurut Kepala Bagian Perekonomian Setda Pacitan, Ayub Setyo Budi, kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan pasokan di pasar lokal.
“Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi adalah cabai rawit, cabai merah, dan minyak goreng. Ini menunjukkan pasokan relatif lebih baik sehingga harga turun,” ujarnya.
Tren harga Pacitan sepanjang 2026: masih fluktuatif
Jika dilihat lebih luas, pergerakan harga di Pacitan sepanjang 2026 belum sepenuhnya stabil.
Data menunjukkan:
- IPH year on year (y-on-y): 0,15 persen
- IPH year to date (y-to-d): -1,04 persen
- IPH month to month (m-to-m): -1,03 persen
Angka ini memperlihatkan adanya tekanan penurunan harga dalam jangka menengah, meski secara tahunan masih relatif rendah.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pasar pangan di Pacitan masih sangat bergantung pada komoditas segar.
Cabai rawit menjadi komoditas paling dominan dalam memengaruhi IPH, diikuti cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, daging sapi, dan minyak goreng.
Komoditas yang naik, turun, dan stabil
Pada minggu ketiga Juni 2026, pergerakan harga di pasar Pacitan menunjukkan pola yang beragam.
Komoditas yang mengalami kenaikan:
- Beras
- Telur ayam ras
- Bawang putih
Komoditas yang mengalami penurunan:
- Cabai rawit
- Cabai merah
- Minyak goreng
- Bawang merah
Komoditas yang stabil:
- Minyakita
- Daging sapi
- Daging ayam ras
- Gula pasir
- Pisang
- Jeruk
Pola ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak terjadi secara menyeluruh, melainkan tersegmentasi pada komoditas tertentu.
Apa dampaknya bagi masyarakat Pacitan?
Deflasi sering kali dipandang positif karena harga barang turun. Namun dalam konteks ekonomi daerah, situasinya tidak selalu sederhana.
Penurunan harga cabai dan minyak goreng memang meringankan beban rumah tangga. Namun, jika terlalu tajam dan berkelanjutan, hal ini bisa berdampak pada pendapatan petani.
Di Pacitan, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Artinya, keseimbangan antara harga konsumen dan harga produsen harus dijaga.
Jika harga terlalu rendah, petani bisa mengalami tekanan pendapatan. Sebaliknya, jika terlalu tinggi, daya beli masyarakat akan terganggu.
Posisi Pacitan dibanding daerah lain di Jawa Timur
Di tingkat provinsi, Pacitan masih berada dalam kategori deflasi yang moderat.
Beberapa daerah mencatat deflasi lebih dalam, seperti:
- Kabupaten Jombang: 2,9 persen
- Situbondo: 1,53 persen
- Kabupaten Blitar: 1,48 persen
Sementara inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Lamongan sebesar 1,61 persen.
Posisi ini menunjukkan bahwa Pacitan masih relatif stabil dibanding daerah lain yang mengalami fluktuasi lebih ekstrem.
Upaya pemerintah daerah menjaga stabilitas harga
Pemerintah Kabupaten Pacitan menegaskan bahwa pengendalian harga akan terus menjadi prioritas.
Fokus utama meliputi:
- Pemantauan harga harian di pasar tradisional
- Koordinasi dengan distributor dan pelaku usaha
- Penguatan data inflasi berbasis komoditas
- Intervensi pasar jika terjadi gejolak harga
Menurut Ayub Setyo Budi, stabilitas harga bukan sekadar angka statistik.
“Stabilitas harga menyangkut kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau,” tegasnya.
Analisis: sinyal ekonomi yang perlu dicermati
Secara ekonomi, deflasi di Pacitan kali ini dapat dibaca sebagai sinyal campuran.
Di satu sisi, penurunan harga menunjukkan pasokan yang membaik. Di sisi lain, ketergantungan pada komoditas pangan tertentu membuat ekonomi daerah rentan terhadap perubahan cuaca dan distribusi.
Dalam perspektif jangka panjang, Pacitan perlu memperkuat:
- Diversifikasi produksi pangan
- Sistem distribusi yang lebih efisien
- Penguatan rantai pasok lokal
- Stabilitas harga antar musim panen
Tanpa langkah ini, fluktuasi IPH akan terus terjadi setiap bulan.
Deflasi 0,23 persen di Pacitan pada Juni 2026 menjadi gambaran nyata bagaimana dinamika harga pangan masih sangat menentukan kondisi ekonomi daerah.
Turunnya harga cabai dan minyak goreng memang memberikan ruang napas bagi konsumen. Namun di balik itu, ada tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara petani, pedagang, dan konsumen.
Ke depan, stabilitas harga tidak cukup hanya dipantau. Ia harus dikelola dengan strategi yang lebih terukur, berbasis data, dan responsif terhadap kondisi pasar.
Pacitan kini berada di persimpangan penting: menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi keberlanjutan ekonomi petani lokal. (frend/yun)




