Pacitan, Headlineid.com – Festival Ronthek Pacitan 2026 kembali menghadirkan pertunjukan yang memikat ribuan penonton. Pada hari kedua pelaksanaan, Sabtu (18/7/2026), kontingen Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan, tampil memukau melalui karya berjudul “Sedoyo Titah” yang mengangkat sejarah berdirinya desa dengan sentuhan seni tradisi yang kuat.
Sebanyak 60 peserta terlibat dalam pertunjukan tersebut. Mereka memadukan musik ronthek, tari, gamelan, serta properti khas berupa bebek dari anyaman bambu. Seluruh elemen itu menyampaikan kisah perjuangan Ki Ageng Pule dan Ki Panjirangin sebagai tokoh pembabat alas Desa Nglaran.
Penampilan itu tidak hanya menyuguhkan hiburan. Lebih dari itu, karya tersebut menghadirkan pesan tentang hubungan manusia dengan alam, semangat gotong royong, dan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.
Sejarah Desa Menjadi Napas Pertunjukan Budaya
Desa Nglaran memilih tema sejarah sebagai fondasi utama pertunjukan “Sedoyo Titah”. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Warga ingin mengingat kembali perjalanan desa yang dahulu berupa kawasan hutan sebelum berkembang menjadi permukiman yang harmonis.
Kepala Dusun Nglaran, Resi, menjelaskan bahwa kisah Ki Ageng Pule dan Ki Panjirangin menjadi simbol perjuangan para leluhur membuka wilayah tersebut. Kedua tokoh itu dikenang sebagai sosok yang meletakkan dasar kehidupan masyarakat Desa Nglaran.
Menurut Resi, properti berbentuk bebek dipilih karena memiliki hubungan erat dengan Ki Panjirangin. Bebek merupakan hewan peliharaan sekaligus hewan kesayangan tokoh tersebut. Simbol sederhana itu kemudian diterjemahkan menjadi karya seni yang mudah dipahami berbagai kalangan.
Pendekatan semacam ini membuat pertunjukan tidak sekadar menampilkan koreografi. Penonton juga diajak memahami sejarah lokal melalui bahasa visual yang sederhana namun kuat.
Cara tersebut menunjukkan bahwa seni tradisi masih mampu menjadi media pendidikan budaya. Anak-anak hingga generasi muda dapat mengenal asal-usul desanya tanpa harus membaca naskah sejarah yang panjang.
Anyaman Bambu Menjadi Simbol Perlawanan terhadap Budaya Instan
Salah satu kekuatan terbesar kontingen Desa Nglaran justru hadir dari keputusan yang terlihat sederhana. Mereka memilih menggunakan bahan-bahan alami untuk seluruh properti dan kostum.
Tidak ada styrofoam dalam karya tersebut. Seluruh properti dibuat sendiri oleh warga menggunakan bambu, batok kelapa, kulit pucung, serta berbagai material alami lainnya.
Bebek anyaman bambu menjadi ikon paling mencolok sepanjang penampilan. Namun, di balik bentuknya yang unik, terdapat pesan yang lebih dalam mengenai keberlanjutan lingkungan sekaligus penghargaan terhadap kerajinan tradisional.
Keputusan membuat seluruh perlengkapan secara mandiri juga memperlihatkan tingginya partisipasi masyarakat. Mulai dari proses menjahit kostum, memilih bahan, hingga merangkai properti dilakukan bersama tanpa menyewa perlengkapan dari luar daerah.
Pilihan itu menghadirkan nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Dana produksi tetap berputar di lingkungan desa. Di sisi lain, kemampuan warga dalam mengolah bahan lokal terus berkembang.
Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, model produksi berbasis masyarakat seperti ini memiliki dampak yang lebih panjang dibanding sekadar mengejar kemegahan visual. Nilai budaya tetap terjaga, sementara keterampilan masyarakat ikut meningkat.
Latihan Intensif Membentuk Kekompakan Warga
Kesuksesan penampilan “Sedoyo Titah” tidak lahir dalam waktu singkat. Persiapan berlangsung selama kurang lebih satu setengah bulan. Selama periode tersebut, sekitar 60 peserta mengikuti latihan rutin. Mereka terdiri atas pemain musik ronthek, penari, pemain gamelan, hingga tim pembawa properti. Desa Nglaran juga menghadirkan pelatih seni profesional dari sebuah komunitas di Yogyakarta. Meski berbasis di Kota Gudeg, komunitas tersebut beranggotakan seniman dari Solo hingga Madura.
Kolaborasi lintas daerah itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak mengenal batas administratif. Pengalaman para pelatih dipadukan dengan karakter lokal masyarakat Nglaran sehingga menghasilkan pertunjukan yang tetap memiliki identitas daerah.
Pada awal latihan, sebagian warga mengaku mengalami kesulitan memainkan alat musik ronthek. Namun, kondisi tersebut tidak membuat mereka menyerah. Sebaliknya, intensitas latihan yang tinggi membuat kemampuan para peserta berkembang secara bertahap. Semangat gotong royong juga menjadi faktor penting yang menjaga motivasi seluruh anggota hingga hari penampilan.
Proses panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil. Gerakan tari terlihat kompak. Irama musik bambu terdengar menyatu. Pergantian adegan berlangsung rapi sehingga penonton dapat mengikuti alur cerita dengan mudah.
Festival Budaya Tidak Lagi Sekadar Ajang Hiburan
Festival Ronthek Pacitan kini berkembang menjadi ruang ekspresi budaya yang lebih luas. Setiap desa tidak hanya berlomba menghadirkan pertunjukan paling meriah, tetapi juga berusaha menyampaikan identitas dan sejarah masing-masing.
Perubahan ini memperlihatkan kematangan festival sebagai agenda budaya daerah. Kreativitas peserta tidak lagi diukur dari besarnya biaya produksi, melainkan dari kekuatan narasi yang mereka bangun.
Desa Nglaran menjadi contoh bagaimana sejarah lokal mampu diolah menjadi pertunjukan yang relevan bagi masyarakat masa kini. Cerita tentang pembabat alas berubah menjadi karya seni yang komunikatif tanpa kehilangan nilai historisnya.
Pendekatan tersebut juga memperkuat posisi Festival Ronthek sebagai media pelestarian warisan budaya tak benda. Tradisi tidak berhenti sebagai tontonan tahunan, melainkan menjadi sarana membangun identitas kolektif masyarakat.
Dampaknya Dapat Menggerakkan Ekonomi Kreatif Desa
Selain menjaga budaya, Festival Ronthek memiliki dampak ekonomi yang semakin terasa setiap tahun. Kedatangan ribuan pengunjung membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan penjualan makanan, minuman, kerajinan, hingga produk khas desa. Resi berharap penyelenggaraan festival dapat terus berlangsung secara konsisten. Menurutnya, kegiatan tersebut mampu memotivasi masyarakat sekaligus memperkuat perputaran ekonomi lokal.
Harapan tersebut memiliki dasar yang kuat. Festival budaya selalu menghadirkan efek berantai bagi sektor lain, mulai dari transportasi, kuliner, penginapan, hingga industri kreatif berbasis kerajinan tangan. Apabila pemerintah daerah terus memperkuat promosi wisata budaya, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan saat festival berlangsung. Produk-produk lokal juga berpotensi dikenal lebih luas sepanjang tahun.
Di sisi lain, generasi muda memperoleh ruang untuk berkarya tanpa harus meninggalkan akar budayanya. Kondisi itu menjadi modal penting bagi keberlanjutan kebudayaan Pacitan pada masa mendatang.
Budaya Lokal Akan Bertahan Jika Tetap Menjadi Milik Masyarakat
Pelestarian budaya tidak dapat bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Keberhasilan Desa Nglaran membuktikan bahwa masyarakat menjadi aktor utama dalam menjaga tradisi tetap hidup.
Ketika warga terlibat sejak proses perencanaan hingga produksi, rasa memiliki terhadap karya budaya akan tumbuh secara alami. Situasi itu membuat regenerasi lebih mudah berlangsung karena anak-anak ikut menyaksikan bahkan terlibat langsung dalam setiap prosesnya.
Festival akhirnya bukan hanya panggung pertunjukan. Kegiatan tersebut berubah menjadi ruang belajar, ruang berkumpul, sekaligus ruang memperkuat identitas bersama.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Festival Ronthek Pacitan 2026 memperlihatkan bahwa kekuatan budaya tidak selalu lahir dari teknologi modern atau panggung yang megah. Desa Nglaran justru membangun daya tarik melalui sejarah, gotong royong, dan keberanian menggunakan bahan-bahan alami yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ke depan, tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan festival sebagai agenda tahunan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap karya yang lahir tetap membawa cerita, nilai, dan identitas daerah. Ketika budaya terus hidup di tangan masyarakat, festival tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang indah, tetapi juga melahirkan kebanggaan kolektif yang mampu menggerakkan ekonomi, pendidikan, dan pariwisata Pacitan secara berkelanjutan.
Editor : Frend




