PACITAN, headlineid.com — Dentuman ronthek mengiringi langkah para pelajar SMPN 1 Ngadirojo dalam Parade HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Dari Lapangan Desa Ngadirojo menuju Tanjungpuro, Kamis, 20 Agustus 2026, mereka membawa satu pesan: kemerdekaan harus punya suara.
Pesan itu mereka bungkus melalui pertunjukan bertajuk “Suara Jiwa”. Tiga display atraktif kemudian menyatu dengan kostum dan gerakan kreatif para siswa.
Bagi mereka, ronthek bukan sekadar pertunjukan jalanan. Kesenian itu menjadi ruang bagi pelajar untuk menyampaikan gagasan, keberanian, dan kecintaan terhadap budaya daerah.
“Suara Jiwa” Menjadi Bahasa Pelajar untuk Mengisi Kemerdekaan
Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Ngadirojo, Ida Haryuni, menjelaskan makna tema tersebut. Menurut dia, “Suara Jiwa” menggambarkan keberanian siswa menyuarakan hati melalui karya positif.
“Suara Jiwa ini mengungkapkan bahwa suara dari SMPN 1 Ngadirojo, siswa-siswa untuk selalu menyuarakan hati,” ujar Ida.
Selain itu, siswa diajak mengisi kemerdekaan melalui seni dan budaya. Pesan tersebut terasa kuat karena ronthek lahir dari tradisi masyarakat Pacitan.
Karena itu, pilihan ronthek membawa makna lebih jauh. Para siswa tidak hanya memainkan musik tradisional, tetapi juga memperlihatkan hubungan mereka dengan identitas daerah.
Di sepanjang rute parade, energi pelajar bertemu dengan antusiasme warga. Dentuman alat musik tradisional menjadi penanda bahwa budaya lokal masih memiliki tempat di ruang publik.
Berdasarkan analisis tim Headline Indonesia, kekuatan pertunjukan ini justru terletak pada keterlibatan pelajar. Mereka tidak tampil sebagai penonton budaya, tetapi menjadi pelaku yang menghidupkannya.
Dua Pekan Latihan Menunjukkan Kekuatan Modal Budaya Sekolah
Waktu persiapan menjadi bagian lain yang menarik dari pertunjukan tersebut. SMPN 1 Ngadirojo hanya memiliki sekitar dua pekan untuk mematangkan penampilan parade.
Namun, sekolah tidak memulai dari titik nol. Para siswa sebelumnya telah mengikuti ajang ronthek tingkat Kabupaten Pacitan.
Pengalaman tersebut memberi keuntungan teknis bagi kelompok. Mereka sudah memiliki konsep display dan memahami pola latihan pertunjukan.
Ida menyebut sekolah sebelumnya dipercaya menjadi wakil SMP se-Kabupaten Pacitan dalam ajang ronthek. Karena itu, latihan untuk parade lebih banyak berfungsi sebagai pemanasan dan penguatan konsep.
Kondisi tersebut menunjukkan satu hal penting. Kegiatan seni yang rutin dapat menjadi modal ketika sekolah menghadapi panggung besar.
Dengan kata lain, prestasi budaya tidak lahir hanya dari latihan menjelang acara. Pengalaman sebelumnya membentuk kesiapan mental dan kemampuan teknis siswa.
Meski begitu, sekolah tidak sekadar mengulang pertunjukan lama. Mereka menambahkan sejumlah gerakan baru khusus untuk parade HUT ke-81 RI.

Kreativitas Siswa Tidak Berhenti pada Gerakan dan Musik
Kreasi juga muncul melalui kostum. Para siswa ikut mengembangkan kostum secara mandiri untuk memperkuat tampilan parade.
Langkah tersebut membuat pertunjukan memiliki dimensi yang lebih luas. Siswa belajar memainkan seni, mengatur penampilan, sekaligus mengembangkan kreativitas visual.
Di sisi lain, keterlibatan seluruh peserta didik membuat parade menjadi proyek bersama. Setiap siswa memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan.
Model seperti ini memiliki nilai pendidikan yang sering luput dari panggung pertunjukan. Seni mengajarkan kerja sama tanpa harus mengubahnya menjadi pelajaran formal di kelas.
Selain itu, latihan bersama membentuk disiplin. Siswa harus menjaga ritme, menghafal gerakan, dan menyesuaikan diri dengan kelompok.
Nilai tersebut menjadi bekal sosial yang jauh lebih panjang daripada durasi parade. Ketika pertunjukan berakhir, pengalaman bekerja bersama tetap melekat pada para siswa.
Ronthek Bisa Menjadi Sekolah Budaya bagi Generasi Muda
Ronthek memiliki posisi khusus dalam kehidupan budaya Pacitan. Kesenian ini tidak hanya berbicara tentang bunyi, tetapi juga tradisi, kebersamaan, dan sejarah masyarakat.
Namun, keberlanjutan budaya selalu bergantung pada regenerasi. Tanpa keterlibatan anak muda, sebuah tradisi berisiko hanya menjadi tontonan masa lalu.
Karena itu, keterlibatan SMPN 1 Ngadirojo memberikan pesan yang lebih besar. Sekolah dapat menjadi salah satu ruang paling efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi berikutnya.
Pendekatan tersebut juga menghindarkan pelestarian budaya dari kesan seremonial. Siswa tidak hanya diminta menghafal nama tradisi, tetapi ikut menjalankan dan mengembangkannya.
Di sinilah “Suara Jiwa” memperoleh makna yang lebih dalam. Suara ronthek menjadi simbol suara generasi muda yang ingin tetap memiliki hubungan dengan akar budayanya.
Meskipun demikian, pelestarian tidak boleh berhenti pada parade tahunan. Sekolah perlu menciptakan ruang latihan dan eksplorasi yang berlangsung sepanjang tahun.
Dampaknya Akan Panjang Jika Sekolah Berani Memberi Ruang
Pertunjukan seperti ini memberi dampak langsung bagi siswa. Mereka memperoleh pengalaman tampil di hadapan publik sekaligus membangun kepercayaan diri.
Bagi masyarakat, parade menghadirkan hiburan yang memiliki nilai budaya. Warga juga melihat bahwa tradisi lokal masih tumbuh di lingkungan pendidikan.
Lebih jauh, kegiatan tersebut dapat memperkuat ekosistem seni daerah. Pelajar, guru, keluarga, seniman, dan masyarakat dapat bertemu dalam satu kegiatan budaya.
Namun, keberlanjutan membutuhkan dukungan yang konsisten. Sekolah membutuhkan ruang latihan, pembinaan, peralatan, serta kesempatan tampil yang cukup.
Selain itu, pemerintah daerah dapat memperluas kolaborasi antar sekolah. Kompetisi seni juga bisa diarahkan menjadi ruang pertukaran gagasan, bukan sekadar perebutan juara.
Sekolah pun dapat mendokumentasikan proses kreatif siswa. Dokumentasi itu berguna sebagai arsip budaya sekaligus bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Dengan cara tersebut, ronthek tidak berhenti sebagai pertunjukan. Tradisi dapat berkembang menjadi pengetahuan yang terus diwariskan.
Catatan Editorial Headline Indonesia
“Suara Jiwa” SMPN 1 Ngadirojo memperlihatkan wajah lain dari kemerdekaan. Kebebasan tidak selalu hadir melalui pidato besar atau seremoni resmi.
Kadang, kemerdekaan terdengar melalui dentuman ronthek. Ia hadir lewat langkah pelajar yang berani tampil dan menciptakan karya.
Karena itu, tugas generasi berikutnya bukan sekadar menjaga tradisi tetap hidup. Mereka juga perlu memberi ruang agar tradisi tersebut tumbuh sesuai zamannya.
Ronthek akan tetap memiliki masa depan jika anak muda merasa memilikinya. Dari sanalah suara budaya Pacitan dapat terus terdengar, bukan sebagai gema masa lalu, tetapi sebagai denyut kehidupan yang terus bergerak. (frend/byan)




