Harga Emas Naik Usai Konflik AS-Iran Mereda, Investor Kini Menunggu Keputusan The Fed

Harga Emas Naik

Headlineid.com – Harga emas kembali menguat di pasar global setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda. Penurunan harga minyak mentah menjadi pemicu utama perubahan sentimen pasar. Di sisi lain, investor kini mengalihkan perhatian kepada keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang akan menentukan arah pasar keuangan dunia dalam beberapa bulan mendatang.

Data Refinitiv menunjukkan harga emas pada perdagangan Senin (27/7/2026) ditutup di level US$4.075,16 per troy ons. Nilai tersebut naik 0,58 persen dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan itu memperpanjang tren positif emas yang telah menguat sekitar 0,7 persen dalam dua hari perdagangan terakhir.

Namun, pada Selasa (28/7/2026) pukul 06.42 WIB, harga emas terkoreksi tipis sebesar 0,07 persen ke posisi US$4.072 per troy ons. Koreksi tersebut masih tergolong wajar setelah reli yang terjadi sejak awal pekan.

Pergerakan harga logam mulia kali ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya bereaksi terhadap konflik geopolitik. Investor juga mulai menghitung ulang peluang perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Harga emas pun kembali menjadi sorotan utama Headline Indonesia pekan ini karena bergerak mengikuti kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan ekspektasi suku bunga.

Turunnya Harga Minyak Mengubah Arah Sentimen Pasar

Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam setelah muncul sinyal membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa pembicaraan dengan Iran berlangsung positif. Pernyataan tersebut langsung mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 8,7 persen menjadi US$88,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 7,5 persen ke level US$82,61 per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah kedua negara menghentikan sementara aksi saling serang selama akhir pekan. Langkah itu memunculkan optimisme bahwa jalur diplomasi kembali terbuka.

Selain itu, pasar berharap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali normal. Jalur tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Baca Juga  Deflasi Pacitan Makin Dalam, Harga Cabai dan Bawang Anjlok Jadi Kabar Baik bagi Konsumen, Tantangan Baru bagi Petani

Ketika risiko pasokan minyak berkurang, tekanan terhadap harga energi ikut menurun. Akibatnya, ancaman inflasi global juga mulai mereda.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak menjadi faktor utama yang mengubah ekspektasi pasar.

Menurutnya, harga minyak yang turun dari atas US$100 menjadi sekitar US$90 membuat pelaku pasar memperkirakan tekanan kenaikan suku bunga akan berkurang.

Harga Emas Bergerak Mengikuti Ekspektasi Kebijakan The Fed

Hubungan antara emas dan suku bunga sering kali terlihat berlawanan. Ketika suku bunga naik, daya tarik emas biasanya melemah karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti deposito atau obligasi.

Sebaliknya, ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, investor kembali melirik emas sebagai aset pelindung nilai. Kondisi tersebut terlihat pada perdagangan awal pekan ini.

Turunnya harga minyak membuat investor memperkirakan inflasi Amerika Serikat tidak akan setinggi perkiraan sebelumnya. Harapan itu mendorong munculnya optimisme bahwa kebijakan moneter The Fed tidak akan terlalu agresif.

Meski demikian, pasar belum sepenuhnya yakin terhadap arah kebijakan bank sentral tersebut.

Berdasarkan CME FedWatch, sekitar 62 persen pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada rapat yang digelar pekan ini.

Namun, peluang kenaikan suku bunga pada September masih berada di kisaran 82 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa bank sentral AS belum sepenuhnya menutup pintu bagi kebijakan yang lebih ketat.

Oleh karena itu, investor masih memilih berhati-hati sebelum mengambil keputusan investasi dalam jumlah besar.

Data Inflasi Amerika Menjadi Penentu Berikutnya

Perhatian pasar tidak berhenti pada rapat Federal Reserve. Investor juga menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk periode Juni.

PCE merupakan indikator inflasi yang paling diperhatikan oleh The Fed. Data tersebut sering menjadi dasar dalam menentukan arah suku bunga.

Baca Juga  Harga Emas Bangkit di Atas US$4.000, Investor Menanti Arah Kebijakan The Fed

Apabila inflasi kembali melambat, peluang penundaan kenaikan suku bunga akan semakin besar. Sebaliknya, jika angka inflasi kembali meningkat, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan ketat akan tetap terbuka.

Situasi inilah yang membuat harga emas bergerak sangat sensitif terhadap setiap data ekonomi Amerika Serikat.

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar tidak lagi hanya memperhatikan konflik geopolitik. Kini, setiap rilis data ekonomi memiliki pengaruh yang hampir sama besarnya terhadap harga logam mulia.

Permintaan Emas China Masih Menjadi Penyangga Pasar

Di tengah perubahan sentimen global, permintaan fisik emas dari Asia masih memberikan dukungan terhadap harga.

Data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juni meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Walaupun demikian, volume impor tersebut masih turun lebih dari lima persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan emas tetap kuat secara tahunan. Akan tetapi, aktivitas pembelian mulai mengalami penyesuaian dalam jangka pendek.

China masih menjadi salah satu konsumen emas terbesar di dunia. Karena itu, setiap perubahan permintaan dari negara tersebut selalu memengaruhi keseimbangan pasar global.

Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, kombinasi permintaan fisik dari Asia dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat akan menjadi dua faktor dominan yang menentukan harga emas hingga akhir tahun.

Harga Perak Ikut Bersinar Mengikuti Tren Logam Mulia

Tidak hanya emas, harga perak juga melanjutkan tren kenaikan.

Refinitiv mencatat harga perak pada perdagangan Senin ditutup di US$58,41 per troy ons. Nilai tersebut naik 0,85 persen dibandingkan sesi sebelumnya.

Kenaikan itu memperpanjang penguatan sekitar 1,3 persen dalam dua hari terakhir.

Sementara itu, pada perdagangan Selasa pagi, harga perak terkoreksi tipis menjadi US$58,39 per troy ons atau turun 0,02 persen.

Baca Juga  Rekor Dunia, Elon Musk Jadi Triliuner Pertama, Kapitalisasi SpaceX Tembus US$ 2 Triliun

Pergerakan emas dan perak yang searah menunjukkan bahwa investor masih memandang logam mulia sebagai instrumen yang layak dipertimbangkan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Meski demikian, pasar belum memasuki fase optimisme penuh. Investor masih menunggu kepastian mengenai arah suku bunga Amerika Serikat.

Dampak Perubahan Sentimen Global Mulai Terasa di Pasar Keuangan

Meredanya konflik Timur Tengah membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar penurunan harga minyak.

Tekanan inflasi global berpotensi berkurang apabila harga energi tetap stabil. Kondisi tersebut dapat membantu bank sentral di berbagai negara mengendalikan kebijakan moneter secara lebih terukur.

Di sisi lain, pasar saham berpeluang memperoleh sentimen positif apabila risiko geopolitik terus mereda. Mata uang negara berkembang juga dapat memperoleh ruang penguatan jika tekanan terhadap dolar AS berlanjut.

Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada keputusan The Fed dan perkembangan data ekonomi Amerika dalam beberapa pekan ke depan.

Karena itu, investor disarankan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga emas harian. Mereka juga perlu memperhatikan indikator inflasi, kebijakan bank sentral, serta perkembangan geopolitik yang masih sangat dinamis.

Catatan Editorial Headline Indonesia

Pergerakan harga emas saat ini memperlihatkan bahwa pasar global semakin dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor. Konflik geopolitik memang masih menjadi pemicu utama gejolak harga. Akan tetapi, arah kebijakan moneter Amerika Serikat kini memiliki pengaruh yang sama besar terhadap keputusan investor.

Selama inflasi belum benar-benar terkendali, volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi. Oleh sebab itu, pelaku pasar perlu membaca setiap sinyal ekonomi secara utuh, bukan hanya terpaku pada satu indikator. Dalam kondisi seperti sekarang, kemampuan memahami hubungan antara harga minyak, inflasi, dan suku bunga akan menjadi kunci untuk mengambil keputusan investasi yang lebih terukur.

Editor : Frend