Headlineid.com – Harga minyak dunia naik pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026, setelah aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz kembali mengalami perlambatan. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali menunjukkan tanda-tanda ketegangan meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan damai sementara beberapa waktu lalu.
Pasar energi global yang sempat optimistis terhadap stabilitas pasokan minyak kini kembali dibayangi risiko gangguan distribusi. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia, kembali menjadi pusat perhatian investor dan pelaku industri energi internasional.
Fakta Utama
- Harga minyak Brent naik 0,67 persen menjadi 81,11 dolar AS per barel.
- Minyak mentah WTI melonjak hingga 2,64 persen pada perdagangan Senin.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam.
- Perundingan pertama AS dan Iran pascakesepakatan damai berjalan tidak mulus.
- Ancaman konflik baru di Lebanon turut memperbesar risiko pasar energi global.
Harga Minyak Dunia Kembali Menguat
Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat naik 54 sen atau sekitar 0,67 persen menjadi 81,11 dolar AS per barel. Pada awal sesi perdagangan, harga bahkan sempat menyentuh level tertinggi di kisaran 82,30 dolar AS per barel.
Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Juli berada di level 78,62 dolar AS per barel. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 2,02 dolar AS atau sekitar 2,64 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Untuk kontrak pengiriman Agustus yang lebih aktif diperdagangkan, harga WTI juga mengalami penguatan menjadi 77,28 dolar AS per barel.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar kembali memasukkan faktor risiko geopolitik ke dalam harga minyak setelah sempat mengalami koreksi tajam sepanjang pekan lalu.
Selat Hormuz Kembali Menjadi Titik Krisis
Kenaikan harga minyak kali ini tidak lepas dari perkembangan terbaru di Selat Hormuz. Data pelayaran internasional menunjukkan jumlah kapal yang melintasi jalur strategis tersebut turun signifikan pada Minggu, 21 Juni 2026.
Penurunan aktivitas pelayaran terjadi setelah Iran mengumumkan kembali penutupan Selat Hormuz. Teheran menilai Israel dan Amerika Serikat telah melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan damai sementara yang sebelumnya disepakati.
Bagi pasar energi global, Selat Hormuz memiliki arti yang sangat penting. Jalur laut ini menjadi salah satu koridor distribusi energi terbesar di dunia yang menghubungkan negara-negara produsen minyak Teluk dengan pasar Asia, Eropa, hingga Amerika Utara.
Ketika arus pelayaran terganggu, pelaku pasar langsung mengkhawatirkan potensi berkurangnya pasokan minyak ke pasar internasional. Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong aksi beli dan mengangkat harga minyak.
Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, menilai pasar kemungkinan terlalu cepat berharap bahwa Selat Hormuz akan segera kembali beroperasi normal.
Menurutnya, Iran masih memiliki insentif kuat untuk mempertahankan tekanan terhadap jalur pelayaran internasional karena Selat Hormuz menjadi salah satu alat tawar strategis yang masih dimiliki Teheran dalam negosiasi dengan negara-negara Barat.
Negosiasi AS-Iran Belum Memberikan Kepastian
Selain faktor pengiriman minyak, investor juga mencermati perkembangan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Pertemuan pertama antara pejabat Amerika Serikat dan Iran setelah tercapainya kesepakatan damai sementara ternyata belum menghasilkan kemajuan signifikan. Kondisi tersebut memunculkan keraguan mengenai keberlanjutan proses perdamaian yang selama beberapa pekan terakhir menjadi alasan utama turunnya harga minyak.
Situasi semakin kompleks setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan ancaman serangan terhadap Iran. Pernyataan tersebut muncul meskipun Wakil Presiden JD Vance telah melakukan dialog langsung dengan pejabat Iran dalam upaya meredakan ketegangan.
Bagi investor, sinyal yang saling bertentangan dari kedua pihak membuat risiko konflik kembali meningkat. Akibatnya, pasar energi memilih bersikap lebih hati-hati.
Konflik Lebanon Tambah Tekanan Pasar
Ketidakstabilan kawasan Timur Tengah tidak hanya berasal dari hubungan AS dan Iran. Situasi di Lebanon juga kembali menjadi perhatian dunia.
Laporan dari kantor berita resmi Lebanon menyebutkan bahwa sedikitnya 20 orang tewas akibat serangan Israel pada Sabtu, 20 Juni 2026. Insiden tersebut terjadi hanya sehari setelah gencatan senjata dengan Hezbollah mulai diberlakukan.
Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kesepakatan damai yang telah dicapai sebelumnya.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai perkembangan di Lebanon masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan. Menurutnya, setiap gangguan terhadap gencatan senjata berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran dan memperlambat pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat investor energi harus mempertimbangkan lebih banyak variabel risiko dalam mengambil keputusan investasi.
Mengapa Harga Minyak Tetap Rentan Turun?
Menariknya, kenaikan harga minyak pada awal pekan ini terjadi setelah pasar mengalami penurunan tajam lebih dari 8 persen sepanjang pekan sebelumnya.
Penurunan tersebut dipicu oleh optimisme bahwa pasokan minyak global akan meningkat dalam waktu dekat. Sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk mulai bersiap mengirimkan muatan mereka ke pasar internasional.
Selain itu, muncul spekulasi bahwa Amerika Serikat dapat melonggarkan atau bahkan mencabut sebagian sanksi terhadap ekspor minyak Iran sebagai bagian dari proses normalisasi hubungan kedua negara.
Jika skenario tersebut benar-benar terwujud, pasokan minyak dunia berpotensi meningkat signifikan dan menekan harga dalam jangka menengah.
Karena itu, pasar saat ini berada dalam posisi yang unik. Di satu sisi terdapat risiko geopolitik yang mendorong kenaikan harga. Di sisi lain, terdapat peluang bertambahnya pasokan yang berpotensi menahan lonjakan lebih lanjut.
Iran Klaim Berhasil Menembus Blokade
Di tengah ketegangan yang berlangsung, Iran juga mengumumkan perkembangan penting terkait ekspor energinya.
Kepala National Iranian Oil Company, Hamid Bovard, menyatakan bahwa lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah berhasil melewati apa yang disebut sebagai “blokade virtual” sejak awal pekan lalu.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa ekspor minyak Iran masih berjalan meskipun tekanan geopolitik terus meningkat.
Jika angka tersebut akurat, maka kemampuan Iran mempertahankan arus ekspor dapat membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap kekurangan pasokan global dalam jangka pendek.
Negara-Negara Teluk Siapkan Tambahan Pasokan
Sementara itu, sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk mulai mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pasar.
Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak dilaporkan menawarkan tambahan pasokan kepada pelanggan mereka dalam beberapa hari terakhir. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk meredam gejolak harga akibat gangguan pengiriman di Selat Hormuz.
Irak bahkan menyampaikan rencana peningkatan produksi secara bertahap hingga mencapai kisaran 4,2 juta hingga 4,3 juta barel per hari.
Kebijakan tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar karena menunjukkan bahwa negara-negara produsen utama masih memiliki kapasitas untuk menambah pasokan ketika terjadi gangguan distribusi.
Dampak bagi Ekonomi Global dan Indonesia
Bagi perekonomian global, kenaikan harga minyak selalu memiliki efek berantai yang luas. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, logistik, manufaktur, hingga harga kebutuhan pokok.
Bagi Indonesia, perkembangan harga minyak dunia menjadi perhatian penting karena dapat memengaruhi biaya impor energi, subsidi pemerintah, serta pergerakan inflasi nasional.
Meski kenaikan saat ini belum mencapai level yang mengkhawatirkan, investor dan pemerintah akan terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, hubungan AS-Iran, serta stabilitas keamanan Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar energi global tampaknya masih akan bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik maupun militer. Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan negosiasi AS-Iran belum menghasilkan kepastian, harga minyak dunia berpotensi tetap berfluktuasi dengan volatilitas yang tinggi, sebuah situasi yang patut dicermati oleh pelaku usaha, investor, hingga masyarakat luas. (frend/masson)




