Washington DC, Headlineid.com – Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sepakat Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Trump dan Xi Jinping Bahas Stabilitas Selat Hormuz
Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing menjadi perhatian dunia internasional. Salah satu isu utama yang dibahas adalah kondisi Selat Hormuz yang dinilai sangat penting bagi stabilitas pasokan energi global.
Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran distribusi minyak dan gas dunia. Jalur laut tersebut selama ini menjadi salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.
Dalam pernyataannya, Gedung Putih menyebut pembicaraan antara Trump dan Xi berlangsung dengan baik serta menghasilkan sejumlah kesepahaman terkait kerja sama ekonomi dan keamanan kawasan.
Selat Hormuz Jadi Jalur Penting Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut setiap harinya.
Ketegangan di kawasan itu meningkat sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Situasi tersebut membuat aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz sempat terganggu.
Iran bahkan disebut melakukan pembatasan lalu lintas kapal di wilayah tersebut selama konflik berlangsung. Langkah itu berdampak langsung terhadap distribusi energi global, termasuk pasokan minyak menuju kawasan Asia.
Amerika Serikat kemudian merespons dengan memperketat pengawasan laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak 8 April 2026, kondisi kawasan dinilai masih belum sepenuhnya stabil.
China Terdampak Langsung Krisis Pasokan Minyak
China menjadi salah satu negara yang paling terdampak jika jalur Selat Hormuz terganggu. Sebagian besar impor minyak mentah Beijing berasal dari Timur Tengah dan melewati kawasan tersebut.
Data analis maritim Kpler menyebut lebih dari separuh impor minyak laut China bergantung pada jalur Hormuz. Karena itu, stabilitas kawasan menjadi kepentingan besar bagi pemerintah China.
Gedung Putih juga mengklaim bahwa Xi Jinping menunjukkan minat untuk meningkatkan pembelian minyak dari Amerika Serikat. Langkah itu disebut sebagai upaya mengurangi ketergantungan China terhadap pasokan energi yang melewati Selat Hormuz.
Namun, pemerintah China tidak secara terbuka menyinggung rencana tersebut dalam pernyataan resminya.
Pertemuan Trump dan Xi Bahas Konflik Global
Kementerian Luar Negeri China menyebut pertemuan kedua pemimpin turut membahas sejumlah isu internasional lain. Di antaranya konflik Timur Tengah, perang Ukraina, hingga situasi di Semenanjung Korea.
Pertemuan digelar di Aula Besar Rakyat dalam rangka kunjungan kenegaraan Donald Trump ke China. Kunjungan itu menjadi yang pertama dilakukan Presiden AS ke Beijing dalam satu dekade terakhir.
Xi Jinping menyambut Trump dengan seremoni kenegaraan lengkap dan karpet merah. Setelah prosesi penyambutan, kedua pemimpin langsung menggelar pembicaraan bilateral tertutup.
Gedung Putih menilai pertemuan berlangsung positif dan membuka peluang peningkatan kerja sama ekonomi antara Washington dan Beijing.
Isu Taiwan Tidak Dibahas Terbuka
Meski membahas berbagai isu strategis dunia, Gedung Putih tidak menyinggung persoalan Taiwan dalam pernyataannya. Padahal, isu tersebut selama ini menjadi salah satu titik sensitif hubungan antara AS dan China.
Media pemerintah China sebelumnya melaporkan bahwa Xi Jinping sempat mengingatkan potensi konflik antara Beijing dan Washington apabila persoalan Taiwan tidak ditangani secara hati-hati.
Hingga kini, hubungan kedua negara masih diwarnai persaingan geopolitik, terutama dalam bidang perdagangan, keamanan kawasan, dan pengaruh global. (frend/Masson)




