Investor Mulai Beralih dari Sekadar Angka, Kini Uji Ketahanan Ekonomi RI

JAKARTA, Headlineid.com — Cara investor membaca prospek ekonomi Indonesia mulai mengalami perubahan. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pasar kini tidak lagi hanya berfokus pada tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Investor mulai memperhatikan kualitas pertumbuhan dan fondasi yang menopangnya. Meski begitu, ia menegaskan pasar belum menyimpulkan Indonesia sedang memasuki fase krisis.

Pertumbuhan Ekonomi Masih Kuat, tetapi Ada Faktor Musiman

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 5,61 persen. Angka ini terlihat cukup solid dan memberi sinyal positif bagi perekonomian nasional.

Namun, Josua menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut masih banyak dipengaruhi faktor musiman. Beberapa faktor pendorongnya adalah momentum Ramadan dan Idulfitri, peningkatan belanja pemerintah, serta efek basis rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Setelah periode tersebut berlalu, sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda perlambatan ekonomi.

Baca Juga  Sumber Rejeki dari Dapur Sederhana Kayen: Kisah UMKM Keluarga yang Menjaga Warisan Rasa Pacitan

Sejumlah Indikator Mulai Menunjukkan Tekanan

Cadangan devisa Indonesia tercatat turun dari US$148,2 miliar menjadi US$146,2 miliar pada April 2026. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan cukup tajam.

Tidak hanya itu, PMI manufaktur Indonesia pada April juga masuk zona kontraksi dengan angka 49,1. Arus keluar dana asing dari pasar saham juga masih terus berlanjut.

Tekanan pasar semakin bertambah setelah evaluasi MSCI pada Mei 2026. Hasil evaluasi itu mencatat enam saham Indonesia dihapus dari indeks Global Standard dan 13 saham keluar dari indeks Small Cap.

Pasar Obligasi Dinilai Masih Cukup Stabil

Di tengah tekanan pasar saham, pasar obligasi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang relatif baik.

Credit Default Swap (CDS) Indonesia masih berada pada kondisi stabil. Hal ini menunjukkan investor global masih mampu membedakan tekanan likuiditas di pasar saham dengan risiko gagal bayar negara.

Baca Juga  Prabowo Puji Panen Raya Udang Kebumen, Produksi Tembus Standar Dunia

Cadangan devisa Indonesia yang setara dengan 5,8 bulan impor juga masih menjadi faktor pendukung. Nilai tersebut jauh di atas standar internasional yang berada di level tiga bulan impor.

Selain itu, disiplin fiskal yang tetap terjaga turut memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar surat utang nasional.

Risiko Perlambatan Ekonomi Perlu Diwaspadai

Meski begitu, tekanan ekonomi mulai merambat ke berbagai sektor. Lelang Surat Berharga Negara (SBN) pada 13 Mei 2026 mencatat permintaan terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir.

Josua memperkirakan kontraksi PMI dan pelemahan rupiah dapat memberi tekanan pada semester II-2026. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi, mengganggu pasokan, dan menekan daya beli masyarakat.

Baca Juga  Komisi XI DPR Minta Mitigasi Berlapis Cegah Inflasi Impor, Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan

Beberapa sektor dinilai lebih rentan menghadapi tekanan. Sektor tersebut meliputi manufaktur, otomotif, ritel barang tahan lama, transportasi, serta perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing.

Bukan Krisis, Tetapi Kualitas Pertumbuhan Menjadi Sorotan

Menurut Josua, risiko terbesar saat ini bukan krisis ekonomi. Risiko yang lebih perlu diperhatikan adalah perlambatan serta penurunan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Ia menekankan bahwa yang perlu dicermati saat ini adalah kecepatan penurunan cadangan devisa. Jika cadangan terus turun, sementara rupiah melemah dan arus modal belum pulih, biaya stabilisasi ekonomi akan semakin besar.

“Pasar sedang menguji apakah pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas sambil mempertahankan pertumbuhan,” pungkas Josua.

(frend)