Di Tengah Meriahnya Pawai, Pasukan Semut SDAYU Pilih Jaga Lingkungan

Pawai Seni Budaya

Trenggalek, Headlineid.com – Pawai Seni Budaya HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Kecamatan Pule berlangsung meriah pada Rabu, 26 Agustus 2026. Di antara berbagai pertunjukan, Pasukan Semut SDAYU tampil dengan pesan berbeda.

Peserta didik SD Negeri 2 Puyung memilih memungut sampah sepanjang rute pawai. Mereka mengumpulkan, memilah, dan memisahkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Aksi tersebut berlangsung dari pertigaan SMP Negeri 1 Pule menuju Balai Desa Pule. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan bahwa pawai budaya dapat menjadi ruang belajar lingkungan.

Dua barisan SDAYU membawa dua pesan sekaligus

SD Negeri 2 Puyung atau SDAYU tidak sekadar mengirim satu barisan dalam pawai. Sekolah tersebut membagi peserta menjadi dua kelompok dengan jarak cukup jauh.

Barisan pertama menampilkan Kraton Sdayu Bhuwana. Peserta membawa unsur budaya dan identitas sekolah melalui berbagai atribut.

Di dalamnya terdapat maskot, pengawal, dayang, serta Ratu Sdayu Bhuwana. Sang ratu tampil menaiki kuda dan menjadi bagian dari pertunjukan utama.

Namun, perhatian warga tidak berhenti pada barisan budaya tersebut. Barisan kedua justru membawa pesan yang lebih sederhana.

Pasukan Semut SDAYU berjalan di belakang rombongan utama. Mereka membawa tugas khusus untuk menjaga kebersihan sepanjang perjalanan.

Anak-anak memungut sampah yang mereka temukan di sepanjang rute. Sampah tersebut kemudian mereka kumpulkan dan pilah sesuai jenisnya.

Langkah itu terlihat sederhana. Meski begitu, pesan pendidikan yang dibawanya jauh lebih besar daripada sekadar membersihkan jalan.

Pasukan Semut mengubah pawai menjadi ruang belajar

Pawai biasanya identik dengan kostum, musik, pertunjukan, dan kerumunan warga. SDAYU mencoba menambahkan dimensi lain melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Kepala SD Negeri 2 Puyung, Arif Wibowo, S.Pd., M.Pd., menjelaskan alasan sekolah menghadirkan Pasukan Semut. Menurutnya, anak-anak perlu mengalami langsung nilai yang selama ini mereka pelajari.

“Kami ingin menjadikan pawai ini bukan hanya sebagai ajang untuk tampil, tetapi juga sebagai kesempatan belajar bagi anak-anak.”

Arif menilai pengalaman langsung dapat membangun pemahaman yang lebih kuat. Anak-anak tidak hanya mendengar tentang kebersihan, tetapi ikut melakukan tindakan nyata.

Baca Juga  Pekan Karya Inovasi PKK Pacitan 2026 Resmi Ditutup, Jadi Wadah Lahirnya Inovasi Kader dari 60 Desa dan Kelurahan

Mereka belajar memungut sampah. Mereka juga belajar mengumpulkan dan memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Dengan cara tersebut, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada slogan. Sekolah mengubahnya menjadi pengalaman yang dapat dirasakan peserta didik.

Pendekatan itu memiliki nilai penting dalam pembentukan kebiasaan. Anak-anak dapat memahami bahwa kebersihan membutuhkan tindakan, bukan hanya imbauan.

Sampah tidak berhenti di tempat pembuangan

Pasukan Semut juga memperkenalkan gagasan lain kepada peserta didik. Sampah tidak selalu menjadi benda yang langsung kehilangan manfaat setelah digunakan.

Beberapa jenis sampah masih memiliki nilai jual. Karena itu, siswa memisahkannya untuk kemudian dikelola dan dijual.

Proses tersebut memberikan pelajaran sederhana mengenai ekonomi sirkular. Anak-anak mulai mengenal hubungan antara kebiasaan membuang sampah dan potensi pemanfaatannya.

Selain itu, kegiatan tersebut memperkenalkan proses pengelolaan sampah dari tahap paling dasar. Proses itu mencakup pengumpulan, pemilahan, hingga pemanfaatan kembali.

Bagi anak usia sekolah, pengalaman tersebut dapat membentuk cara pandang baru. Sampah bukan semata persoalan kebersihan, tetapi juga persoalan tanggung jawab.

Konsep itu menjadi semakin relevan ketika volume sampah terus menjadi tantangan masyarakat. Kebiasaan memilah sejak rumah dan sekolah dapat membantu mengurangi sampah yang tercampur.

Karena itu, kegiatan kecil dalam pawai memiliki pesan yang cukup panjang. Perubahan perilaku membutuhkan latihan yang dilakukan secara berulang.

Warga melihat pesan lingkungan di tengah pesta budaya

Aksi Pasukan Semut mendapat perhatian warga yang menyaksikan pawai. Sejumlah masyarakat tampak memperhatikan aktivitas para siswa saat memungut sampah.

Pemandangan tersebut terasa berbeda dibandingkan peserta pawai pada umumnya. Ketika rombongan lain menampilkan seni, Pasukan Semut menunjukkan tindakan nyata.

Namun, keduanya tidak harus dipertentangkan. SDAYU justru menggabungkan budaya dan kepedulian lingkungan dalam satu rangkaian kegiatan.

Arif menjelaskan bahwa pemisahan dua barisan tersebut memang menjadi bagian dari konsep sekolah. Kraton Sdayu Bhuwana membawa identitas budaya.

Sementara itu, Pasukan Semut membawa pesan kepedulian lingkungan. Keduanya tetap berada dalam kerangka pendidikan.

“Di depan kami membawa budaya, di belakang kami membawa kepedulian terhadap lingkungan. Keduanya tetap merupakan bagian dari pendidikan,” jelas Arif.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Jalan desa juga dapat berubah menjadi ruang pembelajaran ketika sekolah merancang kegiatan secara tepat.

Baca Juga  Gahvara Yava 2026 Tembus Rekor Baru di Luweng Ombo Pacitan

Berdasarkan pengamatan dalam kegiatan tersebut, Pasukan Semut SDAYU memberi contoh pendidikan yang dekat dengan realitas. Anak-anak belajar melalui aktivitas yang mereka lihat dan lakukan sendiri.

Gerakan kecil dapat membentuk kebiasaan besar

SDAYU juga mengaitkan kegiatan Pasukan Semut dengan semangat pengelolaan sampah di Kabupaten Trenggalek. Salah satunya melalui pengenalan terhadap gerakan Sangu Sampah.

Keterlibatan siswa dalam kegiatan semacam ini dapat memperkuat pesan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan partisipasi banyak pihak. Sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk membangun kebiasaan tersebut.

Namun, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Kebiasaan harus berlanjut setelah pawai selesai.

Siswa perlu membiasakan pemilahan sampah di sekolah. Mereka juga dapat membawa kebiasaan tersebut ke lingkungan keluarga.

Di titik inilah nilai Pasukan Semut menjadi lebih penting. Kegiatan tersebut bukan hanya soal jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan.

Dampak utamanya terletak pada perilaku yang mungkin tumbuh setelah kegiatan berakhir. Anak yang terbiasa memungut sampah akan memiliki kepekaan berbeda terhadap lingkungan sekitarnya.

Arif menyadari bahwa sekolah tidak mungkin menyelesaikan persoalan sampah dalam satu kegiatan. Karena itu, sekolah memilih menanamkan perubahan melalui langkah kecil.

“Kami tidak sedang menyelesaikan persoalan sampah yang besar. Kami sedang mengajarkan kepada anak-anak bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.”

Pernyataan tersebut menjadi inti dari gagasan Pasukan Semut. Pendidikan lingkungan tidak harus dimulai dengan program besar dan mahal.

Sebaliknya, sekolah dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana. Konsistensi kemudian menjadi kunci agar kebiasaan tersebut tumbuh menjadi karakter.

Dampak jangka panjang berada pada perubahan perilaku

Persoalan sampah sering mendapat perhatian ketika menimbulkan masalah. Tumpukan sampah dapat mengganggu lingkungan, menyumbat saluran air, dan menurunkan kualitas ruang publik.

Baca Juga  OJK Catat Kerugian Scam Rp9,1 Triliun, Mengapa Dana Korban Sulit Kembali?

Karena itu, pendekatan pencegahan memiliki nilai yang tidak kalah penting. Masyarakat perlu membangun kebiasaan sebelum persoalan berkembang menjadi beban yang lebih besar.

Sekolah memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Anak-anak dapat menjadi penghubung antara pengetahuan di sekolah dan kebiasaan di rumah.

Ketika siswa memahami pemilahan sampah, mereka dapat mengingatkan keluarga. Ketika mereka memahami nilai ekonomi sampah, mereka juga dapat melihat barang bekas secara berbeda.

Di sisi lain, kegiatan semacam ini perlu mendapatkan dukungan lingkungan sekitar. Pemerintah desa, sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat membangun pola pengelolaan sampah bersama.

Pawai budaya kemudian tidak hanya menjadi agenda tahunan. Kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan kebiasaan baik kepada masyarakat luas.

Bagi SDAYU, pesan itu sudah disampaikan melalui tindakan. Anak-anak berjalan di belakang rombongan budaya sambil menjaga jalan yang mereka lewati.

Catatan Editorial Headline Indonesia

Pasukan Semut SDAYU menunjukkan bahwa pendidikan dapat hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Anak-anak tidak perlu menunggu menjadi dewasa untuk mengambil peran menjaga lingkungan.

Mereka cukup memulai dari sampah yang berada di depan mata. Mereka juga perlu belajar bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

Karena itu, keberhasilan kegiatan ini tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul. Ukuran yang lebih penting adalah kebiasaan yang tumbuh setelah pawai selesai.

Jika satu anak mulai memilah sampah, perubahan sudah dimulai. Jika kebiasaan itu dibawa pulang, pengaruhnya menjadi lebih luas.

Pada akhirnya, budaya dan lingkungan tidak berdiri di dua sisi berbeda. Keduanya dapat berjalan bersama melalui pendidikan yang membumi.

Pasukan Semut SDAYU telah memilih cara sederhana untuk menyampaikan pesan tersebut. Peduli lingkungan memang dapat dimulai dari langkah kecil, tetapi dampaknya bisa berjalan jauh.

Editor : Nurani Soyomukti/Frend

improve alexa rank