Mengapa Pendidikan Al-Qur’an Perlu Direkonstruksi Total?

Headlineid.com – Peradaban Islam pernah melahirkan ilmuwan besar yang menguasai kedokteran, astronomi, matematika, hingga ekonomi. Menurut Guru Besar Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag., kejayaan itu tidak lahir secara kebetulan. Semua berawal dari cara umat Islam menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi utama pendidikan.

Pandangan tersebut disampaikan dalam Pengajian Sabtu Pagi An-Nahl Yogyakarta pada 1 Agustus 2026. Ia menilai pendidikan Islam saat ini menghadapi tantangan serius akibat perubahan paradigma yang berlangsung selama berabad-abad. Akibatnya, Al-Qur’an tidak lagi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan sebagaimana pada masa kejayaan Islam.

Berdasarkan telaah yang disampaikan Prof. Sutrisno, perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi cara belajar. Pergeseran itu juga berdampak pada arah berpikir, budaya akademik, hingga kemampuan umat Islam membangun tradisi ilmu yang mandiri.

Perubahan Cara Memahami Al-Qur’an Mengubah Wajah Pendidikan

Prof. Sutrisno menjelaskan bahwa generasi Islam terdahulu tidak memandang Al-Qur’an hanya sebagai bacaan ibadah. Sebaliknya, mereka menjadikan kitab suci sebagai sumber inspirasi untuk memahami kehidupan secara utuh.

Karena itu, seorang pelajar tidak berhenti pada hafalan ayat. Mereka melanjutkan proses dengan memahami makna, melakukan perenungan, lalu mengembangkan ilmu sesuai bidang yang diminati.

Namun, sejak sekitar abad ke-15, pendekatan tersebut mulai bergeser. Pembelajaran Al-Qur’an perlahan lebih banyak berfokus pada fikih ibadah dan pembinaan moral praktis. Sementara itu, kajian terhadap hubungan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan semakin menyempit.

Menurut Prof. Sutrisno, perubahan paradigma itu melahirkan dampak panjang. Umat Islam kehilangan dorongan untuk menjadikan wahyu sebagai landasan berpikir dalam seluruh aspek kehidupan.

Akibatnya, ruang akademik lebih sering memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Padahal, sejarah menunjukkan keduanya pernah tumbuh bersama dan saling menguatkan.

Dominasi Teori Barat Menjadi Tantangan Kemandirian Intelektual

Prof. Sutrisno juga menyoroti kuatnya dominasi teori Barat dalam dunia pendidikan modern. Ia menilai banyak akademisi lebih akrab dengan teori pendidikan, psikologi, maupun sosiologi dari ilmuwan Barat dibandingkan khazanah intelektual Islam.

Baca Juga  Petani Gurem dan Arti Kemerdekaan yang Belum Tuntas

Sebagai contoh, dunia pendidikan sering menggunakan taksonomi Benjamin Bloom sebagai rujukan utama. Di sisi lain, konsep pendidikan karakter banyak mengacu kepada Thomas Lickona.

Selain itu, teori Abraham Maslow dalam psikologi maupun konsep religiositas Glock dan Stark juga menjadi referensi umum dalam berbagai penelitian akademik.

Prof. Sutrisno tidak menolak keberadaan teori-teori tersebut. Akan tetapi, ia mengingatkan bahwa teori ilmiah seharusnya dikaji secara kritis dan diselaraskan dengan nilai Al-Qur’an.

Apabila proses penyelarasan itu tidak dilakukan, maka pendidikan Islam berpotensi kehilangan identitas intelektualnya sendiri. Menurutnya, kondisi itu melahirkan apa yang ia sebut sebagai Islam formalitas.

Dalam kondisi tersebut, identitas keislaman memang tampak secara administratif. Namun, pola pikir akademiknya justru semakin jauh dari akar wahyu.

Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, kritik semacam ini terus muncul dalam berbagai forum pendidikan Islam. Isu utamanya bukan penolakan terhadap ilmu modern, melainkan upaya membangun sintesis antara wahyu dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an Diturunkan untuk Dipahami dan Dipikirkan

Prof. Sutrisno mengingatkan bahwa Al-Qur’an memuat perintah agar risalah Islam disampaikan secara utuh. Ia merujuk pada QS. Al-Ma’idah ayat 67 sebagai dasar bahwa penyampaian ajaran tidak boleh dilakukan secara parsial.

Selain itu, QS. An-Nahl ayat 44 juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW menerima Al-Qur’an bukan hanya untuk dibacakan. Beliau juga diperintahkan menjelaskan kandungannya agar manusia berpikir dan mengambil pelajaran.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas intelektual menjadi bagian penting dalam ajaran Islam. Berpikir, meneliti, serta mengembangkan ilmu tidak diposisikan sebagai kegiatan yang terpisah dari keimanan.

Karena itu, pendidikan Islam menurut Prof. Sutrisno perlu menghidupkan kembali tradisi tadabbur. Tradisi tersebut mendorong peserta didik menghubungkan wahyu dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Baca Juga  Strata dan Desil: Angka Tak Boleh Mengukur Martabat

Empat Pilar Pendidikan Rasulullah Menjadi Fondasi Peradaban

Prof. Sutrisno kemudian menjelaskan empat pilar pendidikan yang dicontohkan Rasulullah SAW sebagaimana termuat dalam QS. Al-Baqarah ayat 129 dan ayat 151.

Pilar pertama ialah membacakan ayat-ayat Allah kepada umat. Langkah ini menjadi dasar pembentukan hubungan spiritual antara manusia dan wahyu.

Pilar kedua adalah penyucian jiwa. Pendidikan tidak cukup menghasilkan orang cerdas, tetapi juga harus membentuk karakter yang bersih dari kesombongan, kebencian, dan penyimpangan akhlak.

Selanjutnya, Rasulullah mengajarkan Kitab dan Hikmah. Artinya, proses pendidikan harus mengembangkan kemampuan memahami Al-Qur’an sekaligus menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Pilar terakhir ialah memberikan ilmu yang sebelumnya belum diketahui manusia. Bagian ini menunjukkan bahwa Islam mendorong lahirnya inovasi, penelitian, dan penemuan baru demi kemaslahatan umat.

Keempat pilar tersebut saling melengkapi. Pendidikan kehilangan keseimbangannya apabila hanya menekankan salah satu unsur dan mengabaikan unsur lainnya.

Rekonstruksi Pendidikan Membutuhkan Perubahan Cara Belajar

Menurut Prof. Sutrisno, rekonstruksi pendidikan Islam harus dimulai dari perubahan budaya belajar.

Mahasiswa dan pelajar perlu membiasakan membaca materi sebelum memasuki kelas. Dengan cara itu, waktu pembelajaran dapat digunakan untuk berdiskusi, mengkritisi teori, serta menghubungkannya dengan nilai Al-Qur’an.

Selain itu, disiplin juga menjadi syarat penting. Kualitas pendidikan tidak mungkin meningkat apabila peserta didik maupun lembaga pendidikan mengabaikan standar mutu.

Di sisi lain, kemandirian intelektual harus terus dibangun. Prof. Sutrisno mengingatkan bahwa keterbatasan fisik tidak boleh membuat seseorang kehilangan kebebasan berpikir.

Namun, kebebasan tersebut tetap berada dalam koridor nilai-nilai Al-Qur’an. Dengan demikian, penelitian ilmiah tetap berkembang tanpa kehilangan orientasi moral.

Langkah berikutnya ialah penyucian akidah. Pendidikan Islam harus membersihkan peserta didik dari praktik khurafat dan takhayul yang menghambat lahirnya cara berpikir ilmiah.

Kebangkitan Peradaban Berawal dari Fondasi Pendidikan

Rekonstruksi pendidikan Al-Qur’an tidak cukup diwujudkan melalui perubahan dokumen kurikulum. Lebih dari itu, perubahan harus menyentuh cara pandang seluruh ekosistem pendidikan.

Baca Juga  Guru Agama di Era Digital: Dari Pengajar di Kelas Menjadi Penjaga Moral di Ruang Maya

Apabila Al-Qur’an kembali menjadi jiwa pendidikan, maka ilmu agama dan ilmu umum tidak lagi diposisikan sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya berkembang dalam satu kerangka yang saling menguatkan.

Pandangan tersebut memiliki relevansi dengan tantangan pendidikan Indonesia saat ini. Dunia membutuhkan lulusan yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepekaan sosial.

Karena itu, pendidikan Islam memiliki peluang besar berkontribusi dalam membangun generasi yang unggul secara akademik sekaligus matang secara spiritual.

Dampaknya Tidak Hanya Bagi Dunia Pendidikan

Gagasan yang disampaikan Prof. Sutrisno tidak berhenti pada ruang kelas. Apabila paradigma pendidikan berubah, dampaknya dapat menjangkau dunia riset, ekonomi, kesehatan, hingga kebijakan publik.

Lulusan yang terbiasa berpikir kritis berdasarkan nilai wahyu berpotensi menghasilkan inovasi yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi. Mereka juga mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat secara luas.

Selain itu, dunia pendidikan dapat melahirkan tradisi penelitian yang lebih mandiri. Tradisi tersebut penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teori, tetapi juga mampu melahirkan konsep baru yang relevan dengan karakter bangsa.

Catatan Editorial Headline Indonesia

Perdebatan mengenai hubungan agama dan ilmu pengetahuan sebenarnya bukan isu baru. Namun, refleksi yang disampaikan Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag. mengingatkan bahwa kekuatan sebuah peradaban selalu berawal dari filosofi pendidikannya.

Ketika Al-Qur’an ditempatkan sebagai sumber inspirasi berpikir, pendidikan tidak hanya mencetak tenaga kerja. Pendidikan juga melahirkan manusia yang mampu menghubungkan kecerdasan, akhlak, dan keberanian menghadirkan solusi bagi masyarakat. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, gagasan tentang kemandirian intelektual layak menjadi bahan diskusi serius bagi lembaga pendidikan, akademisi, dan para pengambil kebijakan di Indonesia.

Editor : Frend

improve alexa rank