Pengendalian Hama Terpadu Jadi Jalan Baru Tingkatkan Produktivitas Padi di Pacitan

Headlineid.comProduktivitas padi di Kabupaten Pacitan masih menghadapi tantangan akibat serangan hama, penyakit tanaman, dan tingginya ketergantungan terhadap pupuk maupun pestisida kimia. Menjawab persoalan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University menggelar program GERCEP (Gerakan Cermat Cegah Hama dan Penyakit Padi) di Balai Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, penyuluh pertanian, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan, serta petani dalam satu forum edukasi terpadu.

Program berlangsung secara hybrid. Perwakilan kelompok tani Desa Sidomulyo hadir langsung di lokasi. Sementara itu, petani dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pacitan mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kapasitas petani. Selain memberikan teori, tim juga memperkenalkan teknologi hayati yang dapat diproduksi secara mandiri dengan biaya rendah.

Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pembangunan pertanian tidak selalu harus dimulai dari teknologi mahal. Sebaliknya, perubahan pola pikir petani justru menjadi fondasi utama menuju sistem budidaya yang lebih sehat dan produktif.

Penyuluhan PHT Biointensif Jadi Fokus Program GERCEP

Pakar Tani dan Nelayan Center sekaligus dosen Proteksi Tanaman IPB University, Bonjok Istiaji, S.P., M.Si., menjadi pemateri utama dalam kegiatan tersebut. Ia mengajak petani memahami konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) biointensif sebagai pendekatan yang tidak hanya membasmi hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

Menurut Bonjok, tingkat kerusakan tanaman dipengaruhi tiga unsur utama, yakni tanaman inang, organisme pengganggu tumbuhan (OPT), dan kondisi lingkungan. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan sehingga pengendalian tidak dapat dilakukan secara parsial.

“Pengendalian penyakit tanaman sangat erat kaitannya dengan pengelolaan lingkungan dan harus dikendalikan sejak dini,” tegas Bonjok di hadapan peserta.

Ia juga mengingatkan petani agar mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia. Pendekatan yang terlalu mengandalkan pestisida justru berpotensi merusak keseimbangan mikroorganisme tanah yang selama ini membantu menjaga kesehatan tanaman.

Dalam sesi penyuluhan, peserta memperoleh materi mengenai berbagai ancaman utama di lahan sawah. Ancaman tersebut meliputi wereng batang cokelat, penggerek batang padi, tikus sawah, penyakit blast, hingga hawar atau busuk bulir bakteri.

Baca Juga  Qodari Tegaskan Demokrasi Harus Mengedepankan Dialog, Respons Penolakan Mahasiswa terhadap Pejabat di UGM

Selain mengenali karakter masing-masing hama, petani juga mempelajari langkah pencegahan sejak awal musim tanam. Materi mencakup penggunaan varietas tahan, perlakuan benih, pengaturan irigasi, penanaman refugia, hingga pengembalian bahan organik ke dalam tanah.

Bonjok memberikan satu pesan yang paling mendapat perhatian peserta. Ia mengingatkan agar agen hayati tidak dicampurkan dengan pestisida kimia.

“Ingat, aplikasi mikroba bermanfaat tidak boleh dicampur dengan pestisida kimia. Istilahnya, racun tidak boleh bertemu nyawa,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan pertanian modern bukan hanya bergantung pada banyaknya input yang diberikan. Lebih dari itu, keberhasilan justru lahir dari kemampuan petani memahami cara kerja ekosistem di lahan mereka sendiri.

Petani Belajar Mengenali Hama dan Teknologi Hayati

Diskusi berlangsung interaktif. Petani tidak hanya bertanya mengenai budidaya padi, tetapi juga menyampaikan persoalan pada komoditas kelapa, kakao, singkong, dan tanaman perkebunan lainnya.

Penyuluhan tidak berhenti pada penyampaian teori. Mahasiswa KKNT IPB University melanjutkan kegiatan dengan demonstrasi pembuatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) menggunakan bahan dasar akar bambu.

PGPR merupakan kumpulan bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Mikroba tersebut membantu meningkatkan penyerapan unsur hara, mempercepat pertumbuhan akar, memperkuat daya tahan tanaman, sekaligus meningkatkan kemampuan tanaman menghadapi serangan organisme pengganggu.

Pemanfaatan akar bambu sebagai sumber mikroba menjadi salah satu inovasi yang mudah diterapkan di tingkat petani. Bahan bakunya tersedia melimpah di pedesaan sehingga biaya produksi relatif murah.

Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan agen hayati Trichoderma. Jamur ini dikenal mampu menekan perkembangan jamur patogen penyebab berbagai penyakit tanaman.

Perwakilan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Ririn, berharap demonstrasi tersebut mampu meningkatkan kepercayaan petani terhadap teknologi hayati.

“Harapannya melalui kegiatan ini, petani menjadi lebih tertarik dan mulai mau mencoba serta mengaplikasikan PGPR secara mandiri di lahan pertanian masing-masing,” ujarnya.

Pendekatan semacam ini memiliki nilai strategis. Petani tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi berubah menjadi pelaku inovasi yang mampu memproduksi sendiri kebutuhan biologis untuk lahannya.

Baca Juga  725 Tukik Dilepas ke Laut Pacitan, Penyu Tak Bisa Dijaga Sendirian

Melalui program GERCEP (Gerakan Cermat Cegah Hama dan Penyakit Padi), para petani dibekali pengetahuan tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pemanfaatan PGPR, hingga penggunaan agen hayati untuk mewujudkan budidaya padi yang lebih sehat, efisien, dan ramah lingkungan.

Ketahanan pangan bergantung pada perubahan pola budidaya petani

Perubahan iklim membuat ancaman terhadap produksi pangan semakin kompleks. Curah hujan yang tidak menentu, peningkatan populasi hama, hingga degradasi kualitas tanah menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah dosis pupuk dan pestisida.

Oleh karena itu, konsep Pengendalian Hama Terpadu menjadi semakin relevan. Pendekatan ini menggabungkan aspek ekologi, teknologi, dan manajemen budidaya dalam satu sistem yang saling mendukung.

Jika diterapkan secara konsisten, petani berpeluang menekan biaya produksi karena kebutuhan pupuk maupun pestisida dapat berkurang. Di sisi lain, kesehatan tanah akan tetap terjaga sehingga produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, tantangan terbesar bukan terletak pada ketersediaan teknologi. Persoalan utama justru berada pada proses adopsi inovasi di tingkat lapangan. Banyak petani masih merasa ragu meninggalkan pola budidaya lama karena khawatir hasil panen menurun pada masa transisi.

Padahal, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa penggunaan agen hayati mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan populasi mikroorganisme menguntungkan. Dampaknya memang tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, manfaatnya akan terasa ketika kesuburan tanah mulai pulih secara alami.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, penyuluh, pemerintah daerah, dan kelompok tani menjadi faktor yang menentukan keberhasilan proses tersebut. Tanpa pendampingan berkelanjutan, inovasi sering berhenti sebatas kegiatan sosialisasi.

Kolaborasi kampus dan petani menjadi investasi jangka panjang bagi pertanian Pacitan

Program GERCEP menunjukkan bahwa kegiatan Kuliah Kerja Nyata tidak hanya menghasilkan laporan akademik. Program tersebut mampu menjadi jembatan antara hasil penelitian kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Mahasiswa membawa ilmu terbaru dari laboratorium. Sebaliknya, petani memberikan pengalaman lapangan yang tidak selalu ditemukan dalam ruang kuliah. Pertemuan dua pengalaman tersebut melahirkan proses belajar yang saling melengkapi.

Model seperti ini layak diperluas ke desa-desa lain di Pacitan. Apalagi sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian.

Baca Juga  Dewan Kota Jakarta Timur Belajar Potensi Daerah ke Pacitan

Jika edukasi berlangsung secara rutin, petani akan memiliki bekal menghadapi perubahan iklim, fluktuasi harga pupuk, hingga meningkatnya ancaman organisme pengganggu tanaman.

Pada saat yang sama, generasi muda juga akan melihat bahwa pertanian bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional. Pertanian modern justru membutuhkan pengetahuan, inovasi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi hayati secara tepat.

Dampaknya tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga lingkungan

Penerapan PGPR dan Trichoderma membawa manfaat yang melampaui peningkatan produksi. Penggunaan mikroba menguntungkan mampu mengurangi residu bahan kimia pada tanah, menjaga kualitas air, serta mempertahankan keanekaragaman hayati di lahan pertanian.

Selain itu, biaya produksi petani berpotensi lebih efisien. Ketergantungan terhadap pupuk sintetis dan pestisida dapat ditekan secara bertahap tanpa mengorbankan produktivitas.

Bagi Pacitan, langkah ini membuka peluang lahirnya sistem pertanian yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. Ketika kesehatan tanah membaik, risiko gagal panen akibat tekanan lingkungan juga dapat ditekan.

Ke depan, tantangannya terletak pada keberlanjutan pendampingan. Program edukasi perlu diikuti dengan demonstrasi lapangan, monitoring hasil, dan penguatan kelembagaan kelompok tani agar inovasi tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Catatan Editorial Headline Indonesia

Ketahanan pangan tidak lahir dari banyaknya pupuk yang ditebar atau pestisida yang disemprotkan. Ketahanan pangan dibangun melalui kemampuan petani memahami cara kerja alam, memanfaatkan ilmu pengetahuan, dan mengelola lahan secara bijaksana.

GERCEP yang digagas mahasiswa IPB University memperlihatkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah sederhana. Ketika kampus, penyuluh, dan petani bergerak bersama, pertanian tidak hanya menghasilkan panen yang lebih baik. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut menyiapkan fondasi bagi lahirnya sistem pertanian Pacitan yang sehat, mandiri, dan mampu menopang kebutuhan pangan masyarakat pada masa mendatang.

————————————-

Penulis : Ratna Mardiasih, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University, Bidang Pertanian, Sub-bidang Budidaya Padi Ramah Lingkungan

Editor : Frend

 

 

improve alexa rank