Wawancara Imajiner Petani dan Ki Sukma Memaknai Kemerdekaan dari Sawah : “Saya Tidak Pernah Masuk Buku Sejarah. Tapi Saya Ikut Menjaga Indonesia.”

Headline Indonesia Percakapan imajiner antara seorang petani dan Ki Sukma dalam menyambut 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pagi masih muda. Kabut tipis menggantung di atas pematang, sementara embun membasahi daun padi yang mulai menguning.

Dari kejauhan terdengar suara burung. Sesekali, deru kendaraan melintas di jalan desa yang belum terlalu ramai.

Percakapan di Tengah Sawah

Seorang petani duduk di bawah pohon. Cangkul tua tergeletak di sampingnya setelah ia berhenti bekerja sejenak.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua berdiri tidak jauh darinya. Pakaiannya sederhana dengan wajah teduh dan tatapan yang dalam.

Petani itu memperhatikannya beberapa saat.

“Ki Sukma?”

Lelaki tua tersebut tersenyum.

“Dari mana kau tahu namaku?”

“Entahlah. Rasanya seperti pernah mendengar.”

“Nama kadang tidak perlu diperkenalkan. Ia cukup dikenali oleh ingatan.”

Petani itu terkekeh. “Wah, jawaban Ki selalu begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Dalam. Bikin orang desa seperti saya harus berpikir dulu.”

Ki Sukma tertawa kecil. “Bukankah petani memang harus pandai berpikir?”

“Petani?”

“Iya. Bukankah setiap hari kau mengambil keputusan?”

“Keputusan apa?”

“Kapan menanam, memupuk, mengairi, dan memanen. Bahkan, kapan harus menunggu.”

Pandangan petani beralih ke sawah di hadapannya.

“Menunggu memang pekerjaan paling berat bagi petani.”

“Kenapa?”

“Kami menanam hari ini, tetapi tidak tahu bagaimana hasilnya nanti.”

Ki Sukma mengangguk pelan.

“Bukankah hidup juga begitu?”

Senyum tipis muncul di wajah petani.

“Mungkin itu sebabnya orang desa lebih akrab dengan kesabaran.”

Mereka terdiam sejenak. Angin bergerak perlahan melewati hamparan padi.

“Sebentar lagi 17 Agustus,” kata Ki Sukma.

“Iya.”

“Negeri ini akan kembali merayakan kemerdekaannya.”

“Setiap tahun begitu.”

“Menurutmu, apa arti kemerdekaan?”

Petani menggaruk kepalanya. “Pertanyaan Ki terlalu berat untuk pagi-pagi.”

“Jawab saja dengan apa yang kau rasakan.”

Petani kemudian menatap kedua tangannya. Telapak tangannya kasar dan terdapat beberapa bekas luka kecil.

“Bagi saya?”

“Iya.”

“Merdeka itu sederhana.”

“Apa?”

“Bisa bekerja tanpa kehilangan harapan.”

Ki Sukma terdiam. Petani itu kemudian melanjutkan perkataannya.

“Saya ingin menanam tanpa takut sawah ini hilang. Saya ingin panen tanpa takut hasilnya tidak cukup membayar biaya produksi.”

“Selain itu?”

“Saya ingin anak saya sekolah. Saya ingin keluarga saya makan dengan layak.”

“Dan itu menurutmu kemerdekaan?”

“Setidaknya begitu bagi saya.”

Kemerdekaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Ki Sukma tersenyum.

“Banyak orang mengira kemerdekaan adalah sesuatu yang besar.”

“Bukankah memang besar?”

“Besar dalam sejarah. Namun, kecil dalam kehidupan sehari-hari.”

Petani itu mengernyit.

“Bagaimana maksudnya?”

“Ketika seorang anak bisa sekolah, itu kemerdekaan. Ketika seorang ibu mampu membeli makanan untuk keluarganya, itu juga kemerdekaan.”

Ki Sukma berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Ketika seorang petani bisa hidup dari tanahnya sendiri, itu pun bagian dari kemerdekaan.”

Baca Juga  Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang Jadi Alternatif Lari di Tengah Rindangnya Pepohonan

Petani mengangguk perlahan.

“Berarti kemerdekaan tidak hanya soal bendera?”

“Bendera adalah simbolnya.”

“Lalu isinya?”

“Manusia.”

Pandangan petani kemudian tertuju pada Merah Putih kecil yang terpasang di ujung pematang.

“Kalau begitu, saya ini bagian dari kemerdekaan?”

“Lebih dari itu.”

“Apa?”

“Kau ikut menjaganya.”

Petani tertawa.

“Jangan berlebihan, Ki. Saya hanya petani.”

“Justru karena kau mengatakan ‘hanya’.”

“Apa maksudnya?”

“Bangsa ini sering lupa bahwa sesuatu yang besar dibangun oleh pekerjaan yang dianggap kecil.”

Petani kembali terdiam.

Ki Sukma kemudian menunjuk hamparan padi di depan mereka.

“Kau menanam padi.”

“Iya.”

“Padi itu menjadi beras.”

“Iya.”

“Beras menjadi makanan.”

“Iya.”

“Selanjutnya, makanan membuat manusia bertahan hidup.”

Petani tersenyum.

“Kalau begitu, saya ternyata penting juga.”

“Bukan hanya kau.”

“Siapa lagi?”

“Nelayan, buruh, guru, pedagang kecil, sopir, tukang bangunan, dan ibu rumah tangga.”

Ki Sukma memandangnya.

“Semua orang yang bekerja setiap hari ikut membuat kehidupan tetap berjalan.”

Mereka yang Bekerja di Balik Kemajuan Bangsa

Petani menatap Ki Sukma dengan rasa penasaran.

“Kalau begitu, mengapa nama kami jarang masuk sejarah?”

Ki Sukma tersenyum tipis.

“Karena sejarah sering ditulis dengan nama orang-orang yang berdiri di depan.”

“Padahal?”

“Padahal sebuah bangsa juga berdiri karena orang-orang yang bekerja di belakang.”

Petani menarik napas panjang. Ada sesuatu yang selama ini ia rasakan, tetapi sulit ia ungkapkan.

“Kadang saya merasa pekerjaan kami semakin tidak dihargai.”

“Kenapa?”

“Biaya bertani semakin berat. Pupuk mahal dan bibit harus dibeli.”

Ia melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Cuaca juga tidak menentu. Hama datang. Setelah berbulan-bulan bekerja, harga panen belum tentu bagus.”

“Kau pernah ingin berhenti?”

“Sering.”

“Tapi kau tetap di sini.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Petani memandang sawahnya.

“Karena kalau semua berhenti, siapa yang menanam?”

Ki Sukma tersenyum.

“Itulah jawaban seorang penjaga.”

Petani tertawa.

“Jangan panggil saya penjaga. Kedengarannya seperti pahlawan.”

“Apakah kau ingin menjadi pahlawan?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Saya cuma ingin hidup layak.”

Ki Sukma mengangguk.

“Barangkali itulah yang membuatmu lebih dekat dengan makna kemerdekaan daripada banyak orang.”

Petani terdiam. Beberapa saat kemudian, ia kembali memandang sawah.

“Ki.”

“Ya?”

“Menurut Ki, Indonesia sudah benar-benar merdeka?”

Kemerdekaan yang Harus Terus Dijaga

Pertanyaan tersebut membuat suasana berubah. Angin yang sebelumnya bergerak lembut seolah berhenti.

Ki Sukma memandang jauh ke arah bukit.

“Indonesia sudah merdeka dari penjajahan.”

“Lalu?”

“Perjuangan belum selesai.”

Petani menatapnya.

“Bukankah kita sudah 81 tahun merdeka?”

“Usia sebuah negara bukan ukuran selesai atau tidaknya perjuangan.”

Ki Sukma kemudian melanjutkan dengan suara tenang.

“Penjajahan hari ini tidak selalu datang membawa senjata.”

Baca Juga  Kopi untuk Ginjal, Benarkah Minum Setiap Hari Bisa Memberi Manfaat?

“Lalu dengan apa?”

“Ketimpangan, kemiskinan, kebodohan, kerusakan lingkungan, ketergantungan, dan keserakahan.”

Petani mengangguk perlahan.

“Berarti bentuknya berubah.”

“Benar.”

“Kalau begitu, bagaimana cara melawannya?”

“Dengan manusia yang sadar bahwa kemerdekaan bukan hadiah.”

“Bukankah kemerdekaan memang diwariskan oleh para pahlawan?”

“Warisan bukan berarti boleh dibiarkan.”

Petani menunduk dan memandang tanah di bawah kakinya.

“Seperti sawah?”

“Seperti sawah.”

“Kalau tidak dirawat, rusak.”

“Kalau tidak dijaga, hilang.”

Petani mengangguk.

“Saya justru takut sawah ini hilang.”

“Kenapa?”

“Karena kalau sawah habis, kita akan kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada tanah.”

“Apa?”

“Cara hidup.”

Menjaga Sawah Berarti Menjaga Masa Depan

Ki Sukma menatapnya dengan serius.

“Jelaskan.”

“Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu bagaimana nasi sampai ke piring.”

Petani kemudian menunjuk sawah di hadapan mereka.

“Mereka tahu beras ada di toko. Mereka tahu beras bisa dibeli. Namun, tidak semua tahu ada petani yang menanamnya selama berbulan-bulan.”

“Dan jika tanah berubah menjadi bangunan?”

Petani menarik napas.

“Suatu hari kita mungkin punya banyak gedung, tetapi harus membeli makanan dari tempat lain.”

Ki Sukma tersenyum.

“Pikiranmu jauh juga.”

“Petani tidak hanya mencangkul, Ki.”

“Aku tahu.”

“Kami juga memikirkan masa depan.”

Pembicaraan kemudian beralih kepada anak petani tersebut.

“Lalu bagaimana dengan anakmu?”

Petani tersenyum.

“Saya tidak memaksa dia menjadi petani.”

“Kenapa?”

“Saya ingin dia memilih sendiri.”

“Kalau dia tidak mau meneruskan sawah?”

“Tidak apa-apa.”

“Tidak sedih?”

“Sedih mungkin.”

Petani menunduk sejenak.

“Tapi saya lebih ingin anak saya menjadi manusia yang baik daripada sekadar meneruskan pekerjaan saya.”

Ki Sukma tersenyum.

“Kalau suatu hari dia menjadi dokter?”

“Saya bangga.”

“Guru?”

“Bangga.”

“Wartawan?”

“Bangga.”

“Pengusaha?”

“Bangga.”

“Petani?”

Petani tertawa.

“Kalau itu, saya paling bangga.”

Keduanya tertawa bersama.

Tanah Bukan Sekadar Milik, tetapi Titipan

Beberapa saat kemudian, petani mengambil segenggam tanah.

“Ki.”

“Ya?”

“Tanah ini menurut Ki milik siapa?”

Ki Sukma tidak langsung menjawab.

“Menurutmu?”

“Katanya milik saya.”

“Dan kau percaya?”

“Tidak sepenuhnya.”

“Kenapa?”

“Karena saya hanya menjaganya untuk sementara.”

Ki Sukma tersenyum lebar.

“Nah.”

“Apa?”

“Itulah jawaban yang sering dilupakan manusia.”

Petani menggenggam tanah tersebut lebih erat.

“Kita sering merasa memiliki tanah.”

“Padahal?”

“Tanah yang memiliki kita.”

Ki Sukma mengangguk.

“Karena ketika manusia mati, tanah tetap ada.”

Petani kembali memandang hamparan sawah.

“Kalau begitu, tugas kita bukan memiliki.”

“Lalu?”

“Menjaga.”

“Untuk siapa?”

“Untuk anak-anak setelah kita.”

Ki Sukma terdiam. Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan.

“Kalau begitu, kau sebenarnya sedang menulis sejarah.”

Petani tertawa.

“Saya?”

“Iya.”

“Nama saya saja tidak masuk buku sejarah.”

“Sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta.”

Baca Juga  Resep Bakso Daging Sapi Kenyal Gurih, Rahasia Kuah Kaldu Super Sedap ala Abang Bakso

“Lalu dengan apa?”

“Dengan apa yang kau tinggalkan.”

Petani kembali memandang sawah.

“Kalau begitu, mungkin saya hanya ingin meninggalkan tanah yang masih bisa ditanami.”

“Dan itu cukup.”

“Benarkah?”

“Cukup untuk sebuah kehidupan.”

Mengangkat Cangkul, Menjaga Indonesia

Matahari semakin tinggi. Petani kemudian berdiri dan mengambil cangkulnya.

“Saya harus bekerja lagi.”

“Bukankah kau baru saja beristirahat?”

“Petani tidak bisa terlalu lama berbicara tentang masa depan jika masa depan itu sendiri harus ditanam hari ini.”

Ki Sukma tertawa.

“Kalimatmu bagus.”

“Bukan kalimat saya.”

“Lalu?”

“Pelajaran dari sawah.”

Petani berjalan menuju petak berikutnya. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, ia berhenti.

“Ki.”

“Ya?”

“Kalau 17 Agustus nanti orang-orang bertanya apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia, saya harus menjawab apa?”

Ki Sukma menatapnya.

“Jawab saja dengan jujur.”

“Apa?”

“Katakan bahwa kau tidak pernah mengangkat senjata.”

Petani menunggu.

“Kau hanya mengangkat cangkul.”

Petani tersenyum.

“Lalu?”

“Kau tidak pernah berdiri di podium.”

“Lalu?”

“Kau hanya berdiri di pematang.”

Petani mengangguk.

“Terus?”

“Kau tidak pernah masuk buku sejarah.”

Petani tersenyum semakin lebar.

“Lalu?”

Ki Sukma menatap hamparan padi.

“Tetapi setiap pagi kau menanam sesuatu yang akan dimakan oleh orang lain.”

Petani terdiam.

Ki Sukma kemudian berkata pelan.

“Bukankah itu juga cara menjaga Indonesia?”

Petani menundukkan kepala. Cangkul kembali diangkat dan tanah kembali dibelah.

Benih kembali ditanam.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Bahkan, tidak ada penghargaan.

Hanya seorang petani yang bekerja di bawah matahari.

Namun, justru di situlah kemerdekaan menemukan maknanya yang paling sederhana.

Kemerdekaan yang Hidup dalam Keseharian

Kemerdekaan bukan hanya kemeriahan upacara. Maknanya juga tidak sebatas panjangnya pidato atau banyaknya spanduk yang dipasang.

Sebaliknya, nilai kemerdekaan hidup dalam manusia biasa yang memilih untuk tetap bekerja setiap hari.

Mereka menjaga tanah, memberi makan keluarga, mendidik anak, serta membantu kehidupan terus berjalan.

Lebih dari itu, orang-orang tersebut tetap percaya bahwa hari esok masih layak diperjuangkan.

Petani itu mungkin tidak pernah masuk buku sejarah. Namanya pun belum tentu tercatat dalam pidato kenegaraan.

Namun, setiap pagi ia ikut menjaga Indonesia melalui pekerjaan yang sederhana.

Dengan menanam padi, ia membantu menyediakan makanan bagi orang lain. Pada saat yang sama, ia menjaga tanah agar generasi berikutnya masih memiliki tempat untuk menanam.

Karena itu, semangat kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang setiap bulan Agustus.

Nilai tersebut perlu dirawat melalui pekerjaan, tanggung jawab, kepedulian, serta keberanian menjaga kehidupan.

Kemerdekaan bukan hanya warisan yang harus dikenang.

Kemerdekaan adalah kehidupan yang harus dijaga.

Editor: Frend

improve alexa rank