Headline indonesia – Dunia ilmu pengetahuan kembali dihadapkan pada sebuah teka-teki besar mengenai asal-usul manusia. Spesies purba Homo habilis, yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu nenek moyang manusia modern, kini memunculkan perdebatan baru setelah ditemukan fosil yang lebih lengkap.
Temuan terbaru itu membuat sejumlah ilmuwan mempertanyakan posisi Homo habilis dalam garis evolusi manusia. Bahkan muncul pendapat bahwa spesies ini mungkin bukan bagian dari genus manusia seperti yang selama ini diyakini.
Homo habilis Menjadi Salah Satu Spesies Paling Misterius
Homo habilis pertama kali dimasukkan ke dalam silsilah evolusi manusia pada tahun 1964. Spesies purba ini diperkirakan hidup sekitar 2,4 juta hingga 1,65 juta tahun lalu.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan hanya memiliki tiga kerangka fosil yang tidak lengkap untuk dipelajari. Keterbatasan bukti tersebut membuat gambaran mengenai bentuk tubuh Homo habilis masih menyisakan banyak pertanyaan.
Namun situasi berubah setelah para peneliti mendeskripsikan kerangka fosil keempat yang lebih lengkap pada awal tahun 2026. Temuan itu membuka pandangan baru mengenai anatomi Homo habilis.
Bernard Wood, ahli paleoantropologi dari George Washington University, mengatakan bahwa semakin banyak fosil yang ditemukan, definisi mengenai genus Homo juga semakin luas.
Menurutnya, ada kemungkinan para ilmuwan selama ini memperluas definisi tersebut terlalu jauh.
Fosil Baru Memunculkan Kejanggalan
Selama ini Homo habilis dianggap sebagai manusia awal karena ukuran otaknya relatif lebih besar dibanding spesies purba lain.
Fosil pertama yang ditemukan di Tanzania pada tahun 1960-an menunjukkan ukuran otak Homo habilis sekitar 45 persen dari ukuran otak manusia modern. Jumlah tersebut lebih besar dibanding rata-rata otak australopithecine yang hanya sekitar 35 persen.
Karena alasan tersebut, spesies ini dimasukkan ke dalam genus Homo dan diberi nama Homo habilis atau yang berarti “manusia yang terampil”.
Namun penemuan fosil baru justru mengubah banyak pandangan.
Kerangka berusia sekitar dua juta tahun tersebut memperlihatkan bagian lengan yang jauh lebih jelas. Hasilnya cukup mengejutkan karena lengan Homo habilis ternyata panjang dan sangat menyerupai kera.
Temuan inilah yang kemudian memicu perdebatan di kalangan ilmuwan.
Benarkah Homo habilis Bukan Manusia?
Ian Tattersall, ahli paleoantropologi dari American Museum of Natural History, menilai bentuk lengan tersebut lebih menyerupai Australopithecus daripada manusia.
Menurutnya, karakteristik itu bisa menjadi petunjuk kuat bahwa Homo habilis sebenarnya bukan bagian dari genus Homo.
Pendapat serupa juga pernah disampaikan Bernard Wood dan arkeolog Mark Collard. Keduanya bahkan mengusulkan agar spesies tersebut dipindahkan ke kelompok Australopithecus dan dinamai Australopithecus habilis.
Namun tidak semua ilmuwan setuju.
Carol Ward, antropolog dari University of Missouri, berpendapat bahwa proporsi anggota tubuh yang menyerupai kera tidak selalu menjadi penentu utama dalam evolusi manusia.
Menurutnya, nenek moyang manusia awal kemungkinan masih sering memanjat pohon. Karena itu, lengan panjang tetap berguna meskipun mereka mulai beradaptasi berjalan dengan dua kaki di daratan.
Evolusi Manusia Mungkin Tidak Terjadi Secara Cepat
Penelitian terbaru ini justru menguatkan kemungkinan bahwa evolusi manusia berlangsung lebih bertahap daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Para ilmuwan menduga perubahan dari spesies mirip kera menuju manusia modern tidak terjadi secara mendadak. Evolusi kemungkinan berlangsung melalui banyak tahap dan adaptasi yang kompleks selama jutaan tahun.
Hingga kini, Homo habilis masih menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam sejarah evolusi manusia. Semakin banyak fosil ditemukan, semakin banyak pula pertanyaan baru yang muncul.
Alih-alih memberikan jawaban pasti, fosil terbaru Homo habilis justru membuat misteri asal-usul manusia semakin menarik untuk ditelusuri. (frend/masson)




