Surabaya, Headlineid.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jawa Timur terus mempercepat proses identifikasi korban tenggelamnya KM Mutiara Sentosa II. Hingga Selasa, 4 Agustus 2026, tim telah berhasil mengidentifikasi lima kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, dua jenazah telah diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.
Penyerahan jenazah menjadi momen yang paling dinantikan keluarga korban. Setelah melewati proses identifikasi ilmiah, kepastian identitas akhirnya mengakhiri masa penantian yang penuh kecemasan. Meski demikian, pekerjaan Tim DVI masih berlangsung karena masih terdapat korban lain yang harus dipastikan identitasnya.
Peristiwa tenggelamnya KM Mutiara Sentosa II menjadi salah satu tragedi pelayaran yang menyisakan duka mendalam. Selain menelan korban jiwa, musibah ini juga menghadirkan tantangan besar bagi tim evakuasi dan tenaga forensik yang bekerja tanpa henti sejak hari pertama.
Korban yang telah diserahkan kepada keluarga adalah Sri Indratmo Wijaya, laki-laki berusia 47 tahun, warga Dukuh Lunggoh, Mojoagung, Pucakwangi, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Korban lainnya ialah Sari Sukoco, laki-laki berusia 39 tahun, warga Jalan Kawi 08-A, Sidorejo Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menjelaskan bahwa kedua jenazah langsung diantar menuju rumah duka menggunakan ambulans RS Bhayangkara Surabaya. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk pelayanan kemanusiaan kepada keluarga korban.
“Kami telah menyerahkan dua jenazah kepada pihak keluarga. Selanjutnya, jenazah diantar menuju rumah duka menggunakan ambulans RS Bhayangkara,” ujar Kombes Abast, Selasa (4/8/2026).
Selain menyampaikan perkembangan identifikasi, Kombes Abast juga mengungkapkan belasungkawa atas musibah tersebut. Ia berharap seluruh keluarga yang ditinggalkan memperoleh ketabahan menghadapi cobaan berat tersebut.
Proses identifikasi ilmiah menjadi kunci kepastian bagi keluarga korban
Identifikasi korban bencana bukan sekadar mencocokkan nama dengan jenazah. Tim DVI harus menjalankan prosedur ilmiah yang ketat agar tidak terjadi kesalahan. Setiap jenazah diperiksa melalui berbagai metode, mulai dari pemeriksaan fisik, sidik jari, rekam gigi, hingga data DNA apabila diperlukan.
Karena itu, proses identifikasi sering memerlukan waktu. Kecepatan tetap menjadi prioritas, tetapi akurasi tidak boleh dikorbankan. Kesalahan sekecil apa pun dapat menimbulkan dampak psikologis yang sangat besar bagi keluarga korban.
Polda Jawa Timur menegaskan seluruh tahapan dilakukan secara profesional, transparan, dan humanis. Pendekatan tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum sekaligus menghormati martabat setiap korban.
Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, keberhasilan identifikasi tidak hanya bergantung pada kemampuan laboratorium forensik. Dukungan data antemortem dari keluarga juga memiliki peran yang sangat menentukan. Semakin lengkap informasi yang diberikan, semakin cepat pula proses pencocokan identitas dapat dilakukan.
Kolaborasi lintas instansi mempercepat penanganan korban
Penanganan tragedi laut tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Oleh sebab itu, Polda Jawa Timur bekerja sama dengan berbagai instansi sejak awal operasi pencarian dan identifikasi.
Di lapangan, petugas membangun posko evakuasi terpadu untuk mempercepat penanganan korban. Sementara itu, Posko Antemortem (AM) dan Postmortem (PM) disiagakan di RS Bhayangkara Surabaya sebagai pusat identifikasi medis dan forensik.
Posko Antemortem bertugas mengumpulkan informasi mengenai korban dari pihak keluarga. Sebaliknya, Posko Postmortem melakukan pemeriksaan terhadap jenazah yang ditemukan. Kedua data tersebut kemudian dicocokkan secara ilmiah hingga menghasilkan identitas yang sah.
Model kerja seperti ini telah diterapkan dalam berbagai bencana besar di Indonesia. Pendekatan tersebut terbukti mampu meningkatkan akurasi identifikasi sekaligus mempercepat proses penyerahan jenazah kepada keluarga.
Namun, tantangan tetap muncul ketika kondisi jenazah mengalami perubahan akibat lama berada di perairan. Dalam situasi seperti itu, pemeriksaan forensik harus dilakukan lebih mendalam sehingga membutuhkan waktu tambahan.
Kepastian identitas membantu proses pemulihan psikologis keluarga
Bagi keluarga korban, kepastian identitas memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar administrasi. Kepastian tersebut menjadi awal bagi proses menerima kenyataan dan melanjutkan kehidupan.
Ketidakjelasan status anggota keluarga sering memunculkan tekanan emosional yang berkepanjangan. Selama identitas belum dipastikan, harapan dan kecemasan terus bercampur dalam pikiran keluarga.
Karena alasan itu, proses DVI memegang peran penting dalam penanganan bencana. Tim tidak hanya bekerja untuk kepentingan hukum, tetapi juga membantu keluarga memperoleh kepastian yang mereka butuhkan.
Di sisi lain, pelayanan pengantaran jenazah menggunakan ambulans menuju rumah duka menunjukkan bahwa pendekatan kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dalam operasi penanganan korban.
Polda Jawa Timur juga membuka Pusat Informasi Operasi DVI KM Mutiara Sentosa II melalui nomor 0851-9044-7911. Layanan tersebut memudahkan keluarga memperoleh informasi resmi mengenai perkembangan identifikasi.
Selain itu, masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga dalam pelayaran KM Mutiara Sentosa II diminta segera melapor ke Posko DVI RS Bhayangkara Surabaya. Pelaporan sedini mungkin akan mempercepat pengumpulan data antemortem.
Penguatan keselamatan pelayaran menjadi pekerjaan besar setelah tragedi
Musibah ini kembali mengingatkan bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama. Penyelamatan korban memang penting, tetapi upaya pencegahan jauh lebih menentukan.
Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan terhadap sistem pengawasan kapal, kelengkapan alat keselamatan, hingga prosedur tanggap darurat. Setiap temuan nantinya harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang mampu mencegah tragedi serupa.
Selain itu, koordinasi antarlembaga juga perlu terus diperkuat. Pengalaman dalam operasi KM Mutiara Sentosa II menunjukkan bahwa respons cepat hanya dapat tercapai melalui kerja sama yang solid.
Masyarakat pun memiliki peran penting. Penumpang perlu memastikan kapal yang digunakan memenuhi standar keselamatan serta mematuhi seluruh arahan awak kapal selama pelayaran.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Tragedi KM Mutiara Sentosa II bukan hanya berbicara tentang angka korban. Peristiwa ini mengingatkan bahwa setiap nama yang berhasil diidentifikasi merupakan seorang ayah, anak, saudara, atau sahabat yang telah lama dinantikan kepulangannya.
Karena itu, proses identifikasi harus tetap mengedepankan ketelitian sekaligus empati. Kepastian identitas memberikan ruang bagi keluarga untuk memulai pemulihan, sedangkan evaluasi terhadap sistem keselamatan pelayaran harus menjadi komitmen bersama agar tragedi serupa tidak kembali merenggut nyawa masyarakat Indonesia.
Editor : Frend




