Media AS Bantah Klaim Trump: Iran Masih Kuasai Pangkalan Rudal di Selat Hormuz

WASHINGTON, Headlineid.com — The New York Times melaporkan temuan mengejutkan yang membantah klaim resmi pemerintah Amerika Serikat. Berdasarkan penilaian intelijen rahasia awal bulan ini, Iran masih menguasai hampir seluruh situs rudalnya di sepanjang Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan titik paling strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia.

Temuan ini langsung menjadi sorotan. Pasalnya, laporan itu bertolak belakang dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyebut militer Iran telah hancur dalam kampanye pengeboman AS-Israel. Laporan tersebut menjadi pukulan bagi narasi resmi Washington yang selama ini disampaikan ke publik.

Iran Masih Kuasai Situs Rudal Strategis

Selama berminggu-minggu, media Amerika ramai memberitakan keberhasilan operasi militer gabungan AS dan Israel. Operasi itu berlangsung sejak 28 Februari hingga gencatan senjata pada 8 April.

Baca Juga  Iran vs Selandia Baru Berakhir Imbang 2-2, Elijah Just Bersinar di SoFi Stadium

Namun, investigasi The New York Times mengungkap fakta berbeda. Iran disebut telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 situs rudalnya di pesisir Selat Hormuz. Rudal-rudal itu masih mampu menargetkan kapal perang dan tanker AS yang melintas di jalur sempit tersebut.

Selat Hormuz sendiri menangani sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Karena itu, pemulihan hingga 90% situs rudal Iran dinilai sangat signifikan. Fakta ini menunjukkan bahwa kampanye pengeboman tidak memberi dampak sebesar yang diklaim sebelumnya.

Persediaan Rudal Iran Disebut Masih Utuh

Penilaian intelijen yang sama juga menyebut Iran masih mempertahankan sekitar 70% peluncur rudal bergeraknya. Selain itu, sekitar 70% persediaan rudal pra-perang juga masih tersedia.

Artinya, sebagian besar kekuatan militer Iran tetap bertahan meski digempur selama lebih dari sebulan. Situasi ini memicu pertanyaan serius di kalangan analis intelijen AS. Mereka mempertanyakan akurasi informasi yang diterima pemerintah sebelum melancarkan operasi militer.

Baca Juga  Iran Siapkan Hadiah Rp1 Triliun untuk Trump dan Netanyahu, Timur Tengah Kian Memanas

Sebagian analis bahkan menilai kampanye pengeboman itu justru memperkuat posisi tawar Iran di kawasan.

Negosiasi AS-Iran Masih Buntu

Sejak awal konflik, Iran telah menutup Selat Hormuz bagi kapal yang mereka sebut sebagai “kapal musuh”. Teheran juga bersikeras mengendalikan lalu lintas maritim serta memungut bea di wilayah tersebut.

Sikap itu menunjukkan tingkat kepercayaan diri Iran masih tinggi. Kondisi tersebut sejalan dengan laporan intelijen terbaru.

Di meja perundingan, kedua pihak juga tetap bersikukuh pada pendirian masing-masing. Negosiasi kembali menemui jalan buntu setelah AS dan Iran saling menolak proposal pada akhir pekan lalu.

Trump bahkan disebut meningkatkan ancaman untuk melanjutkan kampanye militer. Sejumlah laporan media menyebut ia telah menerima pengarahan terkait opsi serangan tambahan.

Baca Juga  Pagi Hari Cerah, Hujan Ringan Masih Berpotensi Turun

Iran Tolak Tuntutan AS soal Nuklir

Pemerintah AS terus menekan Iran agar membongkar program nuklir dan rudal balistiknya. Namun, tuntutan itu ditolak mentah-mentah oleh Teheran.

Iran bersikeras bahwa pengayaan uranium dilakukan untuk tujuan sipil. Sebagai syarat perdamaian, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan kepada pihak Barat.

Tuntutan itu meliputi penghentian perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon, pencabutan sanksi, pembayaran ganti rugi, hingga pengakuan atas “kedaulatan” Iran di Selat Hormuz.

Dengan kondisi militer Iran yang dinilai masih kuat, jalan menuju perdamaian diperkirakan masih panjang dan penuh tantangan. (red)