Headlineid.com – Olahraga HIIT selama enam bulan berpotensi membantu mempertahankan fungsi otak pada orang lanjut usia. Temuan itu muncul dari penelitian Universitas Queensland, Australia, yang mengamati 151 peserta berusia 65 hingga 85 tahun.
Penelitian tersebut membandingkan tiga bentuk latihan dengan tingkat intensitas berbeda. Hasilnya menunjukkan kelompok yang menjalani latihan interval intensitas tinggi mengalami perubahan kognitif paling menonjol.
Lebih jauh, manfaat tersebut tidak langsung hilang setelah program latihan berakhir. Peneliti menemukan peningkatan kognitif masih terlihat ketika peserta diperiksa kembali lima tahun kemudian. Temuan ini memberi perspektif baru tentang hubungan olahraga dan kesehatan otak. Aktivitas fisik ternyata tidak hanya berkaitan dengan kekuatan otot atau kesehatan jantung.
Penelitian membandingkan tiga tingkat intensitas olahraga
Peneliti Universitas Queensland menjalankan program latihan selama enam bulan. Mereka membagi 151 peserta berusia 65 hingga 85 tahun ke dalam tiga kelompok. Kelompok pertama menjalani latihan intensitas rendah, seperti peregangan. Sementara itu, kelompok kedua melakukan aktivitas intensitas sedang, termasuk berjalan menggunakan treadmill.
Kelompok ketiga menjalani latihan intensitas tinggi menggunakan sepeda statis. Para peneliti kemudian memantau perubahan fungsi otak menggunakan pemindaian otak dan sampel darah. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Kelompok olahraga HIIT memperlihatkan tanda peningkatan fungsi kognitif setelah mengikuti program tersebut. Penelitian itu terbit dalam jurnal Aging and Disease pada 2025. Perry Bartlett, ahli saraf dari Universitas Queensland, menyebut enam bulan latihan sudah memicu perubahan pada otak.
Namun, temuan paling menarik muncul setelah peneliti melakukan pemeriksaan lanjutan. Peserta tetap menunjukkan peningkatan kognitif lima tahun setelah program berakhir. Daniel Blackmore, ahli saraf Universitas Queensland, mengatakan peserta tidak harus terus menjalankan program tersebut. Menurutnya, peningkatan kognitif tetap terlihat meski peserta tidak meneruskan latihan.
Efek olahraga HIIT tidak berhenti ketika latihan selesai
Temuan lima tahun tersebut membuat pembahasan tentang olahraga dan otak menjadi lebih luas. Selama ini, manfaat olahraga sering dipahami melalui dampak langsung terhadap tubuh. Padahal, otak membutuhkan rangsangan yang konsisten untuk mempertahankan kemampuan berpikir. Aktivitas fisik dapat menjadi salah satu bagian dari pola hidup yang mendukung proses tersebut.
Karena itu, olahraga HIIT berpotensi menawarkan manfaat yang lebih panjang daripada sekadar kebugaran. Meski begitu, hasil penelitian tidak berarti setiap orang akan mendapatkan dampak yang sama. Faktor biologis, kondisi kesehatan, kebiasaan hidup, dan faktor genetik dapat memengaruhi respons tubuh terhadap olahraga. Peneliti juga masih ingin memahami pengaruh faktor genetik dalam hubungan tersebut.
Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak membaca temuan ini sebagai jaminan terbebas dari demensia. Studi tersebut lebih tepat menjadi bukti tambahan tentang pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan otak.
HIIT untuk lansia membutuhkan pendekatan yang berbeda
Latihan interval intensitas tinggi memang populer di kalangan orang yang ingin meningkatkan kebugaran. Namun, kebutuhan lansia tentu berbeda dibandingkan atlet atau orang dewasa yang sudah terlatih.
Harvard Health juga menekankan bahwa tingkat intensitas harus menyesuaikan kemampuan seseorang. Lansia tidak perlu mengejar kemampuan orang yang lebih muda atau lebih berpengalaman. Sebaliknya, latihan dapat dimulai secara bertahap. Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap peningkatan beban aktivitas.
Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah bijak. Terutama bagi lansia yang memiliki riwayat penyakit tertentu atau pernah mengalami masalah kardiovaskular.
Pendekatan tersebut membuat olahraga menjadi bagian dari perawatan diri. Tujuannya bukan mengejar angka atau kecepatan, melainkan menjaga tubuh tetap aktif secara aman.
Kesehatan otak tidak hanya bergantung pada olahraga
Olahraga memang memiliki posisi penting dalam menjaga kesehatan otak. Namun, aktivitas fisik tidak bekerja sendirian dalam menentukan kondisi kognitif seseorang. Spesialis saraf dr Sardiana Salam, SpS, MKes, juga menganjurkan aktivitas fisik bagi pasien. Bagi pasien yang pernah mengalami stroke, ia menyarankan olahraga ringan secara rutin.
Jogging ringan dapat menjadi salah satu pilihan. Selain itu, perubahan pola makan juga perlu mendapat perhatian dalam menjaga kesehatan pembuluh darah. Pola makan menjadi faktor lain yang tidak boleh diabaikan. Orang dengan masalah obesitas dapat berkonsultasi kepada dokter gizi untuk mendapatkan pola makan yang sesuai.
Pasalnya, kondisi metabolik tubuh turut berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah. Ketika pembuluh darah mengalami gangguan, otak juga dapat terkena dampaknya. Oleh sebab itu, menjaga kesehatan otak membutuhkan pendekatan menyeluruh. Olahraga, makanan, berat badan, tidur, dan kebiasaan sehari-hari perlu berjalan bersama.
Membaca dan TTS memberi rangsangan bagi otak
Selain bergerak secara fisik, otak juga membutuhkan aktivitas mental. Membaca buku menjadi salah satu kegiatan sederhana yang dapat memberikan rangsangan kognitif. Menurut dr Sardiana, membaca dapat memberikan aktivasi dan reaktivasi pada otak. Aktivitas tersebut membantu seseorang tetap menggunakan kemampuan berpikir secara aktif. Permainan teka-teki silang atau TTS juga dapat menjadi pilihan. Aktivitas tersebut mendorong seseorang mengingat kata, mencari hubungan, dan memecahkan persoalan.
Namun, masyarakat tidak perlu menjadikan TTS sebagai satu-satunya cara menjaga fungsi kognitif. Variasi aktivitas mental justru dapat membuat stimulasi menjadi lebih beragam. Membaca buku, menulis, berdiskusi, mempelajari keterampilan baru, dan bermain permainan yang membutuhkan pemikiran dapat dilakukan bergantian. Dengan begitu, aktivitas menjaga otak tidak terasa seperti kewajiban medis.
Dampak demensia jauh lebih luas daripada kehilangan ingatan
Penurunan kognitif tidak hanya memengaruhi kemampuan seseorang mengingat nama atau kejadian. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat mengubah kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Dampaknya juga dirasakan keluarga. Ketika seseorang kehilangan kemampuan mengurus dirinya sendiri, anggota keluarga sering mengambil peran sebagai pendamping.
Beban tersebut dapat muncul dalam bentuk waktu, biaya, maupun tekanan emosional. Karena itu, pencegahan penurunan kognitif perlu dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat. Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, pesan paling penting dari penelitian tersebut bukan sekadar HIIT. Pesan besarnya adalah menjaga otak perlu dimulai sebelum gangguan kognitif muncul.
Langkah pencegahan juga tidak harus selalu mahal. Aktivitas fisik yang sesuai kemampuan dapat dilakukan secara rutin di lingkungan sekitar. Masyarakat dapat memulai dari kebiasaan sederhana. Setelah tubuh terbiasa, intensitas aktivitas dapat ditingkatkan secara perlahan dengan pertimbangan kondisi kesehatan.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Temuan tentang olahraga HIIT membuka peluang baru dalam memahami hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan otak. Namun, masyarakat tetap perlu melihat penelitian tersebut secara proporsional.
Tidak ada satu latihan yang otomatis menjamin seseorang terbebas dari demensia. Sebaliknya, bukti tersebut memperkuat alasan untuk menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Bagi lansia, prinsip utamanya bukan berlatih sekeras mungkin. Prinsipnya adalah bergerak sesuai kemampuan, meningkatkan tantangan secara bertahap, dan menjaga konsistensi.
Pada akhirnya, menjaga otak bukan pekerjaan yang dimulai ketika daya ingat mulai menurun. Kebiasaan kecil yang dilakukan sejak sekarang dapat menjadi investasi bagi kemandirian pada usia lanjut.
Karena itu, olahraga, pola makan sehat, serta aktivitas mental layak ditempatkan dalam satu kebiasaan. Bukan sebagai tren sesaat, melainkan sebagai cara menjaga kualitas hidup sepanjang usia.
Editor : Frend




