Headlineid.com–Zuan Ratriningtiyas membawa nama Pacitan ke panggung kenegaraan pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Prajurit Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) asal Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, itu terpilih menjadi pembawa acara Upacara Penurunan Sang Merah Putih di Istana Merdeka.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara kebetulan. Zuan melewati seleksi berlapis yang mempertemukannya dengan prajurit terbaik dari berbagai matra TNI dan Polri.
Bagi perempuan yang tumbuh dari pelosok Pacitan itu, Istana Merdeka bukan sekadar tempat bertugas. Panggung tersebut menjadi titik penting dari perjalanan panjang yang dimulai dari sekolah, paskibraka, hingga Pasukan Protokol Kowad TNI AD.
Jalan menuju Istana dimulai dari seleksi yang ketat
Perjalanan Zuan menuju Istana Merdeka berlangsung melalui persaingan yang tidak ringan. Pada tahap seleksi di tingkat Mabesad, ia harus bersaing dengan 11 peserta.
Dari jumlah tersebut, hanya tiga peserta yang berhasil lolos. Zuan menjadi salah satu prajurit yang mendapatkan tiket menuju tahapan berikutnya.
Namun, persaingan belum berakhir. Pada tingkat Kogartap I/Jakarta, tantangannya semakin berat karena peserta datang dari berbagai unsur.
Zuan berhadapan dengan wakil terbaik TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, serta Polri. Setelah melewati proses tersebut, ia akhirnya terpilih mewakili matra darat.
Proses itu menunjukkan bahwa tugas kenegaraan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara. Seorang MC upacara kenegaraan harus menguasai protokol, menjaga intonasi, membaca situasi, serta mempertahankan konsentrasi.
Karena itu, pengalaman Zuan di Pasukan Protokol Kowad TNI AD menjadi modal penting. Lingkungan tersebut membentuk kemampuan komunikasi sekaligus kedisiplinan yang dibutuhkan dalam acara kenegaraan.
Panggung kenegaraan menjadi ujian mental
Zuan menyadari bahwa tugas di Istana Merdeka membawa beban tanggung jawab yang berbeda. Setiap ucapan memiliki konteks protokol dan setiap gerakan berada dalam perhatian publik.
“Mendapat kepercayaan menjadi MC pada Upacara Penurunan Sang Merah Putih dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya,” kata Zuan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana Zuan memandang tugas itu. Ia tidak sekadar melihatnya sebagai pencapaian pribadi, tetapi sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Selain itu, latar belakangnya memperlihatkan satu jalur pembentukan karakter yang konsisten. Zuan merupakan alumnus SMAN 1 Pacitan dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Pacitan 2019.
Empat tahun setelah menjadi Paskibraka, ia resmi dilantik sebagai Kowad pada 2023. Kariernya kemudian berlanjut di Pasukan Protokol Kowad TNI AD.
Rangkaian pengalaman tersebut menjadi semacam tangga. Setiap tahap memberikan kemampuan baru sebelum akhirnya mengantarkannya ke panggung nasional.
Dari Desa Candi, pesan SBY menjadi pegangan
Ada satu kalimat yang terus diingat Zuan dalam perjalanan tersebut. Pesan itu datang dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.
“Kalau anak lain bisa, anak Pacitan juga bisa,” ujar Zuan, mengutip pesan yang selalu ia tanamkan dalam hati dan pikirannya.
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, bagi anak muda dari daerah, keyakinan semacam itu dapat menjadi modal untuk menembus batas psikologis.
Selama ini, panggung nasional sering terlihat jauh bagi mereka yang tumbuh di daerah. Kesempatan terasa lebih dekat bagi mereka yang berada di pusat pemerintahan, pendidikan, atau industri.
Zuan justru menunjukkan gambaran berbeda. Ia berangkat dari Desa Candi dan menempuh proses pendidikan serta pembinaan secara bertahap.
Dari sudut pandang pembangunan sumber daya manusia, perjalanan tersebut memberi pesan yang lebih luas. Talenta daerah dapat bersaing ketika memperoleh ruang, pembinaan, dan kesempatan yang setara.
Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, kisah semacam ini tidak seharusnya berhenti sebagai cerita keberhasilan individu. Ada persoalan yang lebih besar tentang bagaimana daerah menciptakan ekosistem agar anak muda mampu mencapai panggung nasional.

Prestasi personal harus berubah menjadi inspirasi sosial
Zuan sendiri tidak mengklaim pencapaian tersebut sebagai hasil perjuangan seorang diri. Ia menyebut dukungan keluarga dan arahan para senior sebagai bagian penting dari prosesnya.
“Pencapaian ini tentu tidak lepas dari berkah serta rahmat Allah SWT, serta doa, dukungan, dan arahan dari orang-orang terdekat,” tuturnya.
Pengakuan itu memperlihatkan sisi lain dari prestasi seorang prajurit. Di balik seragam dan panggung resmi, terdapat keluarga yang memberi dukungan serta para senior yang membentuk kemampuan.
Karena itu, keberhasilan Zuan memiliki nilai sosial bagi Pacitan. Cerita tersebut dapat menjadi contoh bahwa jalur pengabdian tidak selalu dimulai dari kota besar.
Namun, inspirasi akan kehilangan makna jika berhenti pada seremoni. Pemerintah daerah, sekolah, organisasi kepemudaan, dan lembaga pendidikan perlu membuka lebih banyak ruang pembinaan.
Program paskibraka, pelatihan komunikasi, kepemimpinan, serta pengembangan bakat dapat menjadi pintu awal. Anak-anak daerah membutuhkan akses untuk menguji kemampuan mereka di luar lingkungan sendiri.
Dengan begitu, keberhasilan Zuan tidak menjadi cerita tunggal. Ia dapat menjadi bagian dari pola yang melahirkan lebih banyak talenta Pacitan di tingkat nasional.
Dampak jangka panjangnya ada pada keberanian generasi muda
Prestasi Zuan membawa dampak yang lebih jauh daripada sekadar kebanggaan daerah. Kehadirannya di Istana Merdeka memperlihatkan bahwa latar belakang geografis tidak menentukan batas akhir seseorang.
Bagi pelajar Pacitan, figur seperti Zuan dapat menjadi contoh yang lebih dekat. Mereka melihat bahwa seseorang dari lingkungan yang sama mampu mencapai panggung nasional melalui proses panjang.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga mendapat tantangan. Prestasi individu harus diikuti kebijakan yang memperkuat pembinaan talenta sejak tingkat sekolah.
Sekolah memiliki peran dalam menemukan kemampuan siswa. Pemerintah kemudian perlu memastikan kesempatan pengembangan tidak berhenti karena keterbatasan akses.
Selain itu, alumni Paskibraka dapat menjadi jaringan pembinaan yang kuat. Mereka memiliki pengalaman, disiplin, dan pengetahuan yang bisa ditularkan kepada generasi berikutnya.
Model seperti itu akan membuat prestasi tidak bersifat sporadis. Setiap generasi dapat menyiapkan generasi berikutnya.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Kisah Zuan Ratriningtiyas pada akhirnya bukan hanya tentang seorang Kowad yang berdiri di Istana Merdeka. Cerita itu berbicara tentang keberanian seorang anak daerah untuk mempercayai kemampuannya sendiri.
Pesan “anak Pacitan juga bisa” kini menemukan bentuk nyata. Kalimat yang dulu menjadi pegangan pribadi berubah menjadi pengalaman yang dapat menginspirasi banyak anak muda.
Ke depan, tantangan Pacitan bukan hanya melahirkan satu Zuan. Tantangannya adalah menciptakan ruang agar lebih banyak anak daerah berani mencoba, berlatih, gagal, lalu kembali berdiri.
Sebab, panggung nasional tidak seharusnya menjadi tempat yang hanya bisa dicapai mereka yang lahir dekat pusat kekuasaan. Selama kesempatan terbuka dan pembinaan berjalan, anak dari pelosok pun berhak berdiri di sana. (frend)




