Headline indonesia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait hubungan negaranya dengan Iran. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan dampak ekonomi bagi warga AS, Trump menegaskan dirinya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Pernyataan itu muncul saat biaya hidup di Amerika Serikat terus mengalami kenaikan menjelang pemilu paruh waktu atau midterm elections yang akan digelar pada November mendatang. Situasi tersebut ikut memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump.
Bahkan, Trump disebut mencatatkan approval rating terendah dalam periode kurang dari enam bulan menjelang pemungutan suara penting yang akan menentukan apakah Partai Republik masih mampu mempertahankan dominasi di Kongres AS.
Trump Sindir Strategi Iran Menunggu Pemilu
Dalam keterangannya, Trump menilai Iran sengaja mencoba menunggu hingga masa pemerintahannya melemah akibat tekanan politik domestik.
“Mereka berpikir bisa menunggu sampai masa jabatan saya habis. Mereka menganggap saya akan sibuk dengan pemilihan paruh waktu,” ujar Trump.
Namun, Trump menegaskan dirinya tidak khawatir terhadap dampak politik dari kebijakan kerasnya kepada Iran.
“Saya tidak peduli dengan pemilihan paruh waktu,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Trump tetap memilih fokus pada strategi luar negeri, meskipun tekanan ekonomi dalam negeri terus meningkat dan menjadi sorotan publik Amerika.
AS Klaim Ada Kemajuan Pembicaraan dengan Iran
Di kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut komunikasi dengan Iran menunjukkan perkembangan positif.
Menurut Rubio, beberapa pembahasan mulai mengarah pada kemungkinan tercapainya kemajuan dalam waktu dekat.
“Kita akan melihat dalam beberapa jam dan hari ke depan apakah kemajuan dapat dicapai,” kata Rubio.
Meski demikian, belum ada kepastian apakah kedua negara akan mencapai kesepakatan permanen terkait isu nuklir dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Trump Soroti Selat Hormuz dan Ancaman Energi Dunia
Trump juga menyinggung pentingnya Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi akses utama perdagangan minyak dunia.
Ia menolak kemungkinan Iran atau negara Teluk lain mengendalikan sistem tarif maupun lalu lintas di kawasan tersebut.
Menurut Trump, Amerika Serikat tidak akan membiarkan jalur vital energi global itu berada di bawah pengaruh pihak yang dianggap mengancam kepentingan Washington.
Pernyataan tersebut kembali memicu perhatian dunia internasional karena Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik Timur Tengah.
Kesepakatan Iran Dikaitkan dengan Abraham Accords
Trump turut mengaitkan peluang kesepakatan dengan Iran dengan upayanya memperluas Abraham Accords, yaitu perjanjian normalisasi hubungan antara Israel dan sejumlah negara mayoritas Muslim.
Ia memberi sinyal bahwa dukungan Iran terhadap proses normalisasi tersebut bisa menjadi bagian penting dalam negosiasi.
“Saya tidak yakin kami harus membuat kesepakatan jika mereka tidak menandatanganinya,” kata Trump.
Selain itu, Trump kembali menegaskan tujuan utama kebijakan AS terhadap Iran adalah mencegah Teheran memiliki senjata nuklir.
Meski begitu, ia membuka peluang adanya kesepakatan sementara yang memungkinkan pembahasan stok uranium Iran ditunda demi mempercepat proses diplomasi.
Trump juga menegaskan dirinya tidak nyaman jika pengelolaan uranium Iran nantinya berada di bawah pengaruh Rusia atau China. (frend/masson)




