Headlineid.com – Founder & Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, menegaskan bahwa kesuksesan terbuka bagi siapa saja. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan membutuhkan perjuangan, disiplin, keberanian mengambil peluang, dan nilai hidup yang kuat.
Pesan tersebut disampaikan Chairul Tanjung dalam Lampung Financial Festival 2026, Sabtu, 5 September 2026. Di hadapan generasi muda, ia membagikan 10 prinsip yang disebutnya sebagai CT Way.
Menurut Chairul, latar belakang keluarga tidak menentukan seseorang pasti sukses. Anak pejabat, anak pengusaha, maupun mereka yang tumbuh tanpa privilese memiliki peluang yang sama untuk berjuang.
Namun, peluang saja tidak cukup. Seseorang harus mengubah peluang menjadi tindakan melalui kerja keras, ketekunan, serta keputusan yang terukur.
Chairul Tanjung menempatkan perjuangan sebagai harga kesuksesan
Chairul Tanjung melihat kesuksesan sebagai hak semua orang. Akan tetapi, hak tersebut tidak otomatis berubah menjadi kenyataan tanpa perjuangan.
Ia menilai keberhasilan tidak bisa diperoleh secara instan. Karena itu, generasi muda perlu memahami proses sebelum mengejar hasil.
Pandangan tersebut menjadi penting ketika banyak anak muda mengukur keberhasilan melalui hasil akhir. Padahal, perjalanan membangun usaha sering berisi kegagalan, ketidakpastian, dan keputusan sulit.
Chairul kemudian menawarkan CT Way sebagai rangkuman pengalaman panjangnya. Ia menyebut konsep itu sebagai jalan menuju kesuksesan tanpa harus mengalami seluruh proses berat yang pernah dilaluinya.
Prinsip pertama adalah memulai usaha dengan niat baik. Bagi Chairul, niat menjadi fondasi karena aktivitas ekonomi tetap membutuhkan integritas.
Ia mengingatkan agar seseorang tidak membangun usaha dengan niat menipu atau merugikan orang lain. Sebab, keuntungan tanpa etika dapat merusak kepercayaan yang menjadi modal bisnis jangka panjang.
Prinsip kedua adalah melihat sekaligus menangkap peluang. Seorang entrepreneur, menurut Chairul, tidak berhenti pada kemampuan menemukan peluang.
Lebih jauh, pengusaha harus berani mengambil tindakan. Jika peluang belum tersedia, seseorang juga perlu memiliki keberanian untuk menciptakannya.
Uang bukan satu-satunya modal untuk memulai usaha
Pernyataan Chairul tentang modal menjadi salah satu pesan yang paling relevan bagi calon pengusaha muda. Ia menolak anggapan bahwa uang selalu menjadi syarat pertama untuk memulai.
Menurutnya, modal memang diperlukan. Namun, modal tidak selalu berbentuk uang.
Pengetahuan, kemampuan, jaringan, reputasi, keberanian, dan kerja keras juga memiliki nilai ekonomi. Karena itu, keterbatasan finansial seharusnya tidak langsung mematikan keberanian untuk memulai.
Cara pandang tersebut menggeser pertanyaan dari “berapa uang yang saya punya?” menjadi “apa yang bisa saya lakukan dengan sumber daya yang tersedia?”
Meski demikian, prinsip itu bukan berarti modal finansial tidak penting. Sebuah bisnis tetap membutuhkan perencanaan keuangan, pengelolaan risiko, dan kemampuan menjaga arus kas.
Dengan kata lain, pesan Chairul lebih tepat dibaca sebagai dorongan agar calon pengusaha tidak menjadikan keterbatasan uang sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
Prinsip keempat CT Way berbicara tentang kemampuan membaca masa depan. Chairul menyebutnya “buy the future with the present value.”
Gagasannya sederhana, tetapi membutuhkan kemampuan analisis. Seseorang perlu mengenali aset atau peluang yang berpotensi memiliki nilai lebih tinggi pada masa mendatang.
Dalam praktik bisnis, kemampuan tersebut menuntut riset dan pengetahuan. Keputusan masa kini harus berdasarkan perhitungan, bukan sekadar spekulasi.
Kegagalan harus menjadi bagian dari perjalanan
Prinsip kelima CT Way adalah menjadikan kegagalan sebagai sahabat baik. Pesan ini menunjukkan bahwa Chairul tidak melihat kegagalan sebagai lawan dalam perjalanan bisnis.
Sebaliknya, kegagalan dapat menjadi sumber informasi. Dari kegagalan, seseorang dapat menemukan kesalahan strategi, kelemahan operasional, atau keputusan yang perlu diperbaiki.
Namun, menerima kegagalan bukan berarti membiarkan kesalahan berulang. Pelajaran hanya bernilai jika seseorang menggunakannya untuk memperbaiki langkah berikutnya.
Setelah itu, Chairul menekankan kerja keras, pantang menyerah, perhatian terhadap detail, disiplin, serta standar tinggi terhadap hasil.
Rangkaian nilai tersebut menunjukkan bahwa kesuksesan membutuhkan konsistensi. Ide bagus sekalipun dapat kehilangan nilai jika pelaksanaannya tidak disiplin.
Bagi dunia usaha, detail juga menentukan kualitas. Kesalahan kecil dalam pelayanan, keuangan, produksi, atau komunikasi dapat berkembang menjadi persoalan besar.
Karena itu, standar tinggi harus berjalan bersama kemampuan mengevaluasi diri. Perfeksionisme tanpa kemampuan beradaptasi justru dapat memperlambat keputusan.
Intuisi bukan sekadar perasaan tanpa dasar
Prinsip ketujuh CT Way adalah percaya pada intuisi. Namun, Chairul memberikan penjelasan penting mengenai sumber intuisi tersebut.
Menurutnya, intuisi lahir dari pengetahuan dan pengalaman. Artinya, intuisi bukan sekadar perasaan yang muncul tanpa proses berpikir.
Seorang pengusaha yang telah bertahun-tahun menghadapi situasi berbeda akan memiliki kemampuan membaca pola. Pengalaman tersebut kemudian membantu mempercepat pengambilan keputusan.
Selanjutnya, prinsip kedelapan meminta seseorang mengambil keputusan dan mencari solusi. Chairul mendorong generasi muda agar tidak terlalu lama berkutat pada masalah.
Sikap tersebut relevan dalam lingkungan bisnis yang bergerak cepat. Masalah pasti muncul, tetapi kemampuan menyelesaikannya menentukan daya tahan sebuah organisasi.
Berdasarkan analisis editorial Headline Indonesia, dua prinsip tersebut memiliki hubungan erat. Intuisi membantu membaca situasi, sedangkan keputusan mengubah pembacaan itu menjadi tindakan.
Idealisme dan pragmatisme perlu berjalan beriringan
Prinsip kesembilan berbicara tentang pragmatisme dan idealisme. Chairul menilai keduanya tidak harus dipertentangkan seperti minyak dan air.
Pragmatisme mendorong seseorang memperhatikan hasil dan keberlanjutan usaha. Sementara itu, idealisme menjaga kepentingan masyarakat dan tujuan jangka panjang.
Jika hanya mengejar keuntungan, bisnis berisiko kehilangan kepercayaan publik. Sebaliknya, idealisme tanpa perhitungan dapat membuat organisasi kesulitan bertahan.
Karena itu, keseimbangan menjadi kunci. Keuntungan tetap diperlukan agar usaha hidup, tetapi tujuan sosial juga harus mendapat tempat.
Prinsip kesepuluh kemudian mengarah pada mencari keberkahan Tuhan. Bagi Chairul, seluruh kerja keras pada akhirnya harus kembali kepada niat baik.
Nilai tersebut memberikan dimensi berbeda terhadap konsep kesuksesan. Keberhasilan tidak hanya dinilai dari jumlah kekayaan atau ukuran perusahaan.
Ada pula pertanyaan mengenai cara seseorang memperoleh kekayaan tersebut. Ada pertanyaan tentang manfaat usaha bagi orang lain dan masyarakat.
Dampak bagi generasi muda tidak berhenti pada dunia bisnis
Sepuluh prinsip CT Way sebenarnya memiliki cakupan lebih luas daripada kewirausahaan. Nilai tersebut dapat diterapkan dalam pendidikan, karier, organisasi, hingga kehidupan sosial.
Kemampuan melihat peluang, misalnya, dapat membantu seseorang menemukan pekerjaan atau bidang keahlian baru. Sementara itu, disiplin membantu seseorang mempertahankan konsistensi ketika hasil belum terlihat.
Pada saat yang sama, prinsip kegagalan mengajarkan ketahanan mental. Seseorang tidak harus menganggap kegagalan sebagai akhir perjalanan.
Namun, generasi muda juga perlu membaca pesan tersebut secara kritis. Kerja keras memang penting, tetapi keberhasilan tidak sepenuhnya ditentukan usaha individu.
Akses pendidikan, kondisi ekonomi, jaringan sosial, kesehatan, kebijakan pemerintah, dan kesempatan juga memengaruhi perjalanan seseorang. Karena itu, narasi kesuksesan perlu mengakui adanya perbedaan titik awal.
Di sinilah pesan Chairul tentang kesuksesan sebagai hak semua orang menjadi relevan. Kesempatan harus diperluas agar semakin banyak orang memiliki ruang untuk berjuang.
Catatan Editorial Headline Indonesia
CT Way menawarkan satu pesan utama: kesuksesan membutuhkan proses yang panjang dan keputusan yang bertanggung jawab.
Bagi generasi muda, tantangannya bukan sekadar bekerja lebih keras. Mereka juga perlu bekerja lebih cerdas, menjaga integritas, membaca perubahan, dan berani memperbaiki kesalahan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada apa yang berhasil dikumpulkan. Ukuran itu juga terlihat dari nilai yang dijaga dan manfaat yang ditinggalkan.
Karena itu, perjuangan menjadi lebih bermakna ketika keberhasilan pribadi berjalan bersama kebermanfaatan sosial. Di titik tersebut, kesuksesan tidak hanya menjadi pencapaian individu.
Ia berubah menjadi tanggung jawab untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi orang lain.
Editor : Frend




