Headlineid.com – Universitas Airlangga (Unair) mencatat skor jaringan riset internasional tertinggi di Indonesia dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027. Unair meraih skor 65,8 dan menempati posisi ke-659 dunia pada indikator International Research Network (IRN).
Capaian tersebut menempatkan Unair di atas Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). UI meraih skor 63,4, sedangkan UGM memperoleh 59,3 pada indikator yang sama.
Namun, angka tersebut tidak sekadar menunjukkan banyaknya kerja sama luar negeri. QS menilai keberagaman dan kesinambungan hubungan riset berdasarkan publikasi bersama antaruniversitas.
Karena itu, capaian Unair memberi gambaran berbeda tentang kekuatan sebuah perguruan tinggi. Kampus dengan peringkat keseluruhan lebih rendah dapat memiliki keunggulan tertentu dibanding kampus dengan posisi global lebih tinggi.
Unair Memimpin, tetapi Selisih dengan UI Tidak Terlalu Jauh
Persaingan jaringan riset internasional antara Unair dan UI berlangsung cukup ketat. Selisih skor kedua kampus hanya mencapai 2,4 poin.
Sementara itu, UGM berada 4,1 poin di bawah UI. Ketiga kampus tersebut menjadi satu-satunya perguruan tinggi Indonesia dengan skor IRN di atas 50.
Jarak kemudian terlihat lebih lebar setelah tiga besar. Universitas Padjadjaran (Unpad) menempati posisi keempat dengan skor 38,5.
Perbedaannya mencapai 20,8 poin dari UGM. Kondisi itu menunjukkan adanya konsentrasi kuat jaringan kolaborasi riset internasional pada tiga universitas teratas.
Meski demikian, posisi IRN tidak dapat dibaca sebagai peringkat kualitas kampus secara keseluruhan. QS menggunakan sembilan indikator dalam menentukan peringkat universitas dunia.
Posisi keseluruhan justru menempatkan UI sebagai kampus Indonesia tertinggi. UI berada di peringkat ke-191 dunia, disusul UGM di posisi ke-206.
Unair menempati posisi ke-276 dunia. Dengan demikian, keunggulan Unair pada IRN tidak otomatis membuatnya menjadi pemimpin klasemen keseluruhan.
Jaringan Riset Internasional Mengukur Hubungan yang Benar-Benar Berjalan
Di sinilah makna indikator IRN menjadi lebih penting. QS tidak sekadar menghitung jumlah kerja sama yang tercantum dalam dokumen perguruan tinggi.
Sebuah nota kesepahaman atau MoU tidak otomatis menghasilkan nilai tinggi. QS melihat hubungan yang menghasilkan publikasi bersama dengan institusi dari negara atau wilayah lain.
Kemitraan tersebut harus menghasilkan sedikitnya tiga publikasi bersama dalam periode lima tahun. Artinya, indikator ini berusaha menangkap hubungan riset yang berjalan secara nyata.
Pendekatan tersebut memiliki konsekuensi penting bagi perguruan tinggi. Kampus tidak cukup mengumpulkan daftar mitra asing tanpa aktivitas akademik yang berkelanjutan.
Kolaborasi harus menghasilkan pengetahuan yang dapat dilacak melalui publikasi ilmiah. Karena itu, kualitas hubungan menjadi lebih penting daripada sekadar jumlah perjanjian.
Data untuk indikator tersebut berasal dari basis data Scopus milik Elsevier. QS kemudian mengolah data tersebut untuk melihat keragaman negara serta jumlah mitra internasional.
Skor akhirnya melalui proses normalisasi. Oleh sebab itu, angka 65,8 milik Unair bukan berarti kampus tersebut memiliki 65,8 negara mitra.
Angka tersebut juga bukan jumlah publikasi internasional. Skor itu merupakan hasil penghitungan metodologis QS terhadap pola kolaborasi riset.
Kampus dengan Peringkat Global Lebih Rendah Bisa Memiliki Keunggulan Khusus
Daftar IRN juga memperlihatkan fakta lain yang layak diperhatikan. Universitas Sumatera Utara (USU) berada di posisi kelima nasional dengan skor 37,6.
Padahal, USU berada dalam kelompok peringkat 1.001–1.200 dunia pada klasemen keseluruhan QS WUR 2027. Dalam indikator IRN, USU bahkan berada di atas beberapa kampus besar lainnya.
Posisi tersebut mengungguli Institut Teknologi Bandung (ITB), IPB University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Brawijaya. Fenomena serupa muncul pada Universitas Negeri Padang (UNP).
UNP berada dalam kelompok 1.401+ dunia secara keseluruhan. Namun, kampus tersebut mampu menempati posisi ketujuh nasional untuk indikator jaringan riset internasional.
UNP meraih skor 29,9. Fakta ini menunjukkan bahwa reputasi keseluruhan tidak selalu menggambarkan kekuatan setiap aspek akademik.
Berdasarkan analisis data yang menjadi sorotan Headline Indonesia, pola tersebut menunjukkan adanya spesialisasi kekuatan antarperguruan tinggi. Setiap kampus dapat membangun keunggulan melalui bidang yang berbeda.
Karena itu, publik sebaiknya tidak membaca satu indikator sebagai ukuran tunggal kualitas universitas. Angka IRN memiliki fungsi lebih spesifik.
ITB, IPB, ITS, dan UB Masih Menghadapi Jarak Kolaborasi
ITB menempati posisi keenam nasional dengan skor 32,7. Posisi tersebut berada di bawah USU meskipun ITB memiliki posisi kuat dalam berbagai bidang akademik.
IPB University kemudian masuk dalam jajaran sepuluh besar. ITS dan Universitas Brawijaya melengkapi daftar tersebut.
Perbedaan ini memperlihatkan tantangan yang berbeda bagi setiap perguruan tinggi. Kampus dengan tradisi penelitian kuat belum tentu memiliki jaringan internasional yang paling beragam.
Sebab, penelitian membutuhkan mitra yang konsisten. Hubungan tersebut juga perlu menghasilkan publikasi bersama secara berulang.
Kondisi itu membuat internasionalisasi riset menjadi pekerjaan jangka panjang. Kampus harus membangun hubungan akademik yang bertahan melewati satu proyek atau satu periode kepemimpinan.
Pada titik tersebut, indikator IRN dapat menjadi cermin tata kelola kolaborasi. Kampus bukan hanya dituntut mencari mitra baru.
Mereka juga harus mempertahankan hubungan yang sudah terbentuk. Selain itu, kerja sama harus menghasilkan keluaran akademik yang dapat diverifikasi.
Bobot IRN Hanya 5 Persen, tetapi Dampaknya Tetap Penting
International Research Network memiliki bobot 5 persen dalam QS WUR 2027. Indikator ini masuk dalam kelompok Global Engagement.
Kelompok tersebut juga mencakup rasio dosen internasional dan mahasiswa internasional. Masing-masing indikator memiliki bobot 5 persen.
Sementara itu, reputasi akademik memiliki bobot terbesar. Indikator tersebut menyumbang 30 persen dalam pemeringkatan keseluruhan.
Karena itu, kampus tidak bisa mengejar IRN sambil mengabaikan indikator lainnya. Reputasi akademik, sitasi, reputasi pemberi kerja, serta rasio dosen dan mahasiswa tetap berpengaruh.
Namun, bobot lima persen bukan alasan untuk menganggap IRN tidak penting. Jaringan penelitian menentukan kemampuan kampus memasuki ekosistem pengetahuan global.
Kolaborasi internasional juga membuka peluang pertukaran peneliti. Selain itu, hubungan tersebut dapat memperluas akses terhadap fasilitas penelitian dan proyek lintas negara.
Dalam jangka panjang, jejaring semacam itu dapat memperkuat posisi peneliti Indonesia. Kampus tidak lagi hanya menjadi pengguna pengetahuan yang diproduksi negara lain.
Dampaknya Bukan Sekadar bagi Peringkat Universitas
Prestasi jaringan riset internasional memiliki dampak yang lebih luas daripada urusan pemeringkatan. Mahasiswa dapat memperoleh lingkungan akademik yang semakin terbuka terhadap penelitian global.
Dosen juga memiliki peluang memperluas kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara. Pertukaran gagasan dapat menghasilkan pendekatan baru terhadap persoalan yang sebelumnya diteliti secara terbatas.
Lebih jauh, hubungan riset dapat membawa isu lokal Indonesia ke forum ilmiah internasional. Persoalan kesehatan, lingkungan, pangan, teknologi, hingga perubahan sosial dapat memperoleh perhatian lebih luas.
Namun, manfaat tersebut tidak muncul otomatis dari sebuah skor. Kampus perlu memastikan kerja sama internasional menghasilkan dampak akademik yang nyata.
Kebijakan penelitian juga perlu mendorong kolaborasi yang berkelanjutan. Perguruan tinggi dapat memberikan insentif untuk publikasi bersama berkualitas.
Selain itu, kampus perlu memperkuat dukungan administratif bagi peneliti. Hambatan pengelolaan dana, mobilitas akademik, data penelitian, dan publikasi sering memengaruhi kesinambungan kolaborasi.
Arah Kebijakan ke Depan
Capaian Unair dalam jaringan riset internasional menunjukkan bahwa strategi kolaborasi dapat menghasilkan keunggulan tersendiri. Namun, capaian tersebut seharusnya menjadi titik evaluasi, bukan tujuan akhir.
Perguruan tinggi lain dapat mempelajari pola hubungan yang menghasilkan publikasi berkelanjutan. Strateginya bukan sekadar menambah jumlah mitra asing.
Kampus perlu memilih mitra berdasarkan kesesuaian keahlian dan agenda penelitian. Dengan begitu, kerja sama dapat berkembang menjadi hubungan akademik yang produktif.
Pemerintah juga memiliki ruang untuk memperkuat ekosistem tersebut. Pendanaan riset lintas negara perlu memiliki skema yang lebih mudah diakses peneliti.
Pada saat yang sama, perguruan tinggi harus memperkuat kapasitas peneliti muda. Regenerasi peneliti akan menentukan apakah jaringan internasional mampu bertahan dalam jangka panjang.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Peringkat IRN QS WUR 2027 memperlihatkan bahwa kekuatan universitas tidak pernah berdiri pada satu angka. Unair unggul dalam jaringan riset internasional, sementara UI memimpin klasemen keseluruhan.
Perbedaan itu memberi pelajaran penting bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia. Kampus membutuhkan reputasi, publikasi, jejaring, serta tata kelola yang tumbuh secara bersamaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya seberapa tinggi sebuah universitas berada dalam tabel. Ukuran yang lebih bernilai adalah seberapa jauh risetnya mampu menjawab persoalan masyarakat.
Jika jaringan internasional mampu menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi publik, maka peringkat hanya menjadi salah satu catatan. Nilai terbesar tetap berada pada dampak ilmu pengetahuan yang lahir dari kolaborasi tersebut.
Editor : Frend




