Boyolali, Headlineid.com – Serangan hama tikus kembali menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali mencatat sedikitnya 61 hektare lahan persawahan terserang hama tikus hingga awal Juli 2026. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam hasil panen petani, tetapi juga berpotensi memengaruhi produktivitas pangan daerah.
Dari total lahan yang terdampak, Kecamatan Mojosongo menjadi wilayah dengan tingkat serangan paling tinggi. Bahkan sebagian lahan sudah mengalami puso atau gagal panen total akibat serangan hama yang terus meningkat.
Fakta Utama
- Serangan hama tikus di Boyolali mencapai 61 hektare sawah.
- Kecamatan Mojosongo menjadi wilayah terdampak terparah dengan luas serangan 30 hektare.
- Sebanyak enam hektare sawah mengalami puso atau gagal panen total.
- Dispertan Boyolali menyiapkan penanaman serai, pemanfaatan burung hantu, dan gerakan gropyokan tikus.
- Petani mengaku mengalami gagal panen hingga dua musim tanam berturut-turut.
Mojosongo Jadi Episentrum Serangan Hama Tikus
Data Dispertan Boyolali menunjukkan persebaran serangan hama tikus terjadi di sejumlah kecamatan. Mojosongo menjadi wilayah paling terdampak dengan luas serangan mencapai 30 hektare.
Sementara itu, Kecamatan Banyudono mencatat serangan seluas 14 hektare. Disusul Kecamatan Teras enam hektare, Kemusu lima hektare, Sawit empat hektare, dan Kecamatan Boyolali dua hektare.
Kepala Dispertan Boyolali, Suyanta, mengungkapkan dari total lahan terdampak, enam hektare di antaranya telah mengalami puso. Rinciannya empat hektare berada di Mojosongo dan dua hektare di Banyudono.
Selain lahan yang telah rusak, pemerintah daerah juga mencatat terdapat sekitar 315 hektare sawah yang masuk kategori waspada. Artinya, area tersebut memiliki risiko tinggi mengalami serangan serupa apabila langkah pengendalian tidak segera dilakukan.
Situasi ini menjadi perhatian karena Boyolali merupakan salah satu daerah penyangga produksi pangan di Jawa Tengah. Jika serangan terus meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas pasokan pangan daerah.
Mengapa Serangan Tikus di Boyolali Meningkat?
Tingginya populasi tikus di sejumlah wilayah Boyolali tidak terjadi tanpa sebab. Menurut Dispertan, terdapat beberapa faktor yang memicu berkembangnya hama tersebut.
Salah satu faktor yang menarik perhatian adalah masih adanya sebagian masyarakat yang mempercayai mitos bahwa tikus tidak boleh dibunuh. Kepercayaan tersebut dinilai ikut memengaruhi efektivitas pengendalian hama di tingkat lapangan.
Selain faktor sosial, kondisi lingkungan juga berkontribusi besar terhadap perkembangan populasi tikus. Wilayah Mojosongo, Banyudono, dan Sawit berada di sekitar area jalan tol yang memiliki banyak semak dan rumput liar.
Vegetasi liar tersebut menjadi tempat berlindung yang ideal bagi tikus untuk berkembang biak. Saat musim tanam berlangsung, hama kemudian berpindah ke area persawahan untuk mencari sumber makanan.
Pengamat pertanian menilai fenomena ini menunjukkan pentingnya pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan pertanian. Pengendalian tikus tidak cukup dilakukan di sawah saja, tetapi juga harus menyasar habitat tempat mereka berkembang.
Dampak Ekonomi yang Menghantam Petani
Bagi petani, serangan tikus bukan sekadar gangguan biasa. Hama ini dapat menggerogoti tanaman sejak fase awal pertumbuhan hingga menjelang panen. Ketua Kelompok Tani Marsudi Tani III, Suwarno, mengungkapkan kondisi yang dialami petani di wilayah Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono, sudah sangat memprihatinkan.
Menurutnya, petani yang menanam padi, jagung, hingga kedelai mengalami gagal panen akibat serangan tikus. Bahkan kerusakan tersebut terjadi selama dua musim tanam berturut-turut.
Kerugian yang ditanggung petani tidak sedikit. Untuk satu hektare lahan padi, biaya produksi dapat mencapai sekitar Rp12 juta. Biaya tersebut mencakup benih, pupuk, pestisida, pengolahan lahan, hingga tenaga kerja.
Dalam kondisi normal, hasil panen bisa menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp34 juta per hektare. Namun ketika tanaman rusak akibat tikus, pendapatan tersebut hilang dan petani tetap harus menanggung seluruh biaya produksi.
Jika dihitung secara sederhana, potensi kehilangan pendapatan dapat mencapai lebih dari Rp20 juta per hektare. Angka tersebut menjadi beban berat bagi petani yang sebagian besar mengandalkan hasil panen sebagai sumber penghasilan utama keluarga.
Upaya Pengendalian Hama Tikus Terus Digencarkan
Menghadapi situasi tersebut, Dispertan Boyolali bersama petani dan berbagai pihak terkait mulai mengintensifkan gerakan pengendalian hama. Pada akhir Juni hingga awal Juli 2026, pemerintah menggelar gerakan pengendalian tikus di Kecamatan Banyudono. Kegiatan tersebut melibatkan petani, aparat TNI, Polri, pemerintah desa, serta petugas pertanian.
Metode yang digunakan tidak hanya mengandalkan gropyokan atau perburuan tikus secara massal. Pemerintah juga berupaya memanfaatkan musuh alami seperti burung hantu yang dikenal efektif memangsa tikus sawah.
Burung hantu selama ini menjadi salah satu solusi ramah lingkungan yang telah diterapkan di berbagai sentra pertanian Indonesia. Kehadiran predator alami mampu membantu menjaga keseimbangan ekosistem tanpa meningkatkan penggunaan bahan kimia.
Selain itu, pembersihan saluran irigasi dan area semak juga menjadi bagian dari strategi pengendalian. Langkah tersebut bertujuan mengurangi tempat persembunyian dan sarang tikus di sekitar area pertanian.
Dispertan Siapkan Uji Coba Penanaman Serai
Salah satu inovasi yang tengah disiapkan Dispertan Boyolali adalah penanaman serai dapur di sepanjang pematang sawah. Program ini direncanakan dilakukan secara serentak pada area seluas 20 hektare. Tanaman serai akan ditanam dengan jarak sekitar satu meter di sepanjang galengan atau pematang sawah.
Menurut Suyanta, aroma khas serai diyakini tidak disukai oleh tikus sehingga berpotensi menjadi penghalang alami yang dapat mengurangi aktivitas hama di lahan pertanian.
Uji coba perdana akan dilakukan di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono. Program tersebut dijadwalkan berjalan setelah anggaran perubahan tahun 2026 mendapatkan persetujuan.
Meski masih dalam tahap percobaan, pendekatan ini menarik karena menggabungkan konsep pertanian ramah lingkungan dengan pengendalian hama berbasis tanaman pengusir alami.
Beberapa penelitian pertanian sebelumnya juga menunjukkan bahwa tanaman beraroma kuat seperti serai, mint, dan beberapa jenis rempah dapat membantu mengurangi aktivitas tikus pada area tertentu. Namun efektivitasnya tetap perlu diuji sesuai kondisi lingkungan setempat.
Pentingnya Pola Tanam Serentak
Selain pengendalian langsung terhadap tikus, Dispertan juga mengingatkan pentingnya penerapan pola tanam serentak oleh petani.
Menurut pemerintah, salah satu penyebab tikus mudah berkembang adalah karena ketersediaan pakan yang terus ada sepanjang tahun. Kondisi tersebut terjadi ketika jadwal tanam antarwilayah tidak seragam.
Saat sebagian petani memasuki masa panen dan sebagian lainnya baru memulai tanam, tikus tetap dapat menemukan sumber makanan di lahan yang berbeda.
Sebaliknya, jika pola tanam dilakukan secara serentak, akan tercipta periode kosong tanpa tanaman yang dapat memutus siklus makanan tikus. Strategi ini telah lama direkomendasikan dalam pengendalian hama terpadu.
Pendekatan tersebut tidak hanya efektif menekan populasi tikus, tetapi juga membantu meningkatkan efisiensi pengelolaan pertanian secara keseluruhan.
Ancaman Nyata bagi Ketahanan Pangan Daerah
Kasus serangan hama tikus di Boyolali menunjukkan bahwa ancaman terhadap sektor pertanian tidak selalu datang dari cuaca ekstrem atau bencana alam. Hama yang tampak sederhana pun dapat menimbulkan kerugian besar apabila tidak ditangani secara terintegrasi.
Bagi petani, persoalan ini berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi keluarga. Bagi pemerintah daerah, serangan hama yang meluas dapat memengaruhi target produksi pangan dan stabilitas pasokan hasil pertanian.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, akademisi, hingga masyarakat sekitar menjadi faktor penting dalam menekan populasi tikus secara berkelanjutan. Langkah pengendalian yang konsisten, pengelolaan habitat, pemanfaatan musuh alami, serta penerapan pola tanam serentak menjadi kombinasi strategi yang kini diharapkan mampu menyelamatkan ratusan hektare sawah Boyolali dari ancaman gagal panen yang lebih luas.
Headline Indonesia | Menghadirkan informasi mendalam, akurat, dan bernilai bagi masyarakat Indonesia melalui jurnalisme yang berpihak pada data, solusi, dan kepentingan publik. (frend/masson)




