Headlineid.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendorong penerapan kurikulum berbasis industri sebagai langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan kompetensi antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Upaya ini dinilai semakin mendesak di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, terutama pada sektor teknologi informasi, manufaktur, dan ekonomi digital.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menilai dunia pendidikan dan industri harus bergerak dalam satu arah. Menurutnya, banyak perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi spesifik, sementara kurikulum pendidikan sering kali membutuhkan waktu panjang untuk beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pasar.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di era transformasi digital.
Fakta Utama
- Kadin Jatim mendukung harmonisasi kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.
- Program dijalankan melalui Kadin Institute bersama Swisscontact.
- Pelatihan Industry-based Curriculum (IBC) dan Job and Occupational Analysis (JOA) menjadi fondasi utama.
- Setiap fasilitator ditargetkan mendampingi sedikitnya 10 perusahaan.
- Tahap awal program diproyeksikan menjangkau sekitar 100 industri di Jawa Timur.
Mengapa Skill Mismatch Masih Menjadi Masalah Besar?
Fenomena skill mismatch atau ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri bukan persoalan baru di Indonesia. Namun, masalah ini semakin terlihat ketika banyak perusahaan mengaku kesulitan mencari tenaga kerja siap pakai meski jumlah lulusan sekolah dan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya pada jumlah tenaga kerja, melainkan pada kualitas dan relevansi kompetensi yang dimiliki.
Adik Dwi Putranto menjelaskan kebutuhan industri saat ini berkembang sangat cepat. Terutama pada sektor teknologi informasi yang mengalami perubahan hampir setiap tahun.
Sementara itu, proses perubahan kurikulum di lembaga pendidikan sering membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui berbagai tahapan administrasi dan regulasi.
Akibatnya, lulusan yang memasuki pasar kerja terkadang masih menguasai materi yang sudah tidak sepenuhnya relevan dengan kebutuhan perusahaan.
Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini dapat menimbulkan biaya tambahan bagi industri. Perusahaan harus mengalokasikan waktu dan anggaran lebih besar untuk pelatihan dasar sebelum tenaga kerja dapat berkontribusi secara optimal.
Di sisi lain, lulusan juga menghadapi tantangan karena harus bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.
Kurikulum Berbasis Industri Dinilai Lebih Adaptif
Kadin Jatim menilai harmonisasi kurikulum dapat menjadi solusi nyata untuk menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan.
Melalui pendekatan ini, perusahaan tidak hanya menjadi pengguna lulusan, tetapi juga berperan aktif dalam penyusunan materi pembelajaran.
Manfaatnya cukup besar. Lulusan memiliki kompetensi yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, program magang dapat berjalan lebih efektif karena materi yang dipelajari di sekolah maupun kampus selaras dengan praktik kerja di lapangan.
Pendekatan tersebut juga memungkinkan sekolah dan perguruan tinggi mengetahui lebih awal keterampilan apa saja yang akan dibutuhkan dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan demikian, institusi pendidikan dapat menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja saat ini, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan masa depan.
Dalam konteks global, model serupa telah diterapkan di sejumlah negara dengan sistem pendidikan vokasi yang kuat seperti Swiss, Jerman, dan Austria. Negara-negara tersebut dikenal berhasil menciptakan hubungan erat antara pendidikan dan kebutuhan industri sehingga tingkat pengangguran lulusan relatif rendah.
Peran Job and Occupational Analysis dalam Menyusun Kurikulum
Untuk mewujudkan harmonisasi tersebut, Kadin Jatim bersama Swiss Foundation for Technical Cooperation atau Swisscontact menggelar pelatihan Industry-based Curriculum (IBC) yang berfokus pada pembentukan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA).
JOA merupakan metode analisis yang memetakan kebutuhan kompetensi berdasarkan pekerjaan nyata di industri.
Analisis tersebut mencakup berbagai aspek penting, mulai dari tugas dan tanggung jawab jabatan, keterampilan yang diperlukan, persyaratan dasar, hingga tren pekerjaan masa depan.
Pendekatan ini dianggap lebih akurat karena penyusunan kompetensi dimulai langsung dari kebutuhan industri.
Ketika analisis pekerjaan telah selesai dilakukan, hasilnya diterjemahkan menjadi struktur pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah, perguruan tinggi, maupun lembaga pelatihan kerja.
Menurut Kadin Jatim, pelatihan fasilitator JOA menjadi tahapan awal yang sangat penting. Para fasilitator nantinya berperan sebagai penghubung antara dunia industri dan institusi pendidikan.
Mereka bertugas memastikan kebutuhan kompetensi yang berkembang di lapangan dapat diterjemahkan secara tepat menjadi kurikulum pembelajaran.
Menjangkau 100 Industri pada Tahap Awal
Program ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Kadin Jatim menargetkan setiap fasilitator mampu mendampingi sedikitnya 10 perusahaan beserta mitra pendidikan mereka.
Dengan 10 fasilitator yang mengikuti pelatihan angkatan pertama, program tersebut diperkirakan dapat menjangkau sekitar 100 industri pada tahap awal implementasi.
Target tersebut menjadi langkah awal sebelum model serupa diperluas ke berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Kadin juga berencana membekali pengurus Kadin daerah agar memiliki kemampuan yang sama dalam melakukan harmonisasi kurikulum.
Jika strategi ini berjalan sesuai rencana, lebih banyak sekolah dan perguruan tinggi akan memiliki kurikulum yang benar-benar sesuai kebutuhan dunia kerja.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri, tetapi juga oleh masyarakat karena peluang kerja bagi lulusan dapat meningkat.
Swisscontact Soroti Pentingnya Membalik Pola Penyusunan Kurikulum
Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, menjelaskan bahwa selama ini proses penyusunan kurikulum umumnya masih berangkat dari institusi pendidikan terlebih dahulu.
Setelah kurikulum selesai disusun, barulah industri diminta melakukan verifikasi.
Menurut Ilham, pola tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya skill mismatch.
Pasalnya, kebutuhan industri sering kali berubah lebih cepat dibanding proses pembaruan kurikulum.
Karena itu, Swisscontact mendorong perubahan pendekatan. Analisis pekerjaan harus dilakukan terlebih dahulu di lingkungan industri. Setelah kebutuhan kompetensi berhasil dipetakan, hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum pendidikan.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena memastikan materi pembelajaran benar-benar relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
Selain mengikuti pelatihan dasar, para peserta juga akan menjalani tahap lanjutan bersama praktisi industri. Tujuannya agar kemampuan mereka dalam melakukan analisis pekerjaan dapat teruji secara nyata.
Dampak Strategis bagi Masa Depan Pendidikan dan Ekonomi
Langkah Kadin Jatim sebenarnya mencerminkan perubahan paradigma yang lebih besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Selama bertahun-tahun, keberhasilan pendidikan sering diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan.
Namun kini, ukuran keberhasilan mulai bergeser pada seberapa besar lulusan mampu terserap dan berkembang di dunia kerja.
Kurikulum berbasis industri berpotensi memperkuat hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Ketika perusahaan memperoleh tenaga kerja yang sesuai kebutuhan, produktivitas dapat meningkat. Di sisi lain, lulusan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Bagi Jawa Timur yang menjadi salah satu pusat industri terbesar di Indonesia, keberhasilan program ini dapat menjadi model nasional.
Jika diterapkan secara konsisten, pendekatan tersebut berpotensi menciptakan ekosistem pendidikan vokasi yang lebih responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.
Penguatan kolaborasi antara industri, sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah juga menjadi faktor penting agar transformasi ini tidak berhenti sebagai program jangka pendek.
Catatan Headline Indonesia
Dorongan Kadin Jawa Timur terhadap kurikulum berbasis industri menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah jumlah lulusan. Yang dibutuhkan adalah keselarasan antara kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Melalui pendekatan Job and Occupational Analysis dan keterlibatan langsung dunia usaha, peluang untuk mengurangi skill mismatch menjadi semakin terbuka. Bagi pendidikan vokasi Indonesia, langkah ini dapat menjadi fondasi penting menuju ekosistem sumber daya manusia yang lebih kompetitif, adaptif, dan siap menghadapi perubahan ekonomi masa depan. (frend/masson)




