Headlineid.com – Ancaman wabah Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK masih menjadi momok menakutkan yang membayangi sektor peternakan nasional hingga saat ini. Kerugian ekonomi yang dialami para peternak lokal akibat penurunan produktivitas hingga kematian hewan ternak tergolong sangat masif. Oleh karena itu, dunia peternakan kita membutuhkan sebuah terobosan nyata yang bersifat praktis dan aplikatif di lapangan.
Melihat urgensi tersebut, lima mahasiswa berprestasi dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam atau FIKKIA Universitas Airlangga mengambil langkah konkret. Tim yang dipimpin oleh Christian bersama anggotanya, yaitu Kinan, Awang, Mega, dan Sabrina Najla, berhasil menciptakan sebuah formulasi pelindung luka modern. Inovasi mutakhir ini mereka beri nama Sprayable In Situ Forming Artificial Skin berbasis nanochitosan, atau yang lebih dikenal dengan Chitospray PMK.
Berkat keunikan dan potensi dampaknya yang luar biasa, riset ini berhasil lolos seleksi ketat dan meraih pendanaan bergengsi. Program Kreativitas Mahasiswa dalam skema Riset Eksakta dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjadi panggung pembuktian kapasitas intelektual mereka. Penemuan ini sekaligus membawa angin segar serta harapan baru bagi penguatan ketahanan pangan dan kesehatan hewan di Indonesia.
Fakta Utama Artikel
- Inovasi Berbasis Nanochitosan: Tim mahasiswa FIKKIA UNAIR mengembangkan Chitospray PMK sebagai artificial skin berbentuk semprot yang mampu membentuk lapisan pelindung instan pada luka ternak.
- Pendanaan Kemendiktisaintek: Riset strategis ini berhasil memenangkan pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa skema Riset Eksakta tahun 2026.
- Solusi Mengatasi Infeksi Sekunder: Produk ini dirancang khusus untuk mengatasi kelemahan obat konvensional yang mudah luntur akibat paparan air liur tinggi dan gesekan konstan pada area mulut atau kuku ternak.
Tantangan Nyata Penanganan Luka PMK di Lapangan
Penanganan medis terhadap hewan yang terinfeksi virus PMK selama ini memang kerap menemui jalan buntu pada fase pemulihan fisik. Gejala klinis berupa lepuh dan luka terbuka pada area sensitif seperti mulut serta kuku sangat sulit disembuhkan secara total. Akibatnya, kondisi tersebut sering kali memicu penurunan nafsu makan yang drastis karena rasa nyeri yang luar biasa saat mengunyah.
Menurut pengamatan mendalam dari tim Headline Indonesia, obat-obatan cair atau salep konvensional yang beredar saat ini kurang efektif. Cairan obat tersebut sangat mudah luntur atau tersapu oleh air liur ternak yang berproduksi secara berlebihan akibat infeksi. Selain itu, gesekan konstan dengan permukaan tanah atau lantai kandang membuat obat tidak sempat meresap dengan optimal ke dalam jaringan.
Kelemahan proteksi pada pengobatan konvensional inilah yang kemudian membuka celah besar bagi masuknya bakteri patogen berbahaya lain. Ketika bakteri berhasil menginfeksi luka terbuka tersebut, maka terjadilah kondisi berbahaya yang kita kenal sebagai infeksi sekunder. Kondisi komplikasi sistemik seperti inilah yang sebenarnya paling sering menjadi pemicu utama kematian massal pada hewan ternak.
Mekanisme Chitospray PMK sebagai Plester Semprot Canggih
Christian selaku ketua tim peneliti menjelaskan secara rinci bahwa ide awal pembuatan Chitospray PMK murni berasal dari kegelisahan lapangan. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa PMK merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, sehingga belum ada obat antivirus yang spesifik. Oleh karena itu, pendekatan medis yang paling rasional dan efektif adalah dengan memaksimalkan terapi suportif guna mempercepat penyembuhan luka.
Formulasi Chitospray PMK ini dirancang dengan konsep yang menyerupai plester konvensional, namun diaplikasikan dengan metode semprot yang sangat praktis. Ketika cairan formula menyentuh permukaan luka yang basah, teknologi in situ forming akan langsung bekerja membentuk lapisan film tipis. Lapisan buatan atau artificial skin ini memiliki daya rekat yang luar biasa kuat sehingga tidak mudah luntur oleh air liur.
Komponen utama berupa nanochitosan dalam produk ini tidak hanya berfungsi sebagai lapisan pelindung fisik dari kontaminasi luar semata. Senyawa aktif berukuran nano tersebut juga dikombinasikan dengan zat aktif khusus seperti nitric oxide yang berperan memicu regenerasi sel. Kombinasi tersebut secara aktif akan mempercepat penutupan jaringan kulit yang rusak sekaligus meminimalisir rasa nyeri yang dirasakan oleh ternak.
Dedikasi Lima Bulan Menuju Panggung Riset Nasional
Proses untuk melahirkan sebuah inovasi berskala nasional tentu tidak pernah terjadi secara instan atau dalam semalam saja. Perjalanan panjang dan berliku harus dilewati oleh kelima mahasiswa FIKKIA UNAIR ini demi merumuskan formula yang benar-benar solid. Mereka menghabiskan waktu setidaknya selama lima bulan penuh hanya untuk melakukan diskusi, studi literatur, serta evaluasi ide.
Selama fase krusial tersebut, tidak sedikit gagasan awal mereka yang terpaksa ditolak atau dievaluasi total karena dinilai kurang aplikatif. Namun, berkat bimbingan intensif dari dosen pendamping yang kompeten, mereka terus melakukan proses brainstorming tanpa mengenal rasa lelah. Konsistensi dan ketajaman analisis akhirnya menuntun mereka pada pemanfaatan nanochitosan sebagai jawaban atas masalah penanganan luka PMK.
Keberhasilan meraih pendanaan dari Kemendiktisaintek menjadi bukti nyata bahwa riset mahasiswa ini memiliki nilai ilmiah dan urgensi tinggi. Pengakuan dari pihak kementerian ini menjadi bahan bakar baru bagi tim untuk segera melangkah ke tahap pengujian laboratorium yang lebih kompleks. Mereka berkomitmen penuh untuk mengawal riset ini agar tidak berhenti sebagai dokumen laporan di atas meja saja.
Dampak Strategis Chitospray bagi Ketahanan Pangan Indonesia
Kehadiran produk inovatif seperti Chitospray PMK ini tentu membawa dampak yang sangat luas bagi ekosistem peternakan di tanah air. Dari sudut pandang operasional, kemasan botol spray yang ringkas membuat produk ini sangat mudah diaplikasikan secara mandiri oleh peternak. Kemudahan ini memotong jalur birokrasi medis yang rumit, terutama di wilayah pelosok yang minim akses dokter hewan.
Bagi para peternak lokal, keberhasilan terapi suportif ini secara otomatis akan menyelamatkan aset ekonomi berharga yang mereka miliki. Ketika luka pada mulut ternak dapat terlindungi dengan baik, maka proses makan dan asupan nutrisi hewan akan kembali normal. Hal ini tentu akan mencegah terjadinya penurunan bobot badan ternak secara drastis yang selama ini merugikan peternak.
Dalam skala makro nasional, keberadaan inovasi ini mendukung program pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan daging dan susu sapi. Dengan menekan angka kematian ternak akibat komplikasi PMK, ketahanan pangan asal hewan di Indonesia dapat terjaga dengan lebih kokoh. Riset ini menjadi bukti autentik bagaimana sains terapan dari kampus mampu menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat.
Langkah Strategis Hilirisasi Produk Menuju Pasar Regulasi
Guna memastikan manfaatnya dirasakan secara luas, tim peneliti FIKKIA UNAIR kini tengah mempersiapkan cetak biru untuk langkah hilirisasi. Formulasi yang telah disetujui akan melewati serangkaian uji efikasi dan uji toksisitas ketat di bawah pengawasan ahli. Langkah ini sangat krusial untuk menjamin bahwa kandungan kimia di dalam spray benar-benar aman bagi kesehatan ternak.
Pihak universitas sendiri berkomitmen memberikan dukungan penuh terkait perlindungan hak kekayaan intelektual atau paten bagi formula Chitospray PMK. Dukungan regulasi dan proteksi hukum ini penting agar hasil riset anak bangsa tidak disalahgunakan atau diklaim oleh pihak lain. Kerja sama dengan industri farmasi hewan juga mulai dirintis guna mempersiapkan skenario produksi massal di masa depan.
Melalui kehadiran Chitospray PMK, masyarakat dapat melihat bahwa sinergi antara mahasiswa, akademisi, dan pemerintah mampu melahirkan solusi mutakhir. Inovasi ini diharapkan dapat segera didistribusikan secara merata ke berbagai sentra peternakan di seluruh wilayah Indonesia. Keberhasilan riset ini sekaligus menegaskan posisi strategis akademisi dalam mengawal kesehatan hewan dan kesejahteraan peternakan nasional. (frend/masson)




