Headlineid.com – Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Soegijapranata Catholic University (SCU) mencatat prestasi di panggung internasional. Mereka berhasil menjadi satu dari enam finalis Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) Product Development Competition 2026 yang digelar Institute of Food Technologists Student Association (IFTSA) di Chicago, Amerika Serikat.
Prestasi tersebut lahir setelah tim SCU menyisihkan lebih dari 30 tim dari berbagai negara. Pada babak final yang berlangsung dalam rangkaian IFT FIRST 2026 di McCormick Place Convention Center, Chicago, Jonathan Halim Sugianto dan Michael Natanael Setiawan mewakili tim mempresentasikan hasil riset mereka di hadapan akademisi, peneliti, dan pelaku industri pangan dunia.
Lebih dari sekadar mengejar penghargaan, tim mahasiswa itu membawa gagasan yang dekat dengan persoalan Indonesia. Mereka memperkenalkan INVERCI, bihun beras bernutrisi yang dikembangkan melalui fermentasi bekatul dan ampas tahu. Produk tersebut dirancang untuk membantu menjawab persoalan gizi sekaligus mengurangi limbah industri pangan.
Tim terdiri atas Caroline Amaris, Karyn Garcia Hartono, Michael Natanael Setiawan, Jonathan Halim Sugianto, dan Karla Katina. Mereka memulai perjalanan kompetisi sejak Februari 2026. Berbulan-bulan riset akhirnya membawa mereka ke panggung bergengsi yang hanya diisi enam tim terbaik dunia.
Dekan FTP SCU, Dr. Inneke Hantoro, menjelaskan bahwa seluruh finalis memperoleh kesempatan mempresentasikan inovasi secara langsung di Chicago. Selain itu, mereka juga memperluas jejaring dengan ribuan peneliti serta perusahaan pangan global, termasuk Cargill, PepsiCo, dan berbagai perusahaan multinasional lainnya.
Ajang tersebut bukan sekadar lomba mahasiswa. Kompetisi ini menjadi tempat bertemunya inovasi akademik dengan kebutuhan industri pangan global. Oleh karena itu, setiap produk yang tampil dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas.
Inovasi INVERCI membuktikan limbah pangan dapat menjadi sumber gizi berkualitas
Bekatul dan ampas tahu selama ini lebih sering dipandang sebagai produk sampingan industri pangan. Padahal, keduanya menyimpan kandungan protein, vitamin, mineral, serta serat yang cukup tinggi.
Namun, pemanfaatannya masih menghadapi berbagai kendala. Kandungan antinutrisi, tingginya serat tidak larut, serta rendahnya tingkat kecernaan membuat kedua bahan tersebut belum banyak dimanfaatkan sebagai pangan utama.
Berangkat dari persoalan itu, tim SCU memilih pendekatan fermentasi menggunakan ragi tempe. Teknologi tersebut mengubah karakter bahan baku sehingga kandungan proteinnya meningkat, serat pangannya lebih mudah dimanfaatkan tubuh, dan kualitas gizinya menjadi lebih baik.
Hasil akhirnya bukan sekadar produk laboratorium. Tim berhasil menghasilkan bihun beras yang tetap memiliki tekstur dan cita rasa sesuai kebiasaan masyarakat Indonesia.
Pendekatan tersebut memiliki nilai strategis. Banyak inovasi pangan gagal diterima pasar karena memaksa konsumen mengubah pola makan. Sebaliknya, INVERCI justru mempertahankan bentuk pangan yang sudah akrab di meja makan masyarakat.
Jonathan Halim Sugianto menjelaskan satu porsi produk tersebut mampu memenuhi hampir 90 persen kebutuhan serat harian. Selain itu, kandungan proteinnya juga mampu memenuhi lebih dari separuh kebutuhan protein orang dewasa.
Artinya, peningkatan nilai gizi diperoleh tanpa mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat. Pendekatan seperti ini sering menjadi faktor penting dalam keberhasilan sebuah inovasi pangan ketika memasuki pasar.
Persoalan stunting menjadi alasan utama lahirnya riset mahasiswa SCU
Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat. Meski angka stunting terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, jutaan anak masih membutuhkan akses terhadap pangan bergizi dengan harga terjangkau.
Kondisi tersebut mendorong mahasiswa SCU mencari solusi yang realistis. Mereka tidak hanya mengejar kandungan nutrisi tinggi. Sebaliknya, mereka juga memikirkan harga produksi agar tetap dapat dijangkau masyarakat.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak cukup berhenti pada teknologi. Produk harus mampu diproduksi secara ekonomis agar benar-benar memberi dampak sosial.
Di sisi lain, pemanfaatan bekatul dan ampas tahu juga membuka peluang baru bagi sektor usaha kecil maupun industri pengolahan pangan. Bahan baku yang sebelumnya bernilai rendah dapat memperoleh nilai ekonomi lebih tinggi melalui proses fermentasi.
Berdasarkan analisis tim data Headline Indonesia, pendekatan seperti ini memperlihatkan perubahan cara berpikir dalam dunia riset pangan. Fokusnya tidak lagi hanya menghasilkan makanan baru, tetapi juga menciptakan sistem produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Karena itu, inovasi mahasiswa SCU memiliki nilai lebih dibanding sekadar produk kompetisi. Mereka menghadirkan solusi yang menyentuh persoalan kesehatan, lingkungan, dan ekonomi secara bersamaan.
Ekonomi sirkular menjadi kekuatan utama di balik pengembangan produk
Dunia kini menghadapi tantangan besar berupa limbah pangan yang terus meningkat. Banyak bahan bergizi berakhir sebagai limbah karena belum tersedia teknologi pengolahan yang memadai.
Bekatul dan ampas tahu merupakan contoh nyata kondisi tersebut. Keduanya tersedia dalam jumlah besar setiap hari. Namun, pemanfaatannya masih sangat terbatas.
Melalui fermentasi, kedua bahan itu memperoleh fungsi baru sebagai bahan pangan bernilai tinggi. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong penggunaan kembali sumber daya agar tidak terbuang sia-sia.
Selain mengurangi limbah, strategi itu juga berpotensi menekan emisi gas rumah kaca. Semakin sedikit limbah organik yang terbuang, semakin kecil pula emisi yang dihasilkan selama proses pembusukan.
Di sisi lain, biaya produksi juga dapat ditekan karena bahan baku berasal dari produk sampingan industri. Kondisi ini membuka peluang terciptanya pangan bergizi dengan harga yang lebih kompetitif.
Bagi Indonesia yang memiliki industri tahu dalam jumlah besar, peluang tersebut sangat menjanjikan. Pasokan bahan baku relatif stabil sehingga produksi dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Prestasi internasional membuka jalan kolaborasi riset dan industri
Masuknya SCU sebagai enam finalis terbaik dunia memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar prestasi akademik. Ajang internasional seperti IFT FIRST menjadi ruang bertemunya kampus, investor, perusahaan pangan, dan lembaga riset dari berbagai negara.
Kesempatan tersebut memungkinkan inovasi mahasiswa memperoleh masukan teknis sekaligus peluang komersialisasi. Jika mampu dikembangkan lebih lanjut, produk seperti INVERCI berpotensi memasuki pasar yang lebih luas.
Kolaborasi semacam ini juga penting bagi perguruan tinggi Indonesia. Banyak hasil penelitian kampus sebenarnya memiliki kualitas tinggi. Akan tetapi, tidak semuanya berhasil menjangkau industri karena minimnya jejaring internasional.
Keberhasilan tim SCU membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing melalui kualitas riset. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menawarkan solusi yang relevan terhadap tantangan pangan global.
Sorotan utama Headline Indonesia pekan ini bukan hanya tentang kemenangan di kompetisi. Yang lebih penting adalah lahirnya optimisme bahwa riset kampus dapat menjadi bagian dari solusi nyata bagi masyarakat.
Dampaknya tidak berhenti pada penghargaan, tetapi dapat mengubah masa depan pangan Indonesia
Jika inovasi seperti INVERCI berhasil diproduksi secara luas, manfaatnya dapat dirasakan banyak pihak. Masyarakat memperoleh akses terhadap pangan bergizi dengan harga lebih terjangkau.
Pelaku industri juga memperoleh alternatif pemanfaatan limbah yang sebelumnya kurang bernilai. Sementara itu, pemerintah dapat memperkuat program penanganan stunting melalui pendekatan berbasis inovasi lokal.
Selain itu, keberhasilan mahasiswa SCU memberikan pesan penting kepada dunia pendidikan. Kampus tidak hanya menjadi tempat menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga pusat lahirnya solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, dukungan terhadap riset mahasiswa perlu diperkuat melalui pendanaan, kolaborasi industri, dan kebijakan yang mempercepat hilirisasi hasil penelitian. Tanpa langkah tersebut, banyak inovasi berpotensi berhenti di ruang laboratorium.
Catatan Editorial Headline Indonesia
Prestasi tim FTP Soegijapranata Catholic University memperlihatkan bahwa masa depan pangan Indonesia tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit atau bahan baku mahal. Terkadang, jawabannya justru berasal dari keberanian melihat potensi pada sesuatu yang selama ini dianggap limbah.
Ketika inovasi mampu menyelesaikan persoalan gizi, menekan limbah, menjaga harga tetap terjangkau, dan membuka peluang ekonomi baru, riset tidak lagi menjadi milik kampus semata. Ia berubah menjadi investasi sosial yang dapat menentukan kualitas generasi Indonesia pada masa mendatang.
Editor : Frend




